Teknologi Pelacak Covid-19 Hasil Kerja Sama Apple dan Google Diresmikan, Siap Diadopsi Pemerintah
Sistem pelacak Covid-19 yang dikembangkan hasil kerja sama Apple dan Google beberapa waktu lalu, resmi mulai diumumkan.
TRIBUNJABAR.ID - Sistem pelacak Covid-19 yang dikembangkan hasil kerja sama Apple dan Google beberapa waktu lalu, resmi mulai diumumkan.
Versi perdana sistem Application programming interface (API) bernama Exposure Notification itu, dikutip dari Kompas.com, Jumat (22/5/2020), kini sudah tersedia dan siap diadopsi oleh otoritas kesehatan untuk dikembangkan menjadi aplikasi buatan pemerintah.
Baik iOS milik Apple dan Android milik Google akan memberikan pembaruan software untuk aplikasi buatan pemerintah yang berbasis teknologi bikinan mereka.
• Soal Dugaan Bocornya Jutaan Data Kependudukan Warga Indonesia dalam DPT 2014, Begini Kata KPU
Apple bahkan telah menggulirkan dukungan API Exposure Notification di pembaruan iOS 13.5.
Saat ini sudah ada 23 negara yang kabarnya tertarik menggunakan software buatan Apple dan Google.
Selain AS, Jerman rencananya juga akan menggunakan teknologi Exposure Notification untuk membuat peta.
Begitu pula dengan Perancis dan Inggris, yang kabarnya juga berminat menggunakan API buatan dua perusahaan raksasa itu.
Negara-negara tersebut tertarik dengan iming-iming proteksi data pengguna yang ditawarkan oleh sistem.
Apple dan Google sesumbar bahwa mereka tidak menggunakan GPS untuk melacak pasien Covid-19 dan lebih mengutamakan perlindungan privasi pengguna.
Teknologi ini menggunakan konsep contact tracing yang bertumpu pada Bluetooth untuk melacak pasien.
• KABAR GEMBIRA, BPKH Badan Pengelola Keuangan Haji Buka Lowongan Kerja Besar-besaran, Daftar di Sini
Lebih tepatnya, sistem ini memanfaatkan Bluetooth Low Energy (BLE) yang tidak menguras baterai smartphone saat diaktifkan.
Untuk mengumpulkan data, ada tiga kunci yang digunakan yakni tracing key, daily tracing key (pelacak harian), dan rolling proximity identifier (pengidentifikasi kedekatan).
Software ini akan melacak pengguna yang kemungkinan pernah berkontak atau bersinggungan dengan pasien positif Covid-19.
Nantinya, otoritas kesehatan bisa mengidentifikasi terduga pasien terinfeksi, lalu meminta mereka untuk karintina mandiri.
Teknologi ini bisa memudahkan penelusuran, ketimbang menanyai pasien positif dan mengharuskan mereka mengingat-ingat pernah berkontak dengan siapa saja dan di mana saja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-virus-corona1.jpg)