Breaking News:

Virus Corona di Jabar

Mulai Hari Ini Tak Ada Lagi Bus Tujuan Garut yang Beroperasi, Terminal Ditutup

Mulai hari ini tak ada lagi bus yang keluar masuk Garut. Terminal ditutup.

Dokumentasi Diskominfo Garut
Petugas kesehatan mengukur suhu tubuh penumpang kendaraan umum yang baru memasuki wilayah Garut di Jalan Lingkar Kadungora, Kecamatan Kadungora, Minggu (22/3/2020). 
TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Mulai hari ini, tak ada lagi bus yang keluar dan masuk Garut.
Ada sekitar 300 bus antar kota antar provinsi (AKAP) dari Garut tujuan Jabodetabek.
Bus-bus tersebut sudah tak beroperasi mulai kemarin setelah penutupan sejumlah terminal.
Bus tujuan Jakarta dari Garut berangkat terakhir pada pukul 18.00.
 
Ketua Organda Garut, Yudi Nurcahyadi, mengatakan mulai hari ini semua bus AKAP tak ada yang datang dan berangkat setelah adanya kebijakan penutupan terminal.
Sejak tiga hari lalu, beberapa bus juga sudah tak beroperasi.
 
"Sebanyak 300an bus AKAP dipastikan tak beroperasional. Karena provinsi tujuan tolak masuk. Terakhir kemarin ada beberapa yang masih operasional. Sebagian besar sudah tidak jalan," ucap Yudi di Kantor Organda, Jalan Proklamasi.
 
Tak beroperasionalnya ratusan bus itu, disebut Yudi tentu sangat merugikan. Diakuinya, dalam beberapa pekan jumlah penumpang bus mengalami penurunan karena pembatasan sosial yang diberlakukan pemerintah. 
 
Berbeda dengan bus AKAP, elf dari Bandung tujuan ke sejumlah daerah di Garut justru masih ramai. Bahkan lonjakan penumpang terjadi pada akhir pekan.
 
"Sabtu Miinggu ada lonjakan penumpang ke selatan untuk elf. Banyak yang pulang. Tapi kalau bus AKDP seperti dari Bandung sudah banyak yang tak jalan," katanya.
 
Organda sudah meminta agar pemerintah bisa memberi insentif bagi sopir, kernet, dan pengusaha bus. Pasalnya penutupan tersebut masih belum jelas waktunya.
 
"Untuk sopir harus ada BLT (bantuan langsung tunai). Kalau pengusaha minta insentif untuk penangguhan cicilan kendaraan, jaminan suku cadang, dan pengurangan pajak," ujarnya.
 
Pengusaha sudah jelas merugi dengan kebijakan ini. Namun di tengah pandemi corona, para pengusaha harus taat dengan aturan pemerintah.
 
Tak hanya bus, sejumlah angkutan umum di Garut juga sudah banyak yang tak beroperasi. Dari empat trayek di perkotaan Garut, hanya 30 persen angkot yang masih beroperasi.
 
"Totalnya itu ada 320 angkot di kota. Artinya kurang dari 100 yang jalan. Itupun setorannya tidak memadai. Harusnya Rp 150 ribu, ini paling setor Rp 50 ribu," katanya.
 
Tak hanya angkutan umum, angkutan barang disebut Yudi juga ikut terkena dampak. Mereka tak bisa beroperasional dengan situasi saat ini.
Penulis: Firman Wijaksana
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved