P2MS ITB Prediksi Kasus Covid-19 di Indonesia Berkahir Medio April, Jika Ditangani Tepat dan Serius

Tim peneliti ITB memprediksi penyebaran virus corona atau Corona Virus Desease ( Covid-19) di Indonesia akan berakhir pada pertengahan April 2020.

Pixabay
P2MS ITB Prediksi Kasus virus corona Covid-19 di Indonesia Berkahir Medio April, 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana
  
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tim peneliti dari Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) Institut Teknologi Bandung (ITB), memprediksi penyebaran virus corona atau Corona Virus Desease ( Covid-19) di Indonesia akan berakhir pada pertengahan April 2020.

Prediksi yang dilakukan oleh para dosen Program Studi Matematika yaitu, Dr. Nuning Nuraini S.Si., M.Si., dosen Program Studi Matematika ITB beserta Kamal Khairudin S. dan Dr. Mochamad Apri S.Si, M.Si, itu berdasarkan hasil kajian simulasi dan pemodelan sederhana.

Dosen Program Studi Matematika, Dr. Nuning Nuraini S.Si., M.Si mengatakan, berdasarkan hasil kajian pemodelan dengan judul “Data dan Simulasi COVID-19 dipandang dari Pendekatan Model Matematika” dapat disimpulkan bahwa Indonesia akan mengalami puncak jumlah kasus harian COVID-19 pada akhir Maret 2020 dan berakhir pada pertengahan April 2020, dengan kasus harian baru terbesar berada di angka sekitar 600 kasus.

Di Tengah Wabah Corona, Krisdayanti Malah Liburan ke Eropa, Yuni Shara: Semoga Balik dengan Selamat

Menurutnya, landasan dilakukannya penelitian tersebut, dilatarbelakangi oleh kasus COVID-19 di Indonesia yang menjadi bagian dari pandemi global dan telah melahirkan berbagai riuh rendah serta kontroversi apakah tindakan yang diambil telah cukup untuk menangkal penyebaran lebih lanjut, ataukah terlampau berlebihan. 

Kesimpangsiuran informasi tentang keseriusan penanganan tersebuti, lanjutnya dikhawatirkan akan mengganggu usaha nyata untuk menanggulangi bencana yang sebenarnya. 

"Dalam penelitian ini, kami berusaha menjawab pertanyaan mendasar tentang epidemi yang sedang terjadi saat ini di Indonesia, melalui suatu model matematika sederhana yang sama sekali tidak mengikutkan faktor-faktor yang kompleksitasnya tinggi," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (19/3/2020).

Bayi 7 Bulan PDP Virus Corona di Jayapura, Tidak Ada Riwayat Pergi ke Luar Negeri tapi dari Jakarta

Nuning menuturkan, dalam penelitiannya tersebut, Ia dengan tim membangun model representasi jumlah kasus Covid-19 dengan menggunakan model Richard’s Curve dan parameter yang dibutuhkan diestimasi dengan Metode Least Square, sehingga menghasilkan kurva yang merepresentasikan dinamika penderita dengan galat yang minimal.

Menurutnya, model tersebut, terbukti berhasil memprediksi awal, akhir, serta puncak endemi dari penyakit SARS di Hong Kong tahun 2003. 

Nuning menjelaskan, secara umum, Richard’s Curve dan Metode Least Square memberikan model yang 
cukup merepresentasikan dinamika penderita Covid-19 pada setiap negara yang ditinjau.

Sebagai contoh, jumlah penderita di China relatif tidak bertambah pada angka sekitar 80.000 
penderita.

Halaman
123
Penulis: Cipta Permana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved