Penyakit Jantung Rentan Terinfeksi Corona
Para pakar kesehatan telah memperingatkan bahwa pasien-pasien dengan penyakit penyerta seperti diabetes, jantung, stroke, alergi, penyakit autoimun
Penulis: Siti Fatimah | Editor: bisnistribunjabar
Langkah yang harus dilakukan di masa pandemi ini tentunya harus ditentukan oleh pasien serta dokternya. Tidak dipungkiri, di masa pandemi ini beberapa dokter di sebagian rumah sakit, mengurangi jam pelayanan di poliklinik rumah sakit. Jika rumah sakit tempat anda rutin kontrol masih mebuka layanan poliklinik, lebih baik anda menghubungi mereka dan tanyakan apakah anda harus hadir untuk konsultasi atau tidak.
Beberapa rumah sakit saat ini telah mengadakan telemedicine atau telekonsultasi, dimana pasien dapat berkonsultasi dengan dokter melalui telepon atau melalui obrolan video online jika memungkinkan. Namun, perlu digarisbawahi bahwa telekonsultasi ini tidak dapat diberlakukan pada semua kondisi, dimana pada kondisi tertentu (terutama pada konsultasi pertama/awal) kunjungan tatap muka masih tetap diperlukan.
Bila anda tetap khawatir untuk ke rumah sakit, atau dokter anda tidak membuka layanan rawat jalan dan anda tidak ada keluhan baru. Maka lanjutkan pengobatan rutin anda, persis seperti yang telah diresepkan sebelumnya. Penghentian atau pengubahan, baik jenis ataupun dosis obat, bisa sangat berbahaya karena dapat memperburuk kondisi anda. Jika ragu, hubungi dokter atau rumah sakit anda, namun jangan membuat perubahan apapun sebelum konsultasi dengan mereka.
Bagi anda yang ingin berobat ke Rumah Sakit baik itu untuk kontrol atau karena keluhan anda bertambah berat, saat ini tidak perlu lagi ragu untuk datang ke Rumah sakit, karena setiap rumah sakit sudah memiliki dan mengikuti standar protokol kesehatan yang dijalankan untuk menghindari dan memutus rantai penularan penyakit di Rumah sakit.
PERKEMBANGAN PENYAKIT JANTUNG SAAT PANDEMI
Terhitung sejak maret 2020 COVID 19 telah mencapai level pandemik sehingga memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan global. Selain mempengaruhi sistem pernafasan, Covid 19 juga memiliki dampak besar terhadap sistem kardiovaskular, sehingga angka kejadian penyakit jantung seperti kelainan irama jantung, gagal jantung maupun sindroma koroner akut jelas meningkat selama masa pandemi ini. Penurunan tekanan darah, peradangan otot jantung, gangguan irama jantung serta kematian jantung mendadak adalah komplikasi yang paling sering dilaporkan terjadi pada pasien yang telah terdiagnosis Covid 19.
Ada gejala barukah yang mengindikasikan seseorang terkena penyakit jantung?
Covid 19 dapat menyebabkan peradangan pada otot jantung dimana hasil laporan autopsi beberapa pasien dengan infeksi Covid 19 menunjukkan adanya peradangan otot jantung serta infiltrasi sel yang diakibatkan oleh infeksi Covid 19. Hal ini juga didukung oleh fakta adanya peningkatan kadar enzim biomarka pada pasien Covid 19 yang merupakan bukti adanya kerusakan otot jantung.
Tampilan klinis atau gejala jantung pada penderita Covid 19 bisa bervariasi, dari tampilan tanpa gejala hingga kondisi yang sakit berat. Pada umumnya pasien yang datang dengan gejala jantung dapat tampil dengan 4 gambaran klinis, yaitu :
- Nyeri atau tidak nyaman pada dada yang disebabkan oleh peradangan selaput jantung atau sumbatan pembuluh daah koroner
- Sesak nafas atau mudah lelah yang disebabkan oleh penurunan fungsi pompa jantung
- Berdebar, pingsan atau hampir pingsan yang disebabkan oleh gangguan irama jantung
- Kematian jantung mendadak
Bagaimana penanganan tepat bagi pasien jantung?
Penanganan yang tepat pada pasien jantung bergantung pada tampilan klinis atau gejala yang dirasakan oleh pasien. Berdasarkan paparan di atas sudah dijelaskan bahwa pasien dengan infeksi Covid 19 yang mengalami komplikasi jantung memiliki gejala serta tampilan klinis yang bervariasi sehingga tentunya setiap pasien akan ditangani secara berbeda. (Siti fatimah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/echo-jantung.jpg)