Kasus DBD di Jabar Sudah Mencapai Ribuan, Kota Bandung Masih Terbanyak di Tahun 2020 Ini
Tidak hanya mewaspadai Covid-19, masyarakat Jawa Barat juga harus mewaspadai demam berdarah dengue ( DBD) yang biasanya merebak pada musim pancaroba.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tidak hanya mewaspadai Covid-19, masyarakat Jawa Barat juga harus mewaspadai demam berdarah dengue ( DBD) yang biasanya merebak pada musim pancaroba.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat (Dinkes Jabar), Berli Hamdani, mengatakan berdasarkan data yang dilaporkan, kasus DBD di Jabar pada Januari 2020 mencapai 2.213 kasus dengan 20 kematian sedangkan Februari terdapat 2.479 kasus dengan 18 kematian.
Kemudian Maret tercatat 2.942 kasus dengan 23 kematian, April sebanyak 888 kasus dengan 10 kematian dari 12 kabupaten/kota, sedangkan pada Mei terdapat 759 kasus dengan 7 kematian, dari 14 kabupaten/kota.
• Dinkes Prediksi Kasus DBD di Kabupaten Cirebon Tak Sebanyak Tahun Lalu
• Sebelas Orang Meninggal Akibat DBD di Kota Tasikmalaya
Berli mengatakan angka kematian akibat DBD terbanyak di Jabar terjadi di Kabupaten Cirebon, yakni 11 kematian dengan 447 kasus DBD sampai akhir Mei.
Daerah dengan angka kematian akibat DBD kedua terbanyak adalah di Kota Tasikmalaya dengan 8 kematian dari 413 kasus DBD sampai akhir Mei.
"Kalau berdasarkan jumlah kasus terbanyak, Kota Bandung. Pada Januari-Mei 2020, di Kota Bandung kasus DBD-nya mencapai 1.748 kasus dengan 9 kematian," ujarnya melalui ponsel, Kamis (18/6/2020).
• VIDEO-Ratusan Tenaga Kesehatan dari Dua RS di Majalengka Jadi Target Pemeriksaan Tes Swab
Berli mengatakan daerah baru bisa menetapkan DBD sebagai KLB atau Kejadian Luar Biasa ketika jumlah kasusnya sudah dua kali lipat atau lebih saat dibandingkan dengan data di tahun sebelumnya, dalam periode yang sama.
Berli mengatakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) oleh Pemprov Jabar sudah sangat masif dilakukan untuk mencegah DBD.
Termasuk, katanya, pada 2020 upaya PSN dilakukan sambil menghadapi Covid-19 di semua daerah.
"Kalau dibandingkan antara tahun 2019 dengan tahun 2020, dalam periode yang sama, sudah mendekati duplikasi kasus. Ini terjadi diduga kerena beberapa hal," katanya.
Berli mengatakan duplikasi kasus DBD terjadi karena beberapa penyebab. Di antaranya akibat penularan transovarial, yakni telur nyamuk sudah mengandung virus DBD.
• 11 Warga Kabupaten Cirebon Meninggal Dunia Akibat DBD, Lebih Tinggi Dibanding Covid-19
Dengan kondisi ini, saat nyamuk menjadi dewasa, tidak perlu menggigit penderita DBD lebih dulu untuk bisa menularkan penyakitnya, namun langsung bisa menginfeksi manusia.
Penyebab kedua, katanya, adalah adanya kemungkinan resistensi insektisida karena fogging yang terlalu sering dan berdekatan waktunya.
"Di saat kondisi pandemi ini orang-orang tinggal di rumah. PSN di rumah-rumah juga harus lebih ditingkatkan. Peran serta masyarakat juga harus lebih ditingkatkan karena akses terbaik adalah dari penghuni rumah tersebut," kata Berli.