Mengapa Kasus Perceraian di Bandung Sangat Tinggi? Ini Penjelasan Bupati
Selain di Kabupaten Bandung, peningkatan angka perceraian pada masa pandemi Covid-19 juga terjadi di hampir semua wilayah di Jawa Barat.
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kabupaten Bandung dibanjiri kasus perceraian.
Bahkan selama pandemi corona, angka perceraian naik.
Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, pada bulan Juli terdapat 1102 kasus perkara yang masuk ke Pengadilan Agama Soreang, sedangkan sebelum adanya pandemi biasanya perbulan terdapat sekitar 800 kasus.
Bupati Bandung, Dadang M Naser, mengatakan ada beberapa yang menjadi anekdot saat lockdown (akibat adanya pandemi Covid 19).
"Ketika dilockdown angka kelahiran meningkat, jumlah ibu hamil meningkat," ujar Dadang, di Gedung Moh Toha, Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (26/8/2020).
Namun, kata Dadang, tidak kurang juga terdapat pertengkaran karena pendapatan (berkurang).
"Itu bukan di kita saja (Kabupaten Bandung) diberbagai tempat juga," kata Dadang.
Dadang mengungkapkan, dengan begitu, peran ulama harus turun tangan memberikan nilai-nilai religi agar (masyarakat) tetap sabar dalam menghadapi bencana seperti ini.
"Tidak mengambil jalan pintas, seperti gugat cerai, atau terjadi perceraian," tuturnya.
Menurut Dadang, logikanya di Kabupaten Bandung terdapat sekitar 3,7 juta jiwa.
"Ketika ada permasalahan ini (banyak perceraian) seolah-olah menonjol, itupun jadi bagian perhatian kami," ucapnya.
Antreannya Panjang
Sejak pandemi corona menyerang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat kebanjiran janda-janda baru.
Itu terjadi karena setiap bulan ada lebih dari seribu kasus perceraian.
Banjir kasus perceraian ini sudah terjadi sejak Maret silam atau ketika pandemi corona mulai menyerang Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/pengadilan-agama-kabupaten-sumedang.jpg)