Minggu, 24 Mei 2026

Jangan Keliru! Kenali dan Pahami Berbagai Metode Tes Virus Corona

Masih banyak masyarakat yang salah persepsi hasil dari pemeriksaan, sehingga perlu dijelaskan agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang benar

Tayang:
Istimewa

Rumah Sakit Santosa Melayani Pemeriksaan Tes Covid-19

PANDEMI corona virus atau Covid-19 di Indonesia masih terjadi hingga saat ini. Meski sejumlah daerah sudah menunjukan hasil positif dalam penanganan Covid-19, namun masih muncul kasus baru. Meski pandemi sudah beberapa bulan ini, namun masih ada masyarakat yang belum paham benar tentang virus ini termasuk penanganannya. Masih muncul pertanyaan-pertanyaan seputar pemeriksaan tes Covid-19.

Dr. Sunaryati Sudigdoadi, dr. SpMK(K), MS 
Ketua Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (KPPI) & Penanggung Jawab Lab. Mikrobiologi RS Santosa Bandung Sentral
Dr. Sunaryati Sudigdoadi, dr. SpMK(K), MS Ketua Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (KPPI) & Penanggung Jawab Lab. Mikrobiologi RS Santosa Bandung Sentral (Istimewa)

Terlebih sejak adanya kelonggaran aktivitas seperti mulai dibukanya lagi mall, cafe, dan diijinkannya operasional angkutan umum. Masyarakat yang ingin naik sejumlah transportasi umum salah satu syaratnya harus menyertakan surat bebas Covid-19. Disinilah masih muncul pertanyaan-pertanyaan seperti apa perbedaan rapid test dengan swab test dan pertanyaan lain seputar tes Covid-19 ini.

Karena itulah, kali ini Tribun Health ingin membahas seputar pemeriksaan Covid-19. Sebagaimana sudah dipublikasikan bahwa Santosa Hospital Bandung Central dan Santosa Hospital Bandung Kopo menjadi rumah sakit rujukan kedua atau rumah sakit penyangga penanganan pasien suspect Covid-19. Penunjukan tersebut menjadikan rumah sakit ini siap dengan fasilitas laboratorium termasuk sarana dan prasarana pendukung untuk penanganan Covid-19.

Dr. Sunaryati Sudigdoadi, dr. SpMK(K), MSKetua Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (KPPI) & Penanggung Jawab Lab. Mikrobiologi RS Santosa Bandung Sentral mengatakan, saat ini telah berkembang informasi dimasyarakat tentang berbagai pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi oleh virus Corona (SARS CoV-2) atau tidak. Namun masih banyak juga persepsi masyarakat yang salah mengenai hasil dari pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, sehingga perlu dijelaskan hal-hal terkait pemeriksaan tersebut agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang benar dan akurat.

Berdasarkan perkembangan metode pemeriksaan yang sampai saat ini dapat digunakan untuk diagnosis Covid-19, maka akan dipaparkan metode-metode tersebut sebagai berikut:
1. Rapid test (tes cepat) adalah tes yg sering dilakukan oleh pemerintah untuk tes massal atau juga dilakukan oleh beberapa lab swasta dan lab di RS. Tes ini ditujukan juga untuk individu kontak erat risiko rendah, OTG, atau kontak erat risiko tinggi, juga untuk ODP atau PDP. Dengan tes ini dapat ditentukan antibodi IgM dan IgG anti SARS CoV-2, tapi ada tes yang hanya mendeteksi antibodi total saja. Disebut test cepat sebab hasil dapat diperoleh hanya dalam waktu singkat bekisar antara 10-15 menit.
Saat ini di Indonesia sudah banyak beredar reagens dengan berbagai brand yang berasal dari beberapa negara seperti dari Cina, Korea, Eropa, Amerika dan lain-lain. Sampel bisa berupa darah tepi langsung atau bisa juga berupa serum dengan mengambil darah vena.

2. Rapid test (tes cepat) lain adalah tes cepat untuk deteksi Ag virus dari sampel swabnasofaring. Reagens untuk test ini juga ada beberapa brand yang beredar di Indonesia. Disebut tes cepat karena hasil juga diperoleh dalam waktu yang cepat, berkisar antara 10-30 menit tergantung reagens

3. Tes berbasis molekuler adalah tes untuk deteksi RNA SARS CoV-2, menggunakan metodereverse-transcription PCR dengan alat PCR konvensional ataupun alat real time PCR (RTPCR). Metode berbasis molekuler juga dapat dilakukan dalam waktu cepat dan dikenal sebagai TCM (tes cepat molekuler) karena semua prosedur dari mulai ekstraksi RNA, amplifikasi dan deteksi hasil amplifikasi dalam 1 mesin sekaligus dengan hasilnya 45 menit.

Sementara metode PCR konvensional diawali dengan ekstraksi RNA yang memerlukan waktu 60-90 menit (tergantung reagens dan alat), lalu dilanjutkan dengan proses amplifikasi dengan alat RT PCR selama 1-1 1/2 jam juga tergantung reagens dan alat. Jika menggunakan RT PCR deteksi hasil amplifikasinya langsung dibaca dari monitor laptop yang disambung ke alatnya dengan melihat grafik yg muncul dan kemudian dibandingkan dengan kontrol sehingga hasil dapat ditentukan positif atau negatifnya.

Jika hanya menggunakan alat PCR konvensional, setelah selesai tahap amplifikasi, deteksi hasil amplifikasinya dilakukan dengan beberapa, bisa secara elektroforesis, atau dengan microarray sehingga ada tambahan waktu 30-40 menit lagi.

TCM (tes cepat molekuler) merupakan tes yang dasarnya juga RT-PCR menggunakan alat PCR khusus, saat ini ada di beberapa laboratorium atau RS pemerintah ataupun swasta. Apa makna hasil-hasil pemeriksaan tersebut? Hasil pemeriksaan harus diinterpretasi dengan baik, beberapa hal berikut ini harus menjadi bahan pertimbangan.

1. Rapid test antibodi.
Seperti telah dikemukakan di atas, rapid test adalah metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi, yaitu IgM dan IgG, yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus Corona. Antibodi ini akan dibentuk oleh tubuh bila ada paparan virus Corona atau SARSCoV- 2.Ketika ada virus yang masuk ke dalam tubuh kita, dalam hal ini antigen (yang merupakan komponen pada SARSCoV-2), maka sistem pertahanan tubuh kita akan mengadakan respons imunologis terhadap antigen tersebut. Pada saat ini belum diketahui dengan tepat waktu peningkatan jumlah antibodi di dalam tubuh sejak terjadinya paparan seseorang dengan virus penyebab Covid-19, sehingga jika hasil negatif atau non-reaktif berarti tidak terdeteksi adanya antibodi SARS CoV-2 didalam darah seseorang.

Namun hasil ini juga tidak menyingkirkan bahwa seseorang belum pernah terpapar atau tidak terinfeksi virus penyebab Covid-19 terutama jika pernah kontak dengan orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 Hasil negatif atau non reaktif demikian harus diulang. Sementara ini merujuk pada karakter infeksi virus (masa inkubasi dan perjalanan infeksi), maka pengulangan uji dapat dilakukan pada hari ke 7-10 setelah hasil pemeriksaan negatif sebelumnya
Jika hasil positif atau reaktif tidak memastikan adanya infeksi SARSCoV-2. Kemungkinan hasil reaktif adalah:
a. Terinfeksi virus SARSCoV-2
b. Adanya infeksi SARSCoV-2 di masa lampau
c. Adanya reaksi silang dengan virus corona yang lain. Sehingga harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan molekuler sebagai baku emas untuk penegakan diagnosis Covid-19, yaitu dengan metode PCR.

Jadi bila hasil rapid test antibodi reaktif, jangan panik dulu, belum dapat dikatakan seseorang positif Covid-19. Antibodi yang terdeteksi pada rapid test bisa saja merupakan antibodi terhadap virus corona yang lain, bukan yang menyebabkan Covid-19 atau SARS-CoV-2.

Saran yang dapat dilakukan jika hasil rapid test reaktif adalah isolasi mandiri sesuai dengansaran dokter, serta melanjutkan pemeriksaan konfirmasi dengan metode PCR sesuai yang direkomendasikan WHO Jika hasilnya non reaktif, pemeriksaan rapid test perlu diiulang sekali lagi 7-10 hari setelahnya. Tetap disarankan untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari walaupun tidak mengalami gejala sama sekali dan merasa sehat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved