Trik Pengusaha Hadapi Virus Korona

Pengusaha Sneakers Siapkan Makanan Sehat Setiap Hari Agar Karyawannya Terjaga dari Virus Corona

Untuk memberikan jaminan kesehatan bagi karyawannya saat pandemi virus corona. Yusuf Sahroni (31), pemilik perusahaan sneakers LAF Project di Cibaduyu

Istimewa
TETAP BEKERJA - Karyawan tetap bekerja dan diberi jarak antara satu dan yang lainnya di bengkel sepatu LAF Project di Gang Haji Ibrahim, Jalan Ciabduyut, Kota Bandung, Kamis (2/4). 

TRIBUNJABAR.ID - Untuk memberikan jaminan kesehatan bagi karyawannya saat pandemi virus corona. Yusuf Sahroni (31), pemilik perusahaan sneakers LAF Project di Cibaduyut, sangat memperhatikan asupan. Dia menyediakan makanan sehat.

"Memperhatikan juga karyawannya karena kadang pegawai suka telat makan. Agar sistem imun stabil atau tidak lemah," kata Yusuf saat dihubungi Tribun Jabar lewat WhatsApp, Kamis (2/4).

Yusuf juga mengisolasi pekerjanya di rumah yang sekaligus tempat produksi di Gang Haji Ibrahim, Jalan Ciabduyut, Kota Bandung. Terutama bagian administrasi yang kebanyakan belum berumah tangga dan indekos. Mereka bisa tidur di tempat yang telah disediakan di sana.

Karena karyawannya sedikit, Yusuf memberikan jarak antara karyawan dan karyawan lainnya di tempat bekerja. "Ini untuk menjaga kesehatan. Kami juga menyediakan hand sanitizer. Setiap keluar-masuk, karyawan harus pakai hand sanitizers," katanya.

Untuk yang bekerja di pabrik karena kebanyakan karyawannya sudah menikah, Yusuf memperbolehkan pulang. Namun, katanya, tetap memperhatikan asupan dan kesehatan mereka.

Yusuf berharap pandemi virus corona cepat berlalu. Setelah virus itu merebak, Yusuf merasa waswas. Terutama terhadap kesehatan keluarga, karyawan, dan semua warga Indonesia. "Kalau seperempat orang Indonesia terkena, kan, bahaya juga untuk ke depannya," kata Yusuf.

Yusuf juga waswas sumber bahan baku produk sepatu tidak tersedia karena sebagian toko sudah tutup. Yusuf mengaku kesulitan ketika banyak wilayah yang sudah dikarantina.

Saat ini, perusahaan Yusuf memasarkan melalui online. "Garda terdepan saya adalah ekspedisi. Jika ekspedisi tidak berjalan, pengiriman barang ke konsumen tidak akan berjalan," katanya.

TETAP BEKERJA - Karyawan tetap bekerja dan diberi jarak antara satu dan yang lainnya di bengkel sepatu LAF Project di Gang Haji Ibrahim, Jalan Ciabduyut, Kota Bandung, Kamis (2/4).
TETAP BEKERJA - Karyawan tetap bekerja dan diberi jarak antara satu dan yang lainnya di bengkel sepatu LAF Project di Gang Haji Ibrahim, Jalan Ciabduyut, Kota Bandung, Kamis (2/4). (Istimewa)

Untungnya, kata Yusuf, hingga Kamis (2/4), perusahaan ekspedisi masih tetap buka meski ada keterlambatan. Waktu pengiriman yang biasa ke Jabodetabek 1-3 hari bisa lebih lama. Waktunya disesuaikan dengan kondisi di lapangan. "Setiap hari saya selalu konfirmasi kepada pihak ekspedisi," katanya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat, Mochamad Ade Afriandi, mengatakan, puluhan ribu pekerja di Jawa Barat harus dirumahkan dan ribuan lainnya mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Sekitar 40 ribuan yang dirumahkan dan tiga ribuan itu yang terdampaknya PHK. Total sekitar 43 ribuan, lah. Itu baru data sementara. Nah, sebelum final, berarti data itu data sementara dan terus berkembang atau terus di-update," kata Ade saat dihubungi, Sabtu (4/4).

Menurut Ade, dia baru mendata 502 perusahaan di 21 kabupaten dan kota di Jawa Barat sejak 31 Maret 2020. Di Jawa Barat sendiri ada sekitar 47.221 perusahaan, 30 ribu perusahaan di antaranya masuk kategori mikro. Skala kecil ada sekitar enam ribu perusahaan, skala sedang ada lima ribu perusahaan, dan skala besar industri ada sekitar tiga ribu perusahaan.

Yusuf Sahroni (31), pengusaha sepatu di Cibaduyut.
Yusuf Sahroni (31), pengusaha sepatu di Cibaduyut. (Tribun Jabar/Januar P Hamel)

"Sebanyak 502 perusahan di Jabar itu ternyata 86 persennya sudah memberikan gambaran atau laporan mereka terdampak oleh Covid-19. Artinya, kan, pastilah ada yang terdampak sampai bisa tutup atau mungkin off dulu," ujar Ade.

Menurut Ade, dampak yang mereka rasakan antara lain kesulitan bahan baku. Negara yang diandalkan untuk mengimpor bahan baku, kata Ade, melakukan kebijakan lockdown. Selain itu, pihak perusahaan atau industri juga bergantung pada pembeli yang mayoritas berada di negeri yang menyatakan lockdown.(nazmi abdurahman/januar ph)

Editor: Januar Pribadi Hamel
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved