Kamis, 9 April 2026

Suami Nikah lagi Anak Terganggu Jiwanya

Kejari Garut Beri Bantuan untuk Pengobatan Aan Supartini

Aan harus berjalan puluhan kilometer untuk mengais rezeki di jalanan Garut guna menghidupi anak-anaknya.

Penulis: Firman Wijaksana | Editor: Adityas Annas Azhari
Tribun Jabar
Aan Supartini, mendapat bantuan dari Kejari Garut setelah kesulitan mendapatkan perawatan di rumah sakit karena stroke, Senin (24/8/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman WIjaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Tak banyak yang bisa dilakukan Aan Supartini, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di bantaran rel Kampung Pedes, Kelurahan Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul.

Saat ditemui, ia hanya bisa duduk di rumah. Di dinding depan rumah, sudah ada cap jika Aan penerima program keluarga harapan (PKH).

Sudah bertahun-tahun ia menderita penyakit stroke tanpa mendapatkan tindakan medis yang maksimal, karena keterbatasan ekonomi. Dulunya, Aan berprofesi sebagai pengamen berkeliling

Ia harus berjalan puluhan kilometer untuk mengais rezeki di jalanan Garut  guna menghidupi anak-anaknya.

Suaminya, diketahui sudah menikah lagi, sehingga ia harus hidup mandiri. Sudah lebih dari lima tahun ia menderita stroke.

Pendamping PKH Kelurahan Jayawaras, Anggit, mengatakan, sebelum mengalami stroke, Aan sempat mengalami stres berat seusai anak perempuannya mengalami gangguan jiwa setelah pulang dari Jakarta.

"Jadi anaknya dulu memang ada yang mempekerjakan di Jakarta. Saat pulang tiba-tiba ada perubahan yang sangat drastis, bisa dikatakan gangguan jiwa," ucap Anggit.

Anggit menyebut, putri Aan seperti jadi korban traficking atau penjualan manusia. Anaknya yang tengah hamil bahkan sampai menggugurkan kandungan.

"Anak bu Aan ini dijual di Jakarta dan bisa kabur ke Garut saat disuruh membeli rokok sama majikannya. Tapi pas pulang ke Garut mengalami gangguan jiwa," ujarnya.

Meski mengalami gangguan jiwa, Aan sempat mengurus anak perempuannya itu. Aan kerap mendengar anaknya meracau. Rupanya kondisi itu membuat pikiran Aan terganggu sehingga stres berat, dan terkena stroke.

Aan tak bisa mencari nafkah. Ia tinggal di rumah berukuran 4x4 meter tanpa kamar mandi dan toilet. Untuk makan, ia mengandalkan pemberian dari warga sekitar yang peduli kepadanya.

Di rumahnya, Aan tinggal bersama anak laki-lakinya yang bernama Rudi dan berprofesi sebagai pemulung. Anaknya yang gangguan jiwa diurus oleh istri Ketua RW kampungnya.

Sedangkan yang lainnya tinggal bersama mertua Aan yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.

“Kalau sekarang rumah ibu Aan sudah layak ditempati dan ada kamar mandi juga toiletnya setelah dibersihkan oleh warga kampung sini," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved