Orangtua Harus Tahu, Aedes Aegypti Nyamuk Penyebab DBD Itu Suka Gigit di Waktu Ini
Nyamuk Aedes Aegypti atau nyamuk demam berdarah (DBD) memiliki perilaku mengigit pada
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Nyamuk Aedes Aegypti atau nyamuk demam berdarah (DBD) memiliki perilaku mengigit pada pagi dan sore hari.
Pemerintah mengharapkan masyarakat waspada terhadap ancaman DBD karena Kementerian Kesehatan mencatat kasus yang masih cukup tinggi hingga Juni ini.
Nyamuk dengan ciri khas kaki berwarna hitam dan putih ini mengigit manusia pada waktu pagi dan sore. Ahli infeksi dan pedriati tropik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr Mulya Rahma Karyanti, mengatakan bahwa nyamuk menggigit antara jam 10 sampai jam 12 siang.
Gigitan nyamuk bisa menyerang semua kelompok umur. Saat ini kecenderungan yang terjadi banyak kasus DBD menyerang kelompok umur remaja.
"Dia senangnya gigitnya pada pagi hari, day biters, jadi antara jam 10 sampai jam 12 di masa anak-anak lagi sekolah. Kadang-kadang kenanya di situ. Sama sebelum magrib ya, jam 4 sampai jam 5 sore," ucap dr Mulya pada saat dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, Senin (22/6)
Sementara itu, Dokter Mulya menekakan pada upaya pencegahan dengan 3M. "Yang penting, membersihkan tempat berkembang biaknya di air bersih," ucapnya.
• Bidan dan Perawat di Depok Alami Kejadian Tak Mengenakkan di Angkot, Harus Tengkurap 4 Jam
Ia menyampaikan tempat genangan air yang sering di rumah tangga seperti pot-pot bunga untuk dikeringkan.
"Minimal satu kali dilakukan, satu kali seminggu dengan menguras bak mandi, 3M tadi, itu memutuskan dari nyamuk jentik menjadi dewasa," pesan dr Mulya.
Demam pada anak perlu diwaspadai para orang tua karena ini salah satu gejala DBD. Apabila menemui kondisi ini, penderita meminum air dan jangan sampai dehidrasi.
"Awasi asupan minum, kedua awasi buang air kecilnya, normal biasanya kalau cukup asupan cairannya, dia 4 sampai 6 jam harusnya buang air kecil, dan awasi aktivitasnya," pesannya.
Namun, apabila gejala semakin memburuk seperti muntah terus menerus dan tidak buang air lebih dari 12 jam, kita perlu berhati-hati dan penderita segera mendapatkan perawatan medis.
Berbeda dengan gejala COVID-19 yang saat ini masih terjadi penularan, dr Mulya mengungkapkan pada kasus penyakit akibat virus SARS-CoV-2 lebih ke sistem saluran napas atas.
Sedangkan gejala pada DBD, ini lebih demam dan pendarahan kulit yang perlu diwaspadai, seperti mimisan, gusi berdarah, atau memar.
Sementara itu, gejala penderita DBD biasanya mengalami panas mendadak, kadang disertai muka merah, nyeri kepala, nyeri di belakang mata, muntah-muntah dan biasanya bisa disertai pendarahan.
• Satpol PP Cianjur Tertibkan Alat Peraga, Pembagian Zonasi APK Masih Menunggu Arahan KPU
"Itu yang tidak ada pada COVID, pendarahan spontan, mimisan, gusi berdarah, atau timbul bintik-bintik merah di kulit, itu bisa terjadi," tambahnya.
Ia juga menjelaskan apabila penderita DBD pada hari ketiga panas tidak turun-turun, penderita harus meminum air. "Jadi, kalau hari ketiga dia kurang minum, akhirnya pasti ada gejala-gejala tanda bahaya, warning sign kita sebutnya," ucapnya.
Panas tinggi menunjukkan infeksi virus tinggi di dalam tubuh penderita. Suhu badan bisa mencapai 40 derajat. "Nah, kalau demam 2 sampai 3 hari tidak membaik, segera ke rumah sakit," kata Dokter Mulya.
Bahaya lain dapat diamati melalui gejala berupa sakit perut, letargi atau lemas, pendarahan spontan, pembesaran perut, hati dan ada penumpukan cairan. Penderita yang mengalami kondisi tersebut bisa berdampak pada fase kritis.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat (Dinkes Jabar), Berli Hamdani, mengatakan berdasarkan data yang dilaporkan, kasus DBD di Jabar pada Januari 2020 mencapai 2.213 kasus dengan 20 kematian sedangkan Februari terdapat 2.479 kasus dengan 18 kematian.
Kemudian Maret tercatat 2.942 kasus dengan 23 kematian, April sebanyak 888 kasus dengan 10 kematian dari 12 kabupaten/kota, sedangkan pada Mei terdapat 759 kasus dengan 7 kematian, dari 14 kabupaten/kota.
Berli mengatakan angka kematian akibat DBD terbanyak di Jabar terjadi di Kabupaten Cirebon, yakni 11 kematian dengan 447 kasus DBD sampai akhir Mei. Daerah dengan angka kematian akibat DBD kedua terbanyak adalah di Kota Tasikmalaya dengan 8 kematian dari 413 kasus DBD sampai akhir Mei.
"Kalau berdasarkan jumlah kasus terbanyak, Kota Bandung. Pada Januari-Mei 2020, di Kota Bandung kasus DBD-nya mencapai 1.748 kasus dengan 9 kematian," ujarnya melalui ponsel, Kamis (18/6).
Berli mengatakan daerah baru bisa menetapkan DBD sebagai KLB atau Kejadian Luar Biasa ketika jumlah kasusnya sudah dua kali lipat atau lebih saat dibandingkan dengan data di tahun sebelumnya, dalam periode yang sama.
Berli mengatakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh Pemprov Jabar sudah sangat masif dilakukan untuk mencegah DBD. Termasuk, katanya, pada 2020 upaya PSN dilakukan sambil menghadapi Covid-19 di semua daerah.
"Kalau dibandingkan antara tahun 2019 dengan tahun 2020, dalam periode yang sama, sudah mendekati duplikasi kasus. Ini terjadi diduga kerena beberapa hal," katanya.
Berli mengatakan duplikasi kasus DBD terjadi karena beberapa penyebab. Di antaranya akibat penularan transovarial, yakni telur nyamuk sudah mengandung virus DBD.
Dengan kondisi ini, saat nyamuk menjadi dewasa, tidak perlu menggigit penderita DBD lebih dulu untuk bisa menularkan penyakitnya, namun langsung bisa menginfeksi manusia.
Penyebab kedua, katanya, adalah adanya kemungkinan resistensi insektisida karena fogging yang terlalu sering dan berdekatan waktunya.
• Tim Pelatih Persib Bandung Pantau Kondisi Pemain Melalui Dua Cara Ini, Agar Tetap Strong
"Di saat kondisi pandemi ini orang-orang tinggal di rumah. PSN di rumah-rumah juga harus lebih ditingkatkan. Peran serta masyarakat juga harus lebih ditingkatkan karena akses terbaik adalah dari penghuni rumah tersebut," kata Berli.
Mengenai pelaporan DBD pada Juni, katanya, baru bisa dilaporkan 10 Juli. Namun, hingga pekan kedua Juni, masih ada 9 kabupaten/kota yang belum mengirimkan data DBD sampai dengan Mei. Kesembilan daerah tersebut, adalah Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Majalengka, Kota Bekasi, Depok dan Banjar.
"Hal ini terjadi karena kesulitan penegakan diagnosis. Sehingga kebanyakan kasus DBD dikategorikan suspect dan pemeriksaan laboratoriumnya pun secara manual hanya melihat hasil pemeriksaan darah saja. Jadi tak sampai konfirmasi virus denguenya," katanya.