Kamis, 11 Juni 2026

Kisah Penangkapan Bung Karno serta Kesehariannya di Penjara Banceuy dan Sukamiskin

Ir Soekarno, Presiden RI Pertama, kiprah pergerakannya bersama kawan-kawan memerdekakan Indonesia

Tayang:
Penulis: Mega Nugraha | Editor: Ichsan
tribunjabar/mega nugraha
Kamar tahanan Bung Karno di Penjara Banceuy, Kota Bandung, yang kini diapit oleh pertokoan 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG - Ir Soekarno, Presiden RI Pertama, kiprah pergerakannya bersama kawan-kawan memerdekakan Indonesia tidak lepas dari Kota Bandung.

Soekarno, kuliah di Institut Teknologi Bandung pada 1920 hingga 1926. Saat itu, ITB masih bernama Tehcnische Hoogeschool

Selama di Kota Bandung itupula, pada 1927, saat usianya masih di bawah 30 tahun, ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) bersama kawan-kawannya, seperti Dr Tjipto Mangunkusumo dan lainnya. Bersama PNI, ia memulai perlawanannya pada pemerintah kolonial.

Dua tahun mengembangkan PNI, ia lantas ditangkap pemerintah kolonial. Kisah penangkapannya diceritakan oleh Raden Gatot Mangkoepradja, dalam buku Risalah Bung Karno Dihukum 4 tahun, penerbit E.M Dachlan.

Kisah itu juga dikutip di buku Bung Karno di hadapan Pengadilan Kolonial karangan HA Notosoetardjo, buku koleksi Perpustakaan Dinas Sejarah TNI di Jalan Manado. Buku tersebut masih menggunakan ejaan lama.

5 Fakta Air Panas di Gunung Tikukur, Keluar dari Bebatuan di antara 2 Pohon, Ini Penjelasan Ahli

Bekas kamar tahanan yang pernah dihuni Soekarno di Lapas Sukamiskin. Kamarnya berada di blok utara kamar nomor TA 01. Ruangannya berukuran sekira kurang dari 5 meter persegi. Foto diambil pada Jumat (20/12/2019).
Bekas kamar tahanan yang pernah dihuni Soekarno di Lapas Sukamiskin. Kamarnya berada di blok utara kamar nomor TA 01. Ruangannya berukuran sekira kurang dari 5 meter persegi. Foto diambil pada Jumat (20/12/2019). (Tribun Jabar/Mega Nugraha)

Gatot Mangkoepradja merupakan tokoh PNI yang turut dijerat pidana bersama Bung Karno oleh pemerintah kolonial.

"Tanggal 26 Desember 1929, pagi hari lebih kurang jam 5, kami, Bung Karno, Zus Inggit (Inggit Garnasih), Maskoen, Mang Ojib dengan berkendaraan satu auto taxi Chevrolet Touring kepunyaan sdr Suhada menuju ke Kota Solo," tulis Gatot mengawali kisahnya.

Kepergian mereka ke Kota Solo untuk mendirikan suatu Badan Permufakatan pada 27 Desember 1929.

"Tanggal 27 Desember 1929, dilangsungkan permusyawaratan. Selesai pertemuan, kami kembali menuju Djokja (Yogyakarta) ke rumah sdr Mr Sujudi dimana kami bermalam," ujarnya.

Mereka kemudian dikejutkan oleh kedatangan para petugas dari pemerintah kolonial saat sedang terlelap di rumah Sujudi, di Yogyakarta.

"Tiba-tiba kira-kira jam 5 pagi, pintu digedor-gedor dengan kerasnya dan setelah kami buka, maka seorang komisaris Belanda dengan suara membentak-bentak sambil mendorong denganpistol, menjuruh kami keluar. Beberapa agen polisi menyerbu kamar dan membeslah semua barang dan buku, surat kabar, phototoestel dan lain-lain," kata Gatot.

Saat itu, mereka digelandang secara terpisah. Sampai-sampai, ia tidak mengetahui nasib Soekarno dan istrinya, Inggit Garnasih.

"Kami dibawa ke penjara Mergangsan dan harus menanti di sebuah kamar dengan penjagaan ketat. Tidak berapa lama, kemudian tibalah Bung Karno," katanya.

Isu Skandal Kelapa Gading, 7 Akun Facebook Dilaporkan Ketua DPRD Indramayu ke Polisi

Suasana di depan pintu Lapas Sukamiskin, Kota Bandung
Suasana di depan pintu Lapas Sukamiskin, Kota Bandung (tribunjabar/syarif pulloh anwari)

Mereka kemudian dimasukan ke dalam sel besar di bawah pohon beringin.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved