Kelainan Saraf Pada Anak

Penyakit saraf termasuk kasus yang cukup banyak ditemukan pada usia anak-anak.

istimewa

TRIBUNJABAR.ID,- PENYAKIT saraf atau gangguan neurologis adalah kondisi saat sebagian otak atau sistem saraf tidak bekerja sebagaimana mestinya. Kondisi ini kemudian mempengaruhi tumbuh kembang anak yang mengakibatkan gejala tertentu, baik secara fisik maupun psikologis, tergantung bagian otak dan saraf mana yang terganggu. Penyakit saraf termasuk kasus yang cukup banyak ditemukan pada usia anak-anak. Untuk itulah, masyarakat khususnya orangtua juga harus mengetahui tentang penyakit saraf terutama yang bisa diderita oleh anak-anak.

Sebenarnya apa itu kelainan saraf? Dokter ahli bedah saraf Santosa Hospital Bandung Kopo, dr. Adhitya Rahadi Yudhadi, SpBS mengatakan penyakit saraf adalah gangguan yang terjadi pada sistem saraf yang ada di tubuh kita. Kelainan ini mencakup kelainan yang terjadi di otak, tulang belakang, sistem saraf pusat, serta saraf yang menghubungkan sistem saraf pusat dengan organ tubuh atau biasa kita sebut sistem saraf tepi.

"Terganggunya sistem saraf dapat menyebabkan terganggunya seluruh atau sebagian fungsi tubuh,seperti sulit bergerak, bernapas, berbicara, gangguan ingatan, serta gangguan fungsi organ tubuh bagian dalam, seperti jantung dan paru," katanya.

Kelainan saraf bisa dialami tidak saja pada orang dewasa tapi juga anak-anak. Seperti apakah perbedaan kelainan saraf pada anak-anak dan orang dewasa? Menurut Aditya, pada dasarnya tidak ada perbedaan pada jenis penyakit saraf antara anak-anak dan dewasa. Namun, ada beberapa penyakit yang biasa muncul secara khusus pada lansia (seperti hidrosefalus tekanan normal) dan pada bayi (perdarahan karena gangguan pembekuan darah sejak lahir, spina bifida, dan hidrosefalus kongenital).

Bila dilihat dari jenis kelainan saraf yang bisa menyerang atau diderita oleh anak-anak antara lain akibat trauma seperti hidrosefalus, tumor, stroke perdarahan dan juga kelainan tulang belakang. Akan tetapi kelainan pada anak dibawah usia 2 tahun yang lebih bersifat bawaan sejak lahir, seperti hidrosefalus, kelainan pembentukan pembuluh darah, stroke akibat gangguan pembekuan darah dan spina bifida.

Kelainan saraf tersebut dipicu dari peningkatan tekanan intrakranial dan pada anak umumnya ditambah dengan adanya gangguan pembentukan saraf dan yang abnormal dari lahir. Seperti tidak terbentuknya pembuluh darah otak, tidak tertutupnya ubun-ubun karena tekanan kepalanya yang tinggi dan juga infeksi yang didapat dalam kandungan seperti toxoplasma, rubella dan sebagainya.

Kelainan saraf tersebut dapat ditangani. Khusus pada anak, penanganan yang diberikan selain dosis obat atau perdarahan saat operasi, pada kasus yang sama (seperti tumor, perdarahan atau hidrosefalus karena infeksi), tidak ada penanganan yang jauh berbeda dibandingkan dengan dewasa.

Akan tetapi lain halnya pada kasus dengan kelainan bawaan. Memahami proses embriologi normal dari saat masih dalam kandungan, lahir dan mencapai usia tertentu serta konsekuensi yang dapat timbul apabila ada gangguan dalam setiap langkah prosesnya menjadi hal yang penting bagi dokter bedah saraf anak dalam merawat penderita
Meski begitu, orangtua diimbau untuk tidak khawatir. Kelainan saraf pada anak bisa ditangani antara lain dengan deteksi dini dan pemeriksaan rutin dariawal, sebelum operasi, setelah operasi hingga dewasa menjadi kunci untuk menentukan harapan anak untuk sembuh.

Keterlambatan deteksi dan penanganan menjadi faktor utama yang mengurangi angka harapan sembuh. Selain itu, perlu juga melakukan sharing informasi antara dokter dan orang tua pasien dapat membantu meningkatkan persentase tersebut.
Sebagai rumah sakit modern dengan pelayanan lengkap serta memiliki tenaga dokter yang ahli dan profesional dibidangnya, Santosa Hospital Bandung Kopo siap memberikan pelayan bagi pasien kelainan saraf termasuk anak-anak. Pelayanan yang diberikan tepat, cepat dan cermat.

"Edukasi yang kami lakukan untuk awam, sharing informasi dan konsultasi rutin antara dokter dan orang tua pasien di poliklinik, pemeriksaan cepat dan deteksi dini (via CT scan dan MRI) serta pengobatan yang tepat dan cermat di rumah sakit dalam menangangi pasien anak menjadi andalan kami di Rumah Sakit Santosa Kopo Bandung," katanya.

HIDROSEFALUS
KELAINAN saraf ini sudah sering didengar oleh masyarakat. Dalam pemikiran awam saat mendengar kata ini adalah pasien hidrosefalus memiliki bentuk kepala yang tidak wajar atau lebih besar dari ukuran kepala normal.

Menurut dr. Adhitya Rahadi Yudhadi, SpBS, Hidrosefalus diambil dari dua kosakata Yunani kuno, yaitu hydro yang berarti air atau cairan dan kephalus yang berarti kepala. Air atau cairan yang disebut disini adalah likuor serebrospinal yang kita singkat LCS.
Hidrosefalus adalah adanya suatu akumulasi yang tidak normal pada LCS pada suatu ruangan atau saluran di otak kita yang disebut ventrikel otak dikarenakan adanya gangguan pada pembentukan, penyerapan atau aliran dari LCS ini sendiri.

Cairan otak yang terus bertambah mengisi ventrikel otak tanpa bisa diserap atau dialirkan kemudian akan membuat otak menjadi bengkak dan tekanan di otak bertambah besar. Gangguan kelainan saraf dari hidrosefalus ini pada 20 – 50 % pasien dapat berakibat fatal dan menyebabkan kematian jika tidak diobati.
Seperti kebanyakan kasus di Indonesia termasuk di Jawa Barat, dari data secara umum, lebih dari 50 % kasus hidrosefalus adalah kasus kongenital/bawaan, padahal hidrosefalus tidak saja dapat mengenai bayi dan balita, tapi juga remaja dan dewasa muda bahkan hingga lanjut usia. Kondisi ini tergantung dari kelainan yang mendasarinya.

Seorang bayi dengan adanya gangguan pembentukan otak bisa mendapatkan hidrosefalus bawaan, akan tetapi balita, anak, remaja, dewasa muda dan bahkan lanjut usia bisa terkena kelainan ini akibat adanya infeksi selaput otak (meningitis) yang menggangu proses penyerapan LCS, perdarahan otak dan tumor otak yang dapat menghambat aliran LCS dan bahkan pada orang lanjut usia ada suatu keadaan khusus yang disebut Hidrosefalus Tekanan Normal.
Pemicu dari hidrosefalus ini sendiri secara umum disebabkan oleh gangguan pembentukan, penyerapan atau aliran LCS yang pada akhirnya meningkatkan tekanan di dalam otak/kepala kita, akan tetapi ketiga masalah tersebut bisa diakibatkan banyak hal.

Gangguan penyerapan paling sering terjadi karena proses infeksi (seperti meningitis) dan setelah perdarahan (akibat perdarahan otak sewaktu lahir), dimana organ yang seharusnya menyerap cairan terganggu sehingga cairan bisa dibentuk dan dialirkan tapi tidak bisa diserap. Bagaimana dengan aliran? terkadang dengan adanya gangguan pembentukan dan penyempitan saluran (ventrikel) otak, atau tumor dan perdarahan seringkali mengganggu proses LCS mengalir dari atas, turun ke bawah sehingga LCS menumpuk di atas.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved