Rian DMasiv Gandeng Anak Tunanetra dari Timur, Bisa Dilihat di YouTube Hari Ini
Di tengah pandemi corona saat ini, mendengarkan musik menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Giri
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di tengah pandemi corona saat ini, mendengarkan musik menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Musik menjadi teman yang lintas bahasa dan lokasi, menemani di setiap situasi dan kondisi.
Musik menjadi bahasa universal yang dapat menjadi cara berkomunikasi dan wadah berkreasi, menyampaikan pikiran, perasaan, dan minat seseorang tanpa terkecuali.
Dalam rangka Hari Musik Sedunia yang jatuh pada 21 Juni, ada kreator dari Nusa Tenggara Timur yang mencoba menawarkan perspektif baru dan mendobrak stereotip akan keterbatasan menjadi penghalang untuk belajar dan berkreasi.
Tatanan normal baru tampaknya datang dengan banyak keterbatasan, terutama dalam mobilitas dan interaksi sehari-hari.
Tetapi hal tersebut bukan hal baru bagi Ariko Tibortius atau yang dikenal sebagai Riko, seorang guru di sekolah luar biasa negeri (SLBN) dari Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Pada keterangan yang diterima Tribun, ia berbagi tentang bagaimana murid-muridnya dapat melewati keterbatasan yang mereka miliki, terus belajar dan tumbuh.
Bermula tanpa pendidikan formal sebelumnya untuk mengajar siswa berkebutuhan khusus, Riko memberanikan diri mendaftar menjadi pengajar di sekolah untuk siswa penyandang disabilitas yang baru dibuka pada tahun 2016.
Selain diberi pelatihan khusus oleh dinas pendidikan setempat, sebagai guru baru di sekolah yang juga relatif baru, Riko berusaha untuk membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan sebagai tenaga pengajar dengan mempelajari proses belajar-mengajar SLBN di provinsi lain melalui YouTube.
Terlepas dari keraguan masyarakat terhadap profesinya, menjadi guru di sekolah SLBN membuka perspektifnya terhadap anak-anak berkebutuhan khusus dan kenyataan yang terjadi di antara komunitas penyandang disabilitas di daerah tersebut.
Ia memahami, bagian terpenting dari menjadi guru untuk siswa berkebutuhan khusus adalah melayani mereka, memperkuat minat mereka, sekaligus memperlengkapi mereka dengan ilmu mendasar.
“Satu hal yang paling berharga menjadi guru bagi para siswa ini adalah melihat senyum mereka setiap pagi. Terlepas dari apa pun yang mereka alami di luar sekolah, mereka selalu membawa diri yang terbaik ke sekolah, siap belajar bersama dengan teman-teman mereka juga berbagi kebahagiaan kepada orang-orang di sekitar mereka," ujar Riko.
Untuk meningkatkan suasana hati para murid dan mendapatkan perhatian mereka, setiap pagi, Riko dan guru-guru di SLBN memainkan lagu “Laskar Pelangi” dari Nidji dan “Jangan Menyerah” dari D'Masiv sebelum memulai kelas.
Setelah menghabiskan waktu dengan siswa-siswi di sekolah tersebut, Riko bertekad untuk menggaungkan suara mereka dan memberitahu dunia bahwa keterbatasan bukanlah hambatan untuk terus belajar, tumbuh, dan mengejar passion dan minat.
Terlepas dari keterbatasan fisik, mereka adalah anak-anak istimewa dengan bakat unik yang sayang jika diabaikan atau diremehkan.
Sebagai salah satu contoh adalah Aldy, seorang siswa tunanetra berusia 15 tahun dengan suara khas dan bakat menulis lagu.
Potensi Aldy sangatlah inspiratif dan harus diapresiasi, namun terkadang terlewatkan oleh masyarakat.
Riko memutuskan untuk mempublikasikan video nyanyian Aldy di YouTube.
Sejak akhir 2018, semakin banyak orang mengenai siswa-siswi SLBN Labuan Bajo, terutama Aldy.
Ia seringkali mendapat undangan untuk tampil di berbagai acara di seluruh kota, hingga di Jakarta.
Satu hal yang terus memotivasi Aldy untuk berkarya adalah mengetahui bahwa ribuan orang menonton videonya; membuktikan bahwa suara dan cerita dia berharga dan didengar oleh kalangan luas.
“Ketika saya mengunggah video ini ke YouTube, saya berharap orang akan melihat talenta Aldy dan anak-anak lainnya. Saya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kekurangan dan keterbatasan bukanlah hambatan. Anak-anak dengan kebutuhan khusus memiliki talenta luar biasa yang harus kita dukung, perkuat dan rayakan,” kata Riko.
Aldy adalah remaja berusia 15 tahun yang berasal dari desa Jawang di Kabupaten Manggarai Timur.
Anak ketiga dari 5 bersaudara dari orang tua yang berprofesi sebagai petani ini merupakan satu-satunya penyandang disabilitas di keluarganya.
Ia mengenal musik pertama kali dari pamannya yang mengajarkan cara bermain keyboard.
Dia menemukan suka cita dan keinginan untuk terus menghibur orang dengan nyanyian dan musiknya sejak itu.
Selain menjadi penyanyi, Aldy juga memiliki keinginan untuk menjadi penulis lagu.
• Tetap Ingin Ada Degradasi, Ini Format yang Ditawarkan Pelatih Persib Bandung Robert Alberts
Baginya, menulis lagu membantu dalam menceritakan kisahnya, memperkenalkan kota asalnya juga bahasa setempat dengan lebih baik.
Kini, Aldy dapat memainkan tiga instrumen: keyboard, gitar dan suling. Dia mempelajarinya secara autodidak.
Ia juga sempat meraih prestasi sebagai runner-up pertama di NTT untuk kompetisi menyanyi yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 2019.
• Sebelum Dibuka, Satpol PP Sumedang Pantau Kesiapan Penerapan Protokol Kesehatan di Tempat Karaoke
Cerita Riko dan Aldy menarik perhatian Rian Ekky Pradipta dari D’Masiv untuk berkolaborasi.
Rian mengatakan, ia melihat bakat yang luar biasa yang ada di diri Aldy.
Seorang anak dari timur yang mungkin tidak memiliki fisik yang sempurna seperti kita semua, tapi memiliki semangat luar biasa untuk berkarya.
• Ratusan Pencinta Skateboard Berkumpul di Ujungberung Rayakan Go Skateboarding Day 2020
Walaupun seorang tunanetra, tapi hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk dia bernyanyi dan membuat lagu.
"Kata ‘Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya bagi hamba-Nya yang sabar dan tak putus asa’ terwujud di diri Aldy,” ujar Rian.
Kolaborasi Aldi, beberapa murid SLBN Labuan Bajo, dan Rian D’Masiv tayang di YouTube channel Rian Ekky Pradipta hari ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/para-siswa-di-slbn-labuan-bajo-dengan-gembira-bernyanyi-dan-memainkan-musik.jpg)