Kamis, 16 April 2026

Peredaran Uang Palsu, Dulu Bandung dan Bogor, Sekarang Geser ke Garut dan Sukabumi

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, menyebutkan saat ini tren peredaran uang palsu di Jawa Barat

Penulis: Firman Wijaksana | Editor: Ichsan
ISTIMEWA
Uang palsu 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, menyebutkan saat ini tren peredaran uang palsu di Jawa Barat mengalami pergeseran wilayah.

Bandung dan Bogor yang tadinya menjadi salah satu daerah paling rawan, kini bergeser ke Garut dan Sukabumi.

Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan Pengolahan Uang Rupiah Kantor Perwakilan BI Jabar, Syafii, menyebut bahwa perubahan tren tersebut terjadi karena masyarakat di Bandung dan Bogor kini lebih peduli dalam mengecek keaslian uang melalui 3D (dilihat, diraba, diterawang).

"Sekarang, para pembuat atau pengedar uang palsu menyasar wilayah yang kepeduliannya rendah karena Bandung dan Bogor sudah baik. Di Jawa Barat, wilayah yang rawan menjadi tempat peredaran yang palsu adalah Garut dan Sukabumi," ucap Syafii saat dihubungi, Selasa (9/6/2020).

Rumah Pak Eko Belum Laku Juga, Kini Hanya Jualan Casing Hape via Online

Terakhir, di Garut pihak kepolisian mengamankan sejumlah uang palsu dari kelompok sindikat peredaran uang palsu di Kecamatan Cisompet.

Kelompok tersebut sebelumnya sempat mengedarkan uang palsu di Kecamatan Cikajang. Syafii mengaku bahwa pihaknya sudah memastikan bahwa uang yang diamankan oleh pihak Satreskrim Polres Garut adalah palsu.

Ia mengungkapkan bahwa sasaran pengedar uang palsu adalah warung-warung yang dijaga oleh warga berusia lanjut.

"Biasanya mereka tidak teliti. Beda dengan konter pulsa yang dijaga anak muda, mereka lebih teliti saat menerima uang," ujarnya.

Selain itu, lokasi lainnya yang rawan adalah tempat transaksi tunai yang minim penerangan. Ditambah tidak telitinya mereka saat menenerima uang.

Cara Tahu Anda Berada di Zona Merah atau Zona Aman Covid-19, Cukup Gunakan HP dan Aplikasi Ini

Padahal uang palsu yang beredar akan mudah dibedakan dengan yang asli jika dilihat, diraba, da diterawang saja.

"Hingga saat ini tidak ada uang palsu yang dicetak mirip dengan uang asli. Jadi cukup dengan 3D saja bisa membedakan. Seperti yang kejadian di Garut saja, mereka ini membuat uang palsu dengan alat cetakan sederhana sehingga sangat beda dengan yang aslinya. Ada beberapa pengaman pada uang asli yang tidak mungkin bisa ditiru oleh pembuat uang palsu," katanya.

Ia meminta kepada masyarakat agar lebih waspada dan peduli memeriksa setiap uang tunai yang diterimanya. Masyarakat, disebutnya bisa belajar dari sejumlah media untuk mampu membedakan uang asli dan palsu.

Hal lainnya yang bisa menjadi pilihan, kata Syafii, adalah melakukan transaksi nontunai yang saat ini tengah digencarkan oleh Bank Indonesia. Penggunaan transaksi nontunai diyakini bisa menjadi salah satu alat untuk melawan peredaran uang palsu di Indonesia.

"Kalau orang semakin sedikit menggunakan uang tunai, maka semakin sedikit juga peredaran uang palsunya. Bahkan kalau semua masyarakat menggunakan transaksi nontunai, maka peredaran uang palsu pun akan hilang dengan sendirinya," ujarnya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved