Tamiya Tak Ada Matinya, Modifikasi Mobil-mobilan Ini Pun Seru dan Menghasilkan Uang
Tamiya adalah permainan mobil-mobilan yang berasal dari Jepang. Sempat populer pada 1980-1990-an
Penulis: Januar Pribadi Hamel | Editor: Ichsan
Selain itu juga, kata Herman, ada yang menginginkan bannya berwarna, bisa merah, biru, atu hitam sesuai keinginan.
Herman memasang tarif untuk jasa modifikasi ban sebasar Rp 50.000. Adapun harga satu set ban, Herman membandrol Rp 190.000. Setiap Tamiya, kata Herman, membutuhkan empat ban, empat pelek, dan dua as.
"Saya bisa menyelesaikan 10 ban per hari. Saya menjualnya ke pemain dan ke toko juga. Cuma harga ke toko agak beda untuk part-nya. Kalau jasa tetap," kata Herman.
Herman menyediakan stok jika tak ada orderan. Dia menjualnya kalau ada yang membutuhkan. Dia juga tidak takut rugi dan tidak yang membeli stok bannya. (januar ph)

Ada Kejurnas dan Road to Japan
Para pehobi Tamiya memiliki saluran untuk membuktikan hasil modifikasi. Mereka memiliki balapan layaknya balap mobil beneran, seperti kejuaraan nasional (kejurnas). Bahkan mereka memiliki balapan Road to Japan.
Untuk kejurnas bakal diselenggarakan 27, 28, dan 29 Maret di Miko Mal. Persertanya dari seluruh Indonesia. Balapan ini mengusung tema Smilling West Java.
"Yang terdaftar sudah 14 kota, seperti Medan, Makassar, Samarinda, Manado, dan Surabaya," kata Ketua Panitia Kejurnas, Billy Tan di sirkuit Padepokan Jendral, Pasar Nostalgia, Batununggal, Kota Bandung, Selasa, (3/3/2020).
Kejurnas ini memperebutkan total hadiah Rp 100 juta. Untuk menyediakan hadiah dan biaya lainnya untuk Kejurnas, menurut Billy, disediakan oleh Paguyuban Tamiya Mini 4WD Bandung (PTM4B). "Nanti sih, kemungkinan ada sponsor," katanya.
Peserta tak perlu mendaftar untuk mengikuti Kejurnas. Para pehobi Tamiya ini datang saja ke Miko Mall. Jika ingin ikut balapan membayar Rp 5.000 dalam setiap race-nya.
"Kejurnas ini merupakan ajang silaturhmi antarpehobi Tamiya di seluruh Indonesia. Untuk tahun ini kami, PTM4B sebagai penyelenggaranya," kata Billy.
Dalam setiap balapan regulasinya harus mengikuti yang ditentukan Tamiya. Regulasi ini muncul setelah muncul Road to Japan pada 2013. "Tadinya tidak ada kategori STB (Standar Tamiya Boks) atau STO (Standar Tamiya Original). Semua Tamiya tidak terbatas boleh saling membalap," kata Herman, pehobi Tamiya.
Kategori STB adalah Tamiyanya harus merupakan rakitan yang tersedia dalam boks. Kalau pun boleh merakit harus menggunakan part atau onderdil dari boks lain. Bahannya harus dari plastik dan orisinal Tamiya.
Untuk kategori STO, Tamiyanya merupakan hasil modifikasi yang syaratnya onderdil harus buatan Tamiya. Namun, onderdil bisa membeli dari toko-toko Tamiya. Bahannya bebas, bisa dari plastik, karbon, fiber, atau yang lainnya.
Road to Japan sendiri adalah balapan di Jepang hasil seleksi dari berbagai negara. Kalau di Indonesia, pebalap harus mengikuti 7 seri yang diselenggarakan di tiap kota. Juara satu di setiap seri mendapat 10 poin, juara dua poinnya delapan, dan juara ketiga enam poin. Setiap pengumpul poin terbanyak berhak membalap di Jakarta.
Di Jakarta, pebalap yang datang dari seluruh Indonesia diadu. Sistemnya langsung gugur. Biasanya tiga yang terbaik berhak terbang ke Jepang.