Komunitas Hong Bisa Berdiri Berkat Penelitian Zaini Alif Mengenai Permainan Tradisional
KOMUNITAS Hong merupakan karya Zaini Alif. Komunitas ini lahir berlatar belakang penelitannya mengenai permainan tradisional. Semua pikiran Zaini terc
KOMUNITAS Hong merupakan karya Zaini Alif. Komunitas ini lahir berlatar belakang penelitannya mengenai permainan tradisional. Semua pikiran Zaini tercurah untuk meneliti itu sejak 1993.
"Saya melakukan persiapan penelitian pada 1993. Dan mulai konsentrasi meneliti itu pada 1996," kata pendiri Komunitas Hong kepada Tribun lewat aplikasi Zoom, Jumat (12/6).
Dari hasil penelitiannya itu, Zaini berhasil mendokumentasikan 2.600 permainan tradisional di seluruh Indonesia. Di Jawa Barat sendiri terdapat 360 permainan.
Zaini mengaku ingin membawa permainan tradisional, produk masa lalu, hadir pada masa kekinian. Produk masa lalu yang datang menjadi sebuah nilai dan hadir di masa kini dengan tidak memaksakan suasana dan materi yang dulu.
"Artinya, bisa berafiliasi dengan teknologi, bisa berafiliasi dengan digital.
Bisa berafiliasi dengan sistem kehidupan sekarang dan material yang ada sekarang," kata Zaini, yang meraih gelar doktor di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB).
Bapak Permainan Tradisional ini tak hanya memperkenalkan permainan tradisional di Indonesia. Dia sering berkunjung ke luar negeri, seperti ke Cina, Jepang, Australia, Malaysia, dan Belanda, untuk memperkenalkan budaya Indonesia tersebut.
"Saya ingin menunjukkan ke dunia bahwa Indonesia memiliki keragaman permainan yang begitu banyak. Saya menyebutnya Indonesia itu negara adibudaya," kata pria kelahiran Subang, Mei 1975, itu.
Di Adelaide, Australia, Zaini pernah mengajar 2.000 anak. Permainan tradisional itu diajarkan ke murid dan guru-guru. Menurut Zaini, guru-guru di sana menggunakannya agar anak-anak bisa mengenal kemampuan dirinya.
"Harusnya tahun ini ke Australia lagi, tapi tidak jadi. Bahkan, saya harusnya ke Panama dan Kosta Rika bulan Juni hingga Juli. Namun, karena pandemi, tidak jadi," kata dosen di ISBI ini.
Komunitas Hong di Jalan Bukit Pakar Utara
Komunitas Hong terbentuk pada 2005. Komunitas ini memiliki tempat di Jalan Bukit Pakar Utara No.26, Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.
Di sana, komunitas memiliki pakarangan ulin (pekarangan bermain) yang bisa digunakan pengunjung untuk bermain sambil belajar.
Namun, untuk sementara karena pandemi Covid-19. Kalau yang tertarik mau berkunjung bisa menunggu sampai keadaan normal kembali.
Di pekarangan itulah para pengunjung bisa menikmati berbagai permainan tradisional. Ada ratusan jenis permainan tradisional yang tersedia dan berasal dari seluruh Jawa Barat.
Dari ratusan permainan itu, di antaranya ada egrang, congklak, perepet jengkol, ngadu kaleci (kelereng), dan boy-boyan.
Untuk menikmati permainan tersebut pengunjung harus registrasi Rp 50.000 per orang.
Pengunjung harus datang berombongan, minimal 60 peserta, dan wajib reservasi terlebih dulu di website dan instagram.
"Dengan membayar Rp 50.000, pengunjung sudah mendapat paket lengkap. Mulai dari workshop permainan, bermain bersama, mini olimpiade permainan, terus dapat mainan satu, dan semua hasil workshop bisa dibawa pulang," kata pendiri Komunitas Hong, Zaini Alif.
Tadinya, menurut Zaini, untuk menikmati fasilitas di pakarangan ulin Komunitas Hong, pengunjung tidak membayar.
Namun, katanya, ternyata saat pengunjung bermain dibutuhkan material.
• Komunitas Hong Tutup, Anak-anak Diajak Bermain di Rumah Saja Lewat Online Youtube dan Instagram
• Komunitas Hong di Jalan Bukit Pakar Utara, Tempat Bermain dan Belajar Permainan Tradisional
"Materialnya itu harus mengambil jauh dan butuh biaya. Setelah dihitung-hitung, butuh bayaran. Maka, sejak itu, dikenakan ongkos masuk untuk para pengunjung," kata Zaini.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa menghidupi dan mempekerjakan banyak orang di sana."
Menurut Zaini, Komunitas Hong dibentuk berdasarkan kajian dia. Dalam kajian yang dilakukannya itu, ternyata ada tiga permasalahan mengapa permainan tradisional tidak dimainkan.
"Ketiga permasalahan tersebut adalah, pertama, tidak ada data permainan, kedua tidak adanya tempat bermain, dan ketiga tidak ada bahan baku bermain," ujarnya.
Komunitas Hong, kata Zaini, menyediakan itu semua. Menurutnya, Komunitas Hong dibentuk untuk menghilangkan kendala tersebut.
Jadi, kata Zaini, bagi yang membutuhkan data permainan tradisional silakan datang ke sana karena semuanya sudah tersedia.
"Kamunitas Hong juga menyediakan tempatnya ada. Silakan datang untuk bermain. Kami juga menyediakan bahan baku permainannya," kata Zaini.
Awalnya, Zaini tidak berpikir Komunitas Hong jadi tempat wisata. Namun, katanya, Komunitas Hong terbentuk untuk sumber pembelajaran, untuk mendukung pembelajaran di sekolah.
Komunitas Hong Tutup Dulu
Pada masa pandemi virus korona, Komunitas Hong menyetop semua kegiatan yang bersifat luring. Mereka mengajak anak-anak bermain lewat oline dan di rumah saja.
Tempat bermain di Pakarangan Ulin, Jalan Bukit Pakar Utara No. 26, Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, ditutup untuk umum.
Menurut pendiri Komunitas Hong, Zaini Alif, dia bersama timnya sedang menyusun kira-kira permainan apa yang tidak melanggar standar protokol adaptasi kebiasaan baru (AKB).
Zaini tengah memilih permainan yang bisa dilakukan oleh pemainnya saling berjauhan dan tidak bersentuhan.
"Kalau sudah tersusun dengan baik, kami buka kembali. Saya tidak ingin kalau buka sekarang tempat permainan di Hong ini jadi klaster baru, penyebaran penyakit juga. Jadi, benar-benar harus safety, aman," kata Zaini kepada Tribun lewat aplikasi Zoom, Jumat (12/6).
Meski Pakarangan Ulin tidak buka, Komunitas Hong tetap mengadakan kegiatan secara daring.
Menurut Zaini, selama tiga bulan belakang, komunitasnya menyosialisasikan permainan tradisional yang bisa dimainkan di rumah melalui berbagai media.
"Lewat Instagram, Facebook, Youtube. Saya buat channel Youtube 'Main di Rumah Saja Zaini Alif'.
Channel itu untuk menyebarkan permainan yang bisa dimainkan di rumah. Jadi memberikan cara bermainnya dan tutorial permainannya seperti apa," kata Zaini.
Biasanya, Zaini menyapa orang tua dan anak-anak melalui Instagram atau Youtube setiap hari. Jadwal praktiknya pada pukul 15.30-18.00 setiap hari Senin-Jumat.
Adapun pada Sabtu-Minggu jam praktik bermain dilaksanakan pada pukul 07.00-18.00.
Dalam video itu, Zaini mengajak anak-anak dan orang tua untuk memainkan permainan tradisional yang peralatannya sudah tersedia di rumah. Video tersebut disediakan secara live dan tayangan ulang.
"Bermainnya tidak harus menggunakan peralatan yang sulit, seperti kalau butuh batu tidak harus mengambil batu di luar, tetapi cukup mengambil perlengkapan yang ada di rumah saja," kata Zaini.
Zaini berharap nantinya vidoe-videonya bisa menjadi data bagi yang membutuhkan informasi permainan tradisional.
Menurutnya, data-datanya tersebut bisa menyebar ke mana-mana hingga ke Inggris.
"Lumayan, sih, datanya berupa video melalui Youtube dan sebagainya. Kami mengajak mereka bermain. Jadi, kalau orang ingin bermain di rumah saja, oh, ini permainannya," kata Zaini.
Zaini pun mengajak guru-guru mengumpulkan murid bermain permainan tradisional melalui aplikasi Zoom. Menurutnya, beberapa sekolah sudah melaksanakan kegiatan itu.
"Sampai sekarang masih banyak permintaan," kata Zaini.
Sekarang, kata Zaini, mereka yang membutuhkan data permainan tradisional tidak harus datang ke Komunitas Hong, tetapi cukup mengundangnya untuk melakukan konferensi jarak jauh melalui Zoom.
"Sebetulnya sekarang bukan orang yang harus datang ke tempat kami, tetapi kami bisa bergerak. Biarkan mereka di rumah. Kami yang datang ke mereka melalui kabel-kabel dan wifi untuk mengajak mereka bermain," katanya. (januar ph/putri puspita n)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/zaini-alif-pendiri-komunitas-hong.jpg)