Senin, 25 Mei 2026

Rian DMasiv Gandeng Anak Tunanetra dari Timur, Bisa Dilihat di YouTube Hari Ini

Di tengah pandemi corona saat ini, mendengarkan musik menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

Tayang:
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Giri
ISTIMEWA
Para siswa di SLBN Labuan Bajo dengan gembira bernyanyi dan memainkan musik sebagai kegiatan belajar mereka di sekolah.  

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di tengah pandemi corona saat ini, mendengarkan musik menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

Musik menjadi teman yang lintas bahasa dan lokasi, menemani di setiap situasi dan kondisi.

Musik menjadi bahasa universal yang dapat menjadi cara berkomunikasi dan wadah berkreasi, menyampaikan pikiran, perasaan, dan minat seseorang tanpa terkecuali.

Dalam rangka Hari Musik Sedunia yang jatuh pada 21 Juni, ada kreator dari Nusa Tenggara Timur yang mencoba menawarkan perspektif baru dan mendobrak stereotip akan keterbatasan menjadi penghalang untuk belajar dan berkreasi.

Tatanan normal baru tampaknya datang dengan banyak keterbatasan, terutama dalam mobilitas dan interaksi sehari-hari.

Tetapi hal tersebut bukan hal baru bagi Ariko Tibortius atau yang dikenal sebagai Riko, seorang guru di sekolah luar biasa negeri (SLBN) dari Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Pada keterangan yang diterima Tribun, ia berbagi tentang bagaimana murid-muridnya dapat melewati keterbatasan yang mereka miliki, terus belajar dan tumbuh.

Bermula tanpa pendidikan formal sebelumnya untuk mengajar siswa berkebutuhan khusus, Riko memberanikan diri mendaftar menjadi pengajar di sekolah untuk siswa penyandang disabilitas yang baru dibuka pada tahun 2016.

Selain diberi pelatihan khusus oleh dinas pendidikan setempat, sebagai guru baru di sekolah yang juga relatif baru, Riko berusaha untuk membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan sebagai tenaga pengajar dengan mempelajari proses belajar-mengajar SLBN di provinsi lain melalui YouTube.

Terlepas dari keraguan masyarakat terhadap profesinya, menjadi guru di sekolah SLBN membuka perspektifnya terhadap anak-anak berkebutuhan khusus dan kenyataan yang terjadi di antara komunitas penyandang disabilitas di daerah tersebut.

Ia memahami, bagian terpenting dari menjadi guru untuk siswa berkebutuhan khusus adalah melayani mereka, memperkuat minat mereka, sekaligus memperlengkapi mereka dengan ilmu mendasar.

“Satu hal yang paling berharga menjadi guru bagi para siswa ini adalah melihat senyum mereka setiap pagi. Terlepas dari apa pun yang mereka alami di luar sekolah, mereka selalu membawa diri yang terbaik ke sekolah, siap belajar bersama dengan teman-teman mereka juga berbagi kebahagiaan kepada orang-orang di sekitar mereka," ujar Riko.

Untuk meningkatkan suasana hati para murid dan mendapatkan perhatian mereka, setiap pagi, Riko dan guru-guru di SLBN memainkan lagu “Laskar Pelangi” dari Nidji dan “Jangan Menyerah” dari D'Masiv sebelum memulai kelas.

Setelah menghabiskan waktu dengan siswa-siswi di sekolah tersebut, Riko bertekad untuk menggaungkan suara mereka dan memberitahu dunia bahwa keterbatasan bukanlah hambatan untuk terus belajar, tumbuh, dan mengejar passion dan minat.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved