Tiga Negara Memperebutkan Sungai Nil, Dipicu Pembangunan Bendungan
Admasu menyataan separuh lebih dari 110 juta penduduk Ethiopia belum menikmati aliran listrik.
ETHIOPIA, Sudan, dan Mesir terus berpolemik tentang Bendungan GERD (Grand Ethiopian Renaissance Dam), yang membuat kasus ini semakin kusut. Sudan dan Mesir keberatan atas pembangunan GERD, sedangkan Ethiopia bersikeras proyek mereka tidak membahayakan siapa pun.
Pangkal persoalannya adalah Bendungan GERD dinilai akan membatasi pasokan air ke negara-negara hilir. Ethiopia adalah negara di bagian hulu.
Duta Besar Ethiopia untuk Indonesia Admasu Tsegaye Agidew mengatakan GERD tidak boros air sehingga tidak membahayakan negara-negara hilir. "GERD tidak mengonsumsi banyak air dan tidak ada deforestasi," kata Admasu saat dihubungi Kompas.com melalui konferensi video, Jumat (3/7).
Ethiopia bersikeras membangun GERD sebagai pembangkit listrik dan meningkatkan perairan. Admasu menyataan separuh lebih dari 110 juta penduduk Ethiopia belum menikmati aliran listrik. "Selama ini mereka memakai kayu bakar sebagai pengganti listrik," katanya.
Menurut Admasu, GERD dapat menghasilkan 6.450 megawatt dan menampung 74 juta cm kubik air. Namun pembangunan bendungan ini diprotes keras Mesir dan Sudan. Kedua negara tetangga Ethiopia tersebut khawatir debit air Sungai Nil akan menurun, dan bakal berpengaruh ke kehidupan mereka.
Dalam pertemuan virtual dengan Dewan Keamanan PBB, Senin (29/6), Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry mengatakan bila PBB tidak turun tangan akan ada konflik yang dipicu pembangunan GERD. Ia mendesak dewan membantu menyelesaikan sengketa GERD.***