Pasutri Jual Daging Celeng

BREAKING NEWS: Pasutri di Bandung Jual Daging Celeng Dicampur Daging Sapi, Jadi Bahan Bakso

Pasangan suami istri jual daging babi atau daging celeng dicampur dengan daging sapi. Dagaing ini di jual di sejumlah pasar jadi bahan bakso.

Tribunjabar.id/Daniel A Damanik
Pasangan suami istri jual daging babi atau daging celeng dicampur dengan daging sapi. Dagaing ini di jual di sejumlah pasar jadi bahan bakso. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar Daniel Andreand Damanik

TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI - Satuan Reserse Kriminal Polres Cimahi menangkap pasangan suami istri yang menjual daging babi hutan (Celeng) yang dicampurkan dengan daging Sapi.

Pasangan suami istri (Pasutri) ini ditangkap pad 26 Juni 2020 pukul 21.00 WIB di Kampung Gunung Bentang, Kabupaten Bandung Barat.

"Mereka ini penjual daging babi hutan (Celeng) yang nantinya akan dioplos dengan daging sapi lalu disebarkan kebeberapa pedagang bakso. Mereka tinggal di Kabupaten Bandung Barat," kata Kapolres Cimahi AKBP M Yoris Marzuki di Mapolres Cimahi, Selasa (30/6/2020).

Ada 12 kilogram daging babi hutan (celeng) dan 120 kilogram daging sapi. Proses pencampurannya, 2:1, dua kilogram daging sapi dicampur satu kilogram daging celeng.

Satgas Pangan Sidak ke Pasar Manis Ciamis, Cari Daging Sapi yang Dioplos dengan Daging Babi

Selain itu, ada tiga unit lemari es yang digunakan untuk membekukan daging oplosan tersebut. Tersangka utamanya ialah T (45) dan suaminya R (24).

Mereka menjual daging oplosan tersebut sejak tahun 2014 dan dipasarkan ke Majalaya, Tasikmalaya, Purwakarta, Cianjur, dan Bandung. Daging oplosan tersebut akan dijadikan bahan utama pembuatan bakso dan olahan makanan seperti rendang.

Pengakuan T (45), bahwa daging sapi dan celeng tersebut tidak dicampur dengan bahan kimia. Perkilogramnya, Pasutri ini menjual daging oplosan tersebut senilai Rp 50 ribu. Setelah dijual kepada beberapa orang, daging tersebut kembali dijual kepada masyarakat senilai Rp 100 ribu per kilogram.

T juga mengaku bahwa dirinya sama sekali tidak mengkonsumsi olahannya sendiri..

Satu orang pedagang dari Tasikmalaya juga sudah ditangkap berinisial D (49). Kemudian, tersangka N (38) dari Purwakarta juga memperoleh daging oplosan tersebut dan mengetahui daging tersebut adalah daging celeng. Setiap dua minggu sekali N menjual sebanyak 20 kilogram daging seharga Rp 60 ribu perkilogram.

"Ada juga T, rumah makan di Bandung memperoleh daging tersebut seharga Rp 45 ribu perkilogram. Belum ditangkap, karena rumah makan "Chinese Food" tersebut tutup selama pandemi Covid-19," katanya.

INNALILLAHI, Ustaz Hilmi Aminuddin, Pendiri dan Mantan Ketua Majelis Syuro PKS Meninggal Dunia

Ada pedagang di Cianjur berinisial U,mengaku menjual daging oplosan tersebut di rumah makan miliknya di Cianjur. U mengaku mengetahui bahwa dagung tersebut mengandung daging celeng. Pihak kepolisian belum membawa U karena Ia sedang sakit.

"Akibat perbuatan ini, para pelaku diancam pasal berlapis dengan hukuman minimal lima tahun penjara. Pasal yang kita kenakan kepada para pelaku yakni, Undang-undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-undang No.18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan,” kata Yoris.

Sumber awal daging celeng yang didapatkan oleh pelaku sepasang suami istri tersebut, yakni dari seorang pemburu celeng di wilayah Padalarang.

Penulis: Daniel Andreand Damanik
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved