Kim Jong Un Langsung Lockdown Satu Kota setelah Ada Satu Warganya yang Tunjukkan Gejala Covid-19

Bila hasil tes warga tersebut positif, maka akan menjadi kasus pertama virus korona di Korut sejak dimulainya pandemi global.

Editor: Ravianto
KCNA via Sky News
Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un. 

Awal tahun ini, negara itu menutup hampir semua lalu lintas lintas batas.

Ia juga melarang turis asing dan memobilisasi petugas kesehatan untuk mengkarantina siapa pun yang memiliki gejala.

Kim sebelumnya mendesak para pejabat untuk tetap waspada terhadap ancaman virus corona.

Ia memperingatkan risiko berpuas diri dari krisis yang tak terbayangkan dan tidak dapat diperbaiki ini.

Para ahli asing mengatakan wabah virus corona di Korea Utara dapat menyebabkan konsekuensi yang mengerikan.

Sebab, infrastruktur perawatan kesehatan masyarakat yang buruk dan kurangnya pasokan medis.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) menandatangani buku tamu di sebelah saudara perempuannya Kim Yo Jong (kanan) selama KTT Antar-Korea dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di gedung Peace House di sisi selatan desa Panmunjom pada tanggal 27 April 2018
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) menandatangani buku tamu di sebelah saudara perempuannya Kim Yo Jong (kanan) selama KTT Antar-Korea dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di gedung Peace House di sisi selatan desa Panmunjom pada tanggal 27 April 2018 (Korea Summit Press Pool / AFP)

Kaesong diperkirakan memiliki populasi 200.000 dan terletak tepat di utara perbatasan darat dengan Korea Selatan.

Bulan lalu, Korea Utara meledakkan kantor penghubung antar-Korea di Kaesong sebagai protes pada kampanye aktivis Korea Selatan yang telah mengirim selebaran anti-Pyongyang melintasi perbatasan.

Pemerintah Korea Selatan belum mengomentari pengumuman Korea Utara ini.

"Menyalahkan seorang pembelot yang kembali karena membawa COVID-19 ke negara itu, kemungkinan dimaksudkan untuk mengalihkan kesalahan atas penyebaran virus menjauh dari Cina dan Pyongyang dan ke Seoul."

"Ini juga bisa menjadi taktik untuk meningkatkan tekanan diplomatik pada (Korea Selatan) dan berusaha untuk lebih lanjut mencegah Korea Utara dari membelot ke Korea Selatan," ujar Leif-Eric Easley, seorang profesor di Universitas Ewha di Seoul.

(Tribunnews.com/Maliana)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved