WASPADA, 1.436 Hewan Kurban di Kota Bandung Tidak Sehat dan Tidak Layak Kurban

Menjelang Iduladha 1441 hijriah, Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung terus memeriksa ante mortem

Tribuncirebon.com/Eki Yulianto
Pemeriksaan hewan kurban 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Menjelang Iduladha 1441 hijriah, Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung terus memeriksa ante mortem kesehatan dan kelayakan dari setiap hewan kurban.

Hasilnya, berdasarkan data perkembangan pemeriksaan petugas di berbagai titik lokasi penjualan di Kota Bandung hingga Senin (27/7/2020), telah ditemukan sebanyak 1.436 ekor atau 12,6 persen hewan kurban dengan kondisi tidak sehat dan tidak layak jual.

Jumlah tersebut, dimungkinkan akan terus bertambah seiring upaya pemeriksaan yang intensif dilakukan hingga H+3.

Kepala Bidang Peternakan Dispangtan Kota Bandung, Sri Rezeki mengatakan, sejumlah hewan tidak sehat dan layak tersebut, ditemukan berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 12.826 ekor hewan kurban, dengan rincian 3.828 ekor sapi, 8.978 ekor domba, dan 20 ekor kambing.

Kepala Desa Gantung Diri, Ada Surat untuk Istri, Pesan: Lebih Baik Dosa Sekali Daripada Bohong Terus

"Berdasarkan hasil pemeriksaan petugas hingga kemarin, jumlah hewan kurban yang tidak sehat dan tidak layak meliputi 175 ekor sapi, 1.257 ekor domba, dan empat ekor kambing. Sedangkan, untuk jumlah hewan sehat dan layak berjumlah 3.653 ekor sapi, 7.721 ekor domba, dan 16 ekor ekor domba," ujarnya melalui sambungan telepon. Selasa (28/7/2020)

Sri menuturkan, hewan tidak sehat dan tidak layak telah diidentifikasikan dengan berbagai kondisi di antaranya, cacingan, sakit mata, diare, sakit kulit, cacat, patah kaki, belum cukup umur, hingga hewan kurban yang dijual berjenis kelamin betina.

Menurutnya, ratusan hewan tersebut, selain tidak memperoleh kalung sehat dan layak dari Dispangatan, tetapi juga pihaknya menandai hewan tersebut dengan menggunakan cairan semacam antibiotik yang diseprotkan kepada bulu atau punggung dari hewan kurban tersebut, serta meminta kepada penjual agar memisahkan hewan kurban tersebut agar tidak dijual hingga benar-benar sembuh.

2 Orang Positif Covid-19 di Losari Cirebon, Membuat 155 Orang Harus Ikuti Swab Test, Begini Hasilnya

"Tentunya selain tidak diberikan kalung sehat dan layak, hewan-hewan kurban yang tidak memenuhi syarat, kami minta pisahkan dari kelompok hewan kurban yang lain. Bagi hewan kurban yang sakit, seperti sakit mata, demam, dan beberapa gangguan kesehatan ringan lainnya setelah diobati ternyata sembuh, maka kami perkenanankan untuk kembali dipasarkan, tentunya setelah dilakukan pemeriksaan ulang oleh petugas kami," ucapnya.

Selain memeriksa kondisi kesehatan dan kelayakan hewan kurban, lanjutnya para petugas pun memeriksa kesiapan para pedagang dalam penerapan protokol kesehatan di lokasi penjualan.

"Kami terus ingatkan kepada para penjual hewan kurban untuk senantiasa mematuhi aturan protokol kesehatan secara konsisten dalam aktivitas transaksi dengan para pembeli, minimal sebagai upaya membantu pemerintah percepatan penanganan covid-19 di Kota Bandung, jadi mereka harus menyiapkannya, minimal kalau tidak ada air yang mengalir, bisa siapkan ember berisi air bersih juga gayung dan sabun cuci tangan. Bagi penjual yang tidak menyiapkan itu (sarana protokol kesehatan) di lokasi penjualannya, maka terpaksa kami tunda dulu pemeriksaannya," ujar Sri.

Sri menambahkan, hingga H-3 Iduladha 1441 H, jumlah kalung sehat dan layak yang telah dipasangkan kepada hewan ternak hasil pemeriksaan, sebanyak 12.826 buah dari total 30 ribu kalung yang telah disediakan pihaknya. Dengan total jumlah lokasi yang sudah dilakukan pemeriksaan 225 titik di berbagai wilayah di Kota Bandung.

Penulis: Cipta Permana
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved