Jumat, 17 April 2026

Harga Daging Ayam Berangsur-angsur Turun, Peternak Belum Merasakan Keuntungan

Dua hari menjelang Lebaran harga daging ayam, katanya, memang sempat naik jadi Rp 45.000 per kg karena di tingkat bandar harga ayam hidup waktu itu su

Penulis: Andri M Dani | Editor: Darajat Arianto
hilman kamaludin/tribun jabar
ILUSTRASI - Penjual daging ayam di Pasar Atas Baru (PAB) Kota Cimahi. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS - Harga daging ayam pedaging jenis broiler (BR) di Pasar Manis, Ciamis, yang sebelum Lebaran sempat naik, setelah Lebaran ini berangsur-angsur turun.

“Dua hari ini harga daging ayam potong (BR) Rp 40.000 per kg. Turun dari Rp 42.000 per kg,” ujar Maman Nanu, pedagang daging ayam potong di Blok Pasar Manis, Ciamis, kepada Tribun, Rabu (3/6).

Dua hari menjelang Lebaran harga daging ayam, katanya, memang sempat naik jadi Rp 45.000 per kg karena di tingkat bandar harga ayam hidup waktu itu sudah Rp 35.000 per kg.

Setelah Lebaran, menurut Nanu, harga ayam hidup di bandar juga turun dari Rp 30.000 per kg jadi Rp 28.000 per kg. “Harga eceran daging ayam potong juga turun jadi Rp 40.000,” katanya.

Harga ecaran daging ayam potong juga turun, dari Rp 80.000 per kg jadi Rp 70.000 per kg.

Harga ayam sebelum Lebaran sempat menembus Rp 45.000 per kg untuk daging ayam potong di kios daging, atau Rp 35.000 per kg ayam hidup di tingkat bandar (broker) dan kisaran Rp 20.000 sampai Rp 21.000 per kg di kandang.

“Namun harga tinggi menjelang Lebaran kemarin tidak dinikmati peternak. Yang untung itu bandar dan integrator,” ujar Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GO-PAN) Ir H Heri Dermawan.

Menjelang Lebaran, kata Heri, peternak rakyat sudah tidak punya ayam di kandang. Ayam-ayam mereka sudah diobral, dijual murah atau dilepas begitu lantaran menjelang bulan puasa lalu harga ayam jatuh tersungkur jadi Rp 4.000 sampai Rp 8.000 per kg. Peternak rugi besar, tak sanggup beli sehingga ayam dijual murah.

“Kandang kosong, begitu harga naik peternak sudah tidak punya ayam untuk dijual. Sudah tidak punya stok. Pertanyaannya sebelum lebaran, kok daging ayam potong di pasar masih banyak. Ayam dari mana. Itu adalah ayam-ayam milik integrator (perusahaan peternakan besar) yang juga menjual ayam ke pasar becek (pasar tradisional). Seharusnya mereka tidak melakukan itu ,” kata Heri.

Memprediksi stok ayam akan langka menjelang Lebaran, integrator pun menyewa kandang peternak mandiri yang sedang guncang (kolaps) dan juga menyewa kandang close house termasuk di Ciamis. Sedangkan peternak rakyat tak sanggup membeli DOC yang sudah menembus Rp 6.500 per ekor dan pakan masih tetap mahal, Rp 7.500 per kg karena simpanan mereka sudah terkuras untuk menutup kerugian yang besar akibat harga anjlok terimbas Covid-19.

Ketika harga ayam hidup di tingkat peternak Rp 20.000 sampai Rp 21.000 per kg setelah Lebaran ini, harga yang normal di tingkat pasar eceran, menurut Heri, adalah Rp 31.000 sampai Rp 32.000 per kg. Dengan harga itu semua lini sudah dapat untung baik itu bandar, tukang sembelih maupun pedagang eceran di pasar maupun pedagang keliling. “Dengan harga eceran Rp 32.000 per kg saja pedagang sudah untung apalagi Rp 40.000 per kg,” katanya.

Menurutnya, bila harga di kandang Rp 18.000 per kg harga normal daging ayam potong di tingkat eceran adalah berkisar Rp 26.000 per kg dan semua lini juga sudah menikmati keuntungan. (andri m dani)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved