Bupati Sebut Pemulung & Manusia Gerobak di Purwakarta Berasal dari Luar Daerah, Satpol PP Siap Razia
Bupati sebut pemulung dan M manusia gerobak di Purwakarta banyak berasal dari luar daerah. Satpol PP siap merazia.
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: taufik ismail
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Maraknya pemulung musiman atau manusia gerobak di wilayah Purwakarta menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Purwakarta di bulan Ramadan dan di saat pandemi Covid-19 ini.
Hampir setiap sudut jalan di Purwakarta terdapat para pemulung baik hanya membawa karung atau pun membawa gerobak dengan membawa serta anak dan istrinya.
Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika pun ikut angkat bicara terkait pemulung atau manusia gerobak musiman yang semakin banyak di Purwakarta saat Ramadan ini.
Menurutnya, para pemulung yang kini marak di Purwakarta ini bukanlah orang atau warga asli dari Purwakarta.
"Kabupaten Purwakarta, sejauh ini menjadi salahsatu daerah di Jawa Barat sebagai tujuan kaum urban untuk menetap dan mencari peruntungan. Apalagi, di momen puasa sekarang dipastikan bakal terjadi peningkatan serbuan kaum urban yang kebanyakan dari luar Purwakarta tanpa berbekal kemampuan dan kesiapan apapun," katanya, Senin (4/5/2020).
Kasi Operasional dan Pengendalian Bidang Trantibum pada Satpol PP Purwakarta, Teguh Juarsa pun tak menampik adanya serbuan dari pemulung atau manusia gerobak.
Dia membenarkan memang momen Ramadan ini wilayahnya memang kerap didatangi kaum urban, misalnya pengamen, gelandang, dan pengemis dadakan, hingga manusia gerobak.
"Mereka ini kaum urban musiman lintas kabupaten. Jumlah mereka pun dipastikan bakal alami peningkatan sampai lebaran," ujarnya.
Satpol PP Purwakarta, kata Teguh, telah memprediksi fenomena ini. Sejak jauh hari, Satpol PP Purwakarta pun telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi, seperti mengintensifkan operasi dan menyiagakan petugas di sejumlah titik yang selama ini menjadi tempat mangkal mereka.
"Kami akan terus sisir lokasi yang jadi tempat mereka berkumpul, seperti sekitar lampu merah dan sejumlah titik keramaian lainnya," ujarnya.
Adapun pola yang dilakukan para petugas Satpol PP ketika ada kaum urban yang terjaring operasi yakni memberikan mereka pembinaan. Tetapi, jika mereka (pengemis) yang terjaring dari luar Purwakarta, mereka pun akan langsung mengembalikan ke daerah asalnya.
"Jadi, keberadaan para pengemis hingga manusia gerobak ini perlu diwaspadai bersama sebagai bagian dari upaya penanggulangan dan pencegahan penyebaran wabah Covid-19," ucap Teguh.
Berdasarkan pantauan Tribun Jabar, hanya beberapa pemulung yang memang benar-benar mencari nafkah melalui mencari rongsokan ini.
Tapi, justru mayoritas para pemulung ini hanya menjual empati dan lebih ironisnya mereka membawa anak-anaknya, sehingga hal ini menjadikan jelek atau buruk citra Purwakarta.
• Dini Hari Tadi 5 Taksi Gelap Bawa Pemudik Diusir dari Sukabumi, Tarifnya Rp 300 Ribu dari Jakarta