Perajin Rajut Binongjati
Perajin Rajut Binong Jualan di Distro dan Butik, Kualitas Premium, Bidik Pasar Menengah ke Atas
GENERASI ketiga pengusaha rajut Binongjati tidak tinggal diam. Mereka tidak mau warisan dari orang tuanya tenggelam begitu saja. Pertumbuhan yang tela
GENERASI ketiga pengusaha rajut Binongjati tidak tinggal diam. Mereka tidak mau warisan dari orang tuanya tenggelam begitu saja. Pertumbuhan yang telah dirasakan, mereka perjuangkan dengan berbagai ide agar bisa bertahan.
Satu di antaranya menaikkan segmen pasar rajutan. Yang biasanya menyasar segmen menengah ke bawah, sekarang rajutan Binongjati membidik kelas atas.
"Jadi kami tidak menjual rajutan di pasar saja. Kami juga sekarang menjual rajutan di butik dan bahkan distro. Yang tentu saja kualitasnya premium," kata Epa Sartika, pengusaha rajutan di tempat kerjanya, Jalan Binongjati, Kelurahan Binong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Rabu (26/2).
Menurut Epa, mereka yang tergabung dalam paguyuban Kampoeng Radjoet mendesain berdasarkan kebutuhan konsumen.
"Kami menerapkan preorder. Jadi nggak membuat rajutan secara massal. Ada preoder baru kami kerjakan. Desainnya juga kebanyakan datang dari buyer, " kata Epa.
Kalau dulu, kata Epa, model dibikin secara massal. Satu rumah bikin model, semua ikut model yang itu. Jadi orderan sepi, semua ikut sepi.
Kampoeng Radjoet adalah wadah pengusaha muda rajutan di Binongjati. Mereka adalah generasi ketiga dari orang tuanya yang pernah sukses di dunia rajutan. Awalnya saat pembentukan 2017 banyak yang antusias. Namun, lambat laun, hingga sekarang hanya tiga orang yang bertahan.
Untungnya, kata Epa, rekannya itu sudah dikenal di Dinas Industri dan Perdagangan (Disdagin) dan kampus-kampus. Menurut Epa, hal tersebut sangat menguntungkan dalam segi pemasaran.
Menurut Epa, permintaan rajutan semakin meningkat. "Kami tidak kuat untuk memproduksi sendiri, kalau harus memproduksi dalam seminggu beberapa lusin kan. Makanya, kami juga sering meminta bantuan produksi ke perajin lain," katanya.
Epa berpendapat, peningkatan permintaan rajutan meningkat karena kreativitas anak muda yang lebih tinggi. Anak mudanya di sini, kata Epa, pintar-pintar, rata-rata lulusan S1.
"Kami terus berpikir. bagaimana caranya rajutan ini menjangkau anak, remaja, terus orang tua juga. Kalau dulu, kan rajut-rajutan itu dianggap panas kalau dipakai. Iya murahan juga. Sekarang tidak. ABG juga banyak yang pakai rajutan Binongjati," kata Epa.
Kampoeng Radjoet buka pelatihan juga kalau ada perguruan tinggi yang mengundang.
"Kami, insyaallah kami datang kalau diundang," katanya.
"Pernah ada universitas di Yogya yang meminta pelatihan ke sini. Mereka berlatih mulai pembelian mesin hingga benang. Mereka membawanya ke sana."
Menurut Epa, yang berminat mengadakan pelatihan bisa datang ke Kampoeng Radjoet di Binongjati. Tapi, katanya, biasanya mereka datang dulu ke Disdagin dan menunjukkannya ke sini. (januar ph)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/epa-sartika-pengusah-rajut-binongjati.jpg)