Breaking News

Di Masa Pandemi Covid-19, Ada 475 Kasus DBD di Sumedang, Dinkes Langsung Penyelidikan Epidemiologi

Dinkes Sumedang telah melakukan penyelidikan Epidemiologi menyusul banyaknya kasus penyakit Demam Berdarah Dengue ( DBD) di masa pandemi Covid-19

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Dedy Herdiana
Pixabay
Di Masa Pandemi Covid-19, Ada 475 Kasus DBD di Sumedang, Dinkes Langsung Penyelidikan Epidemiologi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang telah melakukan penyelidikan Epidemiologi menyusul banyaknya kasus penyakit Demam Berdarah Dengue ( DBD) di masa pandemi Covid-19, sepanjang tahun 2020 ini.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Uyu Wahyudin mengatakan, penyelidikan epidemiologi tersebut dilakukan untuk menentukan langkah selanjutanya dalam menangani kasus penyakit DBD.

"Penyelidikan epidemiologi itu agar penanganannya ( DBD) lebih tepat, akurat dan cepat," ujarnya saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Jalan Kutamaya, Selasa (11/8/2020).

Update Covid-19 Jabar, Bandung Sumbang Kenaikan Kasus Tertinggi Sebanyak 85 Kasus

Tahun 2020 Ada 475 Kasus DBD di Sumedang, 5 Orang Meninggal Dunia

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, dari total jumlah sebanyak 475 kasus itu rinciannya, pada Januari ada 52 kasus, Februari 56, Maret 114, April 47, Mei 53, Juni 73, Juli 57, dan Agustus 13 kasus.

Sementara untuk kasus meninggal dunia akibat penyakit DBD tersebut terjadi pada Januari dengan jumlah 2 orang dan pada Mei 2020 ada 3 orang yang meninggal dunia akibat penyakit dari nyamuk Aedes Aegypti tersebut.

"Total jumlah kasus DBD sepanjang tahun 2020 secara keseluruhan dari Januari hingga Agustus ada 475 kasus," kata Uyu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendaliaan Penyakit, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Reny K Anton, menambahkan, kasus DBD tahun 2020 ini paling banyak terjadi di Kecamatan Jatinunggal, Ujungjaya, Sumedang Selatan, Darmaraja, dan Haurngombong.

"Jadi, lebih penting dilakukan pencegahan dan pengendalian DBD dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara berkesinambungan dan menyeluruh dengan peran aktif dari masyarakat," katanya.

Selain itu, kata Reny, untuk mencegah lebih banyaknya kasus DBD ini, perlu adanya gerakan satu rumah satu jumantik (Girij), Fogging serta kajian epidemiologi dengan hasil jentik positif dan angka bebas jentik (ABJ) sebannyak 95 persen.

"Itu untuk kewaspadaan dini DBD, tapi yang paling efektif hanya PSN supaya jumlahnya tidak semakin meningkat. Jadi, Antisipasi kita adalah dengan PSN secara massal dan bersamaan," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved