Menengok Kreativitas Pemuda Kasomalang Kulon Subang Sebagai Kampung Aquascape
Sekelompok pemuda di Gang Buud RT 05/02, Desa Kasomalang Kulon, Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Pratama
TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - Sekelompok pemuda di Gang Buud RT 05/02, Desa Kasomalang Kulon, Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang, memiliki ide kreatif untuk membangun dan mengharumkan nama daerahnya, salahsatunya melalui kreativitas seni pembuatan aquascape.
Aquascape merupakan salahsatu seni mengatur tanaman di dalam air, mulai tanaman hidup air tawar, ornamen, hingga sesuatu yang berasal dari alam, seperti batu maupun pasir. Fatwa Dwi Pamungkas (21) salahsatu scaper di desa ini.
Sudah hampir lima tahun, Fatwa menggeluti seni ini. Berawal dari hanya sekadar melihat orang-orang mengkreasikan seni aquascape, Fatwa pun langsung timbul keinginan untuk terjun langsung merangkai semua ornamen ke dalam akuarium. Dan kini bersama rekan-rekannya, seperti Yawan Kurnia (32) dan Bagas (35) serius dalam bidang aquascape di Desa Kasomalang Kulon.
Sejumlah ornamen untuk aquascape pun mereka datangkan dari berbagai daerah, hingga ada satu tanaman yang memang sengaja dipesan dari wilayah Kalimantan dengan per lempengnya Rp 25 ribu, yakni tanaman buce.
• Setelah Menewaskan Dua Emak-emak, Kawanan Tawon Masih Teror Warga Cilongkeang Tasikmalaya
"Konsep aquascape itu banyak sekali bukan nature saja, tapi ada hutan, bonsai, juga guwa. Ada kepuasan tersendiri juga ketika kita berhasil membuat aquascape," katanya, Minggu (12/7/2020) di lokasi.
Untuk satu aquascape, Fatwa menyebut dirinya bisa membuat dalam waktu dua hingga empat hari, tergantung bagaimana ukuran yang hendak dibuatnya. Waktu dua hingga empat hari ini, kata Fatwa, belum termasuk dengan menyimpan tumbuhan-tumbuhannya.
"Kalau ditambah dengan menyimpan tumbuhannya ya menunggu si getah akar itu mengering, bisa butuhkan waktu satu hingga dua minggu selanjutnya penempelan tumbuhan hidup itu," katanya seraya menyebut jika tak dikeringkan akarnya dari getah maka berdampak pada tampilan dan air akan terus jelek kualitasnya.
Aquascape berukuran 40 sentimeter, Fatwa bersama rekannya ini menghargai Rp 3 juta dan 30 sentimeter Rp 2 juta. Adapun ketika disinggung terkait kesulitan yang kerap kali dia hadapi dalam pembuatan aquascape, Fatwa menyebut kurangnya bahan atau bahan seadanya ketika membuat aquascape bertemakan nature.
"Jadi, itu menjadi tantangan sendiri buat scaper," ujarnya.
• Begini Jadinya Momen Dua Istri Didi Kempot Bertemu Pertama Kali, Yan Vellia Cium Tangan Saputri
Di tempatnya ini, Fatwa bersama rekan lainnya memiliki sejumlah bahan-bahan, seperti akar, batu, ornamen, ikan, dan lainnya. Bahkan, batu yang digunakan untuk aquascape ini memiliki empat jenis ragamnya, di antaranya batu pasir, batu erangga, batu eragon atau batu garang, dan batu fosil.
"Alhamdulillah kami juga sering ikut-ikut kontes misal di Bandung, Jakarta, dan seluruh Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Yawan Kurnia (32) yang juga di Gang Buud itu membuka kios aquascape mengakui selama pandemi ini justru sisi penjualannya meroket alias terjadi peningkatan hingga 300 persen. "Ya mungkin karena di masa pandemi banyak orang yang berdiam di rumah lantaran dilarang ke luar-luar, jadi banyak yang berkeinginan memiliki aquascape," katanya.
Dia pun mempersilakan bagi peminat aquascape yang hendak memesan aquascape berdasarkan keinginan. Yawan juga mengakui kesulitan dalam pembuatan aquascape ialah jika membuatnya itu hanya dengan bahan akar, selain itu konsep bonsai pun dirasa terdapat kesulitan karena membutuhkan beberapa akar untuk membentuknya menjadi ranting dan lainnya.
"Yang paling cocok akar untuk membuat aquascape itu, seperti akar samala, akar santiji, dan akar senggani," ujarnya yang telah membuka kios aquascape sejak 2019 ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/aquaspace.jpg)