Penyakit Jantung Rentan Terinfeksi Corona
Para pakar kesehatan telah memperingatkan bahwa pasien-pasien dengan penyakit penyerta seperti diabetes, jantung, stroke, alergi, penyakit autoimun
Penulis: Siti Fatimah | Editor: bisnistribunjabar
TRIBUNJABAR.ID - Para pakar kesehatan telah memperingatkan bahwa pasien-pasien dengan penyakit penyerta seperti diabetes, jantung, stroke, alergi, penyakit autoimun, penderita kekebalan tubuh rendah seperti HIV/AIDS, manula, ibu hamil adalah kelompok yang rentan terserang virus corona. Untuk mengetahui bagaimana orang dengan penyakit tersebut termasuk golongan rentan, Dokter Spesialis Jantung Santosa Hospital Bandung Central, dr Dery Ariawan Soedarsono Sp JP akan mengulas salah satu penyakit penyerta tersebut, yakni jantung.
APAKAH PASIEN DENGAN PENYAKIT JANTUNG BERESIKO ATAU RENTAN TERPAPAR COVID-19?
Seperti kita ketahui, penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh Virus Sars-CoV2 , tergolong sebagai suatu penyakit baru, namun angka kejadiannya sudah mencapai level pandemi sejak Maret 2020. Data-data dan informasi yang ada mengenai Covid-19 ini, sebenarnya masih sangat terbatas dan masih terus berkembang, mengingat angka penularan masih relatif terus meningkat khususnya di beberapa negara di dunia.
Sars-Cov2 tidak hanya menyebabkan pneumonia tetapi memiliki dampak besar pada sistem kardiovaskular ( atau dikenal sebagai jantung dan pembuluh darah). Mereka dengan faktor risiko kardiovaskular seperti jenis kelamin pria, usia lanjut, diabetes, hipertensi dan obesitas serta pasien dengan penyakit jantung dan pembuluh darah dan juga pasien dengan penyakit serebrovaskular (stroke) telah diidentifikasi sebagai populasi yang rentan terhadap penyakit ini, dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas ketika menderita COVID-19.
Sebuah studi berskala besar dari Cina, yang menganalisa sebanyak 72.314 penderita Covid-19, mengatakan bahwa dari mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19, 12.8% memiliki hipertensi, 5.3% memiliki diabetes, dan 4.2% memiliki kelainan kardiovaskular. Studi lain, yang didapat dari beberapa negara bagian di Amerika Serikat melaporkan bahwa hipertensi (56,6%), obesitas (41,7%), diabetes (33,8%), penyakit jantung koroner (11,1%) dan gagal jantung (6,9%) adalah komorbiditas yang paling sering ditemukan pada penderita. Kelainan jantung yang diderita seseorang sebelumnya juga dikaitkan risiko lebih tinggi untuk timbulnya infeksi covid-19 yang berat.
Peneliti dari India, mengobservasi hubungan antara penyakit jantung dan angka kematian di masa perawatan di rumah sakit akibat Covid-19. Mereka mendapatkan bahwa beberapa faktor berhubungan tingginya angaka kematian saat perawatan yaitu: usia > 65 tahun; pasien dengan riwayat penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan aritmia jantung, penyakit paru kronik obstruktif dan perokok.
Namun, yang perlu digarisbawahi adalah semua orang berisiko untuk terkena penyakit ini, tidak hanya mereka yang memiliki kelainan jantung sebalumnya. Namun demikian, mereka dengan kelainan jantung sebelumnya mungkin lebih cenderung menunjukkan gejala infeksi atau memiliki infeksi yang lebih parah daripada yang lain. Hal ini disebabkan karena tingginya beban inflamasi akibat covid-19, yang menyebabkan perburukan dari kelainan jantung yang sudah ada.
APAKAH COVID-19 MEMPENGARUHI JANTUNG?
Virus Sars-Cov2 memiliki dampak besar pada sistem kardiovaskular. Mekanisme pasti dari keterlibatan jantung akibat Covid-19, hingga saat ini masih terus digali dan dipelajari. Kerusakan otot jantung sebagai akibat dari Covid-19 ini dapat terjadi melalui beberapa cara, seperti masuknya virus Sars-Cov2 langsung ke sel-sel otot jantung adanya badai sitokin akibat terganggunnya respon imun yang berat; terjadinya ketidakseimbangan supply dan demand dari oksigen akibat terjadinya gagal nafas dan hipotensi arteri berat.
Akibat dari beban yang berlebihan di jantung akibat dari virus ini, maka dapat terjadilah perburukan dari kondisi gagal jantung, terjadinya kerusakan otot jantung yang dikenal dengan miokarditis, serangan jantung dengan blok total ataupun sebagian pada pembuluh coroner, gangguan irama jantung, dan kondisi mengancam jiwa lainnya.
SELAIN MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN, UPAYA APA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH PENDERITA JANTUNG UNTUK MENCEGAH PENULARAN?
Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa, penderita penyakit jantung yang terinfeksi Covid-19 ini memiliki risiko tinggi terjadinya perburukan dalam masa perawatan, karena infeksi ini akan terjadi lebih berat dan mencetuskan perburukan dari penyakit jantungnya. Inilah sebabnya mengapa penderita jantung wajib secara efektif melindungi diri masing-masing dari kontak dengan subyek yang terinfeksi COVID-19, baik mereka yang dengan gejala atau tanpa gejala.
Jika Anda memiliki kondisi jantung, selain tetap menerapkan protokol kesehatan yang telah dianjurkan oleh pemerintah seperti social distancing atau jaga jarak, sering-sering cuci tangan dan juga gunakan masker, maka ada beberapa hal-hal berikut penting yang disarankan:
• Hindari orang yang sakit.
• Jaga jarak dua meter dari individu lain jika memungkinkan.
• Cuci tangan dengan sabun dan air hangat selama setidaknya 20 detik.
• Tutupi mulut Anda dengan tisu ketika Anda batuk atau batuk ke dalam siku Anda.
• Tutupi hidung Anda dengan tisu saat bersin atau gunakan bagian dalam siku.
• Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut Anda.
• Bersihkan permukaan yang sering disentuh seperti gagang pintu, gagang, roda kemudi, atau sakelar lampu, dengan desinfektan untuk menghilangkan virus.
• Tetap di rumah sebisa mungkin, termasuk bekerja dari rumah jika memang diperkenankan.
• Jika Anda demam (dimana suhu tubuh mencapai 37,8°C atau lebih), batuk atau infeksi paru-paru, Anda harus mengisolasi diri.
BAGAIMANA PASIEN MEMERIKSAKAN KESEHATAN DISAAT PANDEMI?
Langkah yang harus dilakukan di masa pandemi ini tentunya harus ditentukan oleh pasien serta dokternya. Tidak dipungkiri, di masa pandemi ini beberapa dokter di sebagian rumah sakit, mengurangi jam pelayanan di poliklinik rumah sakit. Jika rumah sakit tempat anda rutin kontrol masih mebuka layanan poliklinik, lebih baik anda menghubungi mereka dan tanyakan apakah anda harus hadir untuk konsultasi atau tidak.
Beberapa rumah sakit saat ini telah mengadakan telemedicine atau telekonsultasi, dimana pasien dapat berkonsultasi dengan dokter melalui telepon atau melalui obrolan video online jika memungkinkan. Namun, perlu digarisbawahi bahwa telekonsultasi ini tidak dapat diberlakukan pada semua kondisi, dimana pada kondisi tertentu (terutama pada konsultasi pertama/awal) kunjungan tatap muka masih tetap diperlukan.
Bila anda tetap khawatir untuk ke rumah sakit, atau dokter anda tidak membuka layanan rawat jalan dan anda tidak ada keluhan baru. Maka lanjutkan pengobatan rutin anda, persis seperti yang telah diresepkan sebelumnya. Penghentian atau pengubahan, baik jenis ataupun dosis obat, bisa sangat berbahaya karena dapat memperburuk kondisi anda. Jika ragu, hubungi dokter atau rumah sakit anda, namun jangan membuat perubahan apapun sebelum konsultasi dengan mereka.
Bagi anda yang ingin berobat ke Rumah Sakit baik itu untuk kontrol atau karena keluhan anda bertambah berat, saat ini tidak perlu lagi ragu untuk datang ke Rumah sakit, karena setiap rumah sakit sudah memiliki dan mengikuti standar protokol kesehatan yang dijalankan untuk menghindari dan memutus rantai penularan penyakit di Rumah sakit.
PERKEMBANGAN PENYAKIT JANTUNG SAAT PANDEMI
Terhitung sejak maret 2020 COVID 19 telah mencapai level pandemik sehingga memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan global. Selain mempengaruhi sistem pernafasan, Covid 19 juga memiliki dampak besar terhadap sistem kardiovaskular, sehingga angka kejadian penyakit jantung seperti kelainan irama jantung, gagal jantung maupun sindroma koroner akut jelas meningkat selama masa pandemi ini. Penurunan tekanan darah, peradangan otot jantung, gangguan irama jantung serta kematian jantung mendadak adalah komplikasi yang paling sering dilaporkan terjadi pada pasien yang telah terdiagnosis Covid 19.
Ada gejala barukah yang mengindikasikan seseorang terkena penyakit jantung?
Covid 19 dapat menyebabkan peradangan pada otot jantung dimana hasil laporan autopsi beberapa pasien dengan infeksi Covid 19 menunjukkan adanya peradangan otot jantung serta infiltrasi sel yang diakibatkan oleh infeksi Covid 19. Hal ini juga didukung oleh fakta adanya peningkatan kadar enzim biomarka pada pasien Covid 19 yang merupakan bukti adanya kerusakan otot jantung.
Tampilan klinis atau gejala jantung pada penderita Covid 19 bisa bervariasi, dari tampilan tanpa gejala hingga kondisi yang sakit berat. Pada umumnya pasien yang datang dengan gejala jantung dapat tampil dengan 4 gambaran klinis, yaitu :
- Nyeri atau tidak nyaman pada dada yang disebabkan oleh peradangan selaput jantung atau sumbatan pembuluh daah koroner
- Sesak nafas atau mudah lelah yang disebabkan oleh penurunan fungsi pompa jantung
- Berdebar, pingsan atau hampir pingsan yang disebabkan oleh gangguan irama jantung
- Kematian jantung mendadak
Bagaimana penanganan tepat bagi pasien jantung?
Penanganan yang tepat pada pasien jantung bergantung pada tampilan klinis atau gejala yang dirasakan oleh pasien. Berdasarkan paparan di atas sudah dijelaskan bahwa pasien dengan infeksi Covid 19 yang mengalami komplikasi jantung memiliki gejala serta tampilan klinis yang bervariasi sehingga tentunya setiap pasien akan ditangani secara berbeda. (Siti fatimah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/echo-jantung.jpg)