Praktik Curang Distributor Bikin Harga Gula Jauh Lampaui HET, Digerebek Kemendag

Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (Ditjen PKTN) membongkar permainan kotor distributor gula.

vidvoviday.com
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Perlindungan
Konsumen dan Tertib Niaga (Ditjen PKTN) membongkar permainan kotor distributor gula. Akibat permainan itu, harga gula pasir di pasaran jadi tinggi yang bahkan hingga kini sulit turun ke harga eceran tertinggi (HET) yaitu Rp12.500 per kilogram.

Distributor ini sengaja menjual harga gula di atas HET kepada distributor-distributor lainnya hingga mencapai empat hingga lima jalur distribusi sebelum gula dijual ke pengecer.

Akibatnya beberapa waktu lalu harga gula di tingkat konsumen melambung hingga Rp 18 ribu per kilogram dan mencapai puncaknya Rp 22 ribu per kilogram di Manokwari dan di Malang mencapai Rp 16 ribu per kilogram.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dan Dirjen PKTN Veri Anggrijono mendatangi lokasi penggerebekan gula milik distributor PT PAP yang berada di gudang produsen PT Kebon Agung di
Jalan Kebon Agung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, belum lama ini.

Dalam penggerebakan ini, sebanyak 300 ton gula konsumsi milik distributor pertama ini berhasil diamankan. Jumlah ini hanya sebagian kecil yang bisa diselamatkan.

Diduga distributor gula ini telah menjual ribuan ton gula ke distributor lainnya hingga beberapa lapis distributor dengan harga Rp 13 ribu per kilogram, jauh di atas harga acuan konsumen.

Hasil pengawasan barang beredar Ditjen PKTN Kemendag ditemukan penjualan gula dari distributor satu ke distributor kedua gula hingga distributor ke D-3 dan D-4 bahkan dijual lintas
provinsi dengan harga yang sudah mencapai Rp 13 ribu per kilogram.

Penjualan ini masih harus melewati mata rantai agen dan pengecer sebelum sampai kepada konsumen akhir sehingga HET Rp 12.500 per kilogram di tingkat konsumen sulit tercapai.

"Kemendag akan menyelidiki lebih lanjut temuan ini sebelum dijatuhkan sanksi pencabutan izin usaha dan dibawa ke ranah hukum untuk diberi sanksi,” kata Mendag dalam siaran pers yang dikutip Tribun, Jumat (22/5/2020).

Selama ini Kemendag telah melakukan berbagai upaya dan terobosan kebijakan untuk mengatasi tingginya harga dan kelangkaan stok gula di pasaran terutama dalam menghadapi kebutuhan puasa Ramadan dan Hari Raya Idulfitri. Tujuannya untuk menjaga ketersediaan gula dan stabilitas harga di seluruh penjuru Tanah Air.

Periode Oktober 2019 sampai dengan Mei 2020, Kemendag telah menerbitkan izin impor raw sugar untuk diolah menjadi gula konsumsi, menerbitkan izin impor gula konsumsi dan penugasan realokasi raw sugar gula industri menjadi gula konsumsi, sebagai langkah untuk menjamin pasokan dan stabilisasi harga gula nasional.

Kemendag tidak akan mengendorkan pengawasan dan akan menindak tegas distributor yang tidak terdaftar dan masih melakukan tindakan-tindakan yang melanggar aturan. “Kami tak segan akan mencabut izin usaha dan membawa kasus ini ke ranah hukum,” katamya.

Mendag juga menyesalkan tindakan pelaku usaha yang masih mempertontonkan keinginan
mengeruk keuntungan yang besar di tengah keprihatinan dan kesusahan rakyat menghadapi COVID-19.

“Kami minta oknum-oknum seperti ini segera dihentikan praktik nakal, seperti sekarang ini. Jangan pernah ada yang memanfatkan keadaan dengan mengambil keuntungan di atas penderitaan rakyat. Seharusnya kita semua bersama-sama mengamankan harga kebutuhan pokok terutama
harga gula ini sesuai harga yang ditetapkan pemerintah agar masyarakat tidak semakin berat menghadapi pandemi ini,” katanya. (*)

Penulis: Siti Fatimah
Editor: Sugiri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved