Breaking News:

Siap-siap, Pertamina Sedang Mengkaji untuk Menghapus Pertalite dan Premium

Ke depannya akan ada penggantian untuk memakai energi yang lebih bersih. Namun, tentunya langkah ini butuh persiapan

Siap-siap, Pertamina Sedang Mengkaji untuk Menghapus Pertalite dan Premium
Gani Kurniawan
Seorang petugas menyeting harga bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax saat akan mengisi kendaraan bermotor di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Senin (2/4). Pasca kenaikan harga pertamax dari Rp 9.850 menjadi Rp 10.300 per liter dan pertamax plus dari Rp 10.050 menjadi Rp 10.400 per liter di SPBU ini, pemilik kendaraan bermotor yang biasa menggunakan bahan bakar jenis ini masih tetap normal.

TRIBUNJABAR.ID - Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) beroktan rendah di bawah 91, yaitu premium dan pertalite, sedang ditinjau kembali oleh PT Pertamina (Persero).

Peninjauan itu dilakukan sebagai upaya perusahaan dalam mendukung rencana pemerintah untuk menekan emisi gas rumah kaca sesuai Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2017.

“Pada peraturan tersebut diisyaratkan bahwa gasoline yang dijual minimum RON 91,” ujar Direktur Pertamina Nicke Widyawati dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII, Senin (31/8/2020).

Artinya, ada dua produk BBM yang kemudian tidak boleh lagi dijual di pasar, yaitu premium (88) dan pertalite (90).

Rencana ini perlu ditinjau kembali karena porsi konsumsi premium dan pertalite paling besar di antara enam jenis BBM yang dijual perusahaan.

Pada 22 Agustus 2020, penjualan premium mencapai 24.000 kiloliter (KL) dan pertalite 51.500 KL.

Adapun penjualan BBM dengan RON di atas 91, yaitu pertamax (92), hanya sebesar 10.000 KL.

Sementara Pertamax Turbo (98) cukup 700 KL.

"Maka, ini perlu dikaji lagi dampaknya bagaimana. Kami juga dorong supaya konsumsi orang yang mampu beralih ke BBM yang ramah lingkungan," ujar Nicke.

Menurut dia, di kawasan Asia saat ini yang masih mengonsumsi BBM setara premium hanya Indonesia dan Bangladesh.

Di level dunia, ada lima negara lain, yakni Kolombia, Mesir, Mongolia, Ukraina, dan Uzbekistan.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan, pihaknya beserta kementerian terkait sedang gencar untuk mendorong masyarakat beralih menggunakan BBM yang ramah lingkungan atau di atas RON 91 supaya mengurangi emisi karbon.

Indonesia saat ini termasuk satu dari enam negara yang masih mengonsumsi premium.

“Ke depannya akan ada penggantian untuk memakai energi yang lebih bersih. Namun, tentunya langkah ini butuh persiapan,” kata dia, belum lama ini.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pertamina Berencana Hapus Premium dan Pertalite dari Pasaran"

Editor: Agung Yulianto Wibowo
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved