Minggu, 26 April 2026

Kisah di Balik Pengetikan Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI, Suasananya Begitu Mencekam

Sayuti Melik, sosoknya dikenal sebagai pengetik naskah proklamasi yang disusun Ir Soekarno pada 16 Agustus 1945,

Penulis: Mega Nugraha | Editor: Ichsan
Kolase Tribun Jabar
proklamasi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG - Sayuti Melik, sosoknya dikenal sebagai pengetik naskah proklamasi yang disusun Ir Soekarno pada 16 Agustus 1945, sehari sebelum naskah Proklamasi 17 Agustus 1945‎ dibacakan.

Buku berjudul Wawancara Arief Suyudi dengan Sayuti Melik yang diterbitkan CSIS‎ pada 1986 mengulas peristiwa sebelum proklamasi, salah satunya sejak 15 Agustus 1945.

Sayuti Melik sempat dipenjara oleh pemerintah kolonial Jepang karena aktivitasnya untuk memerdekakan Indonesia. Dia ditahan di Penjara Ambarawa kemudian dibebaskan.

"Saya baru bertemu Bung Karno pada 15 Agustus petang di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur. Sesudah kurang lebih dua jam Bung Karno mengajak saya berbincang, waktu sudah malam. Datanglah beberapa pemuda yang ingin bertemu Bung Karno. Yang saya kenal betul di antara pemuda itu adalah Wikana," ucap Sayuti Melik.

Geng Motor Keroyok Warga Tak Bersalah di Kota Tasikmalaya, Warung dan Sepeda Motor juga Dirusak

Wikana adalah salah satu pemuda yang menculik Bung Karno dan Moh Hatta ke Rengasdengklok, Karawang. Para pemuda itu mendesak Bung Karno agar segera memerdekakan Indonesia.

"Singkatnya dalam pembicaraan itu pemuda menyampaikan berita pada Bung Karno bahwa Jepang sudah menyerah pada sekutu 15 Agustus. Mereka (pemuda) mendesak Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan pada malam hari itu atau esok harinya," ucap dia.

Perdebatan Bung Karno dan Bung Hatta malam itu berlangsung sengit. Para pemuda tetap memaksa sedangkan si bung tetap bersikikuh untuk bersabar. Bahkan, Bung Hatta kata Wikana, sempat menanggapi dengan keras.

Ia menyebut, Bung Hatta meresponnya dengan mengatakan, 'Kalau saudara berkeyakinan demikian, proklamasikanlah sendiri kemerdekaan itu, jangan orang lain dipaksa. Kami sudah punya rencana sendiri'.

Persib Bandung Boleh Pakai Stadion GBLA tapi Begini Status Hukum Terakhir Stadion di Gedebage Itu

"Pagi harinya, Bung Karno dan Bung Hatta dibawa pergi oleh beberapa pemuda. Tapi‎ saya sendiri tidak menyaksikan peristiwanya sebab saya tidur pulas. Saya baru tahu mereka dibawa ke Rengasdengklok dari Dr Muwardi dan baru kembali ke Jakarta pada 16 Agustus,"ucap Sayuti Melik.

Sepulangnya dari Rengasdengklok, Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo menyusun konsep naskah proklamasi. Kata dia, dalam proses penyusunan naskah, yang banyak bicara yakni Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo.

Sedangkan Bung Karno menulis. Coretan-coretan tangan Bung Karno pada konsep naskah yang ditulisnya hasil perundingan mereka bertiga.

Setelah selesai, konsep berupa tulisan tangan Bung Karno dibacakan di hadapan para hadirin wakil bangsa‎. Namun, golongan pemuda sempat mendebat alot. Lobi-lobi pun dilakukan. Dia mewakili Bung Karno. Sayuti pun mengusulkan pendapat.

Jenazah Yance akan Dimakamkan di Halaman Belakang Rumahnya di Indramayu

"Timbul pemikiran saya, jika naskah proklamasi kemerdekaanitu ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta saja atas nama Bangsa Indonesia. Tentu semua pihak akan menerima dengan baik. Pemikiran saya itu lalu saya tawarkan kepada smeua pihak dan ternyata bisa diterima," ucapnya.

"Setelah mendengar usul demikian, Bung Karno lalu menyuruh saya untuk mengetik (naskah proklamasi) nya. Perintahnya, Ti, Ti, tik, tik!," ucap Sayuti, menirukan perintah Bung Karno.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved