Senin, 1 Juni 2026

Hasil Kerja Keras, Azoo Moncer di Akademis dan Profesi, Dipercaya Maju Jadi Calon Ketua IKA Unpad

Dipercaya untuk maju sebagai calon Ketua IKA Unpad, selain akademiknya yang moncer, Azoo juga mampu menorehkan catatan ciamik di dunia profesional

Tayang:
Penulis: Kemal Setia Permana | Editor: Dedy Herdiana
Istimewa
Ary Zulfikar yang akrab disapa Azoo, moncer di akademis dan profesi, kini dipercaya maju jadi calon Ketua IKA Unpad. 

Dari Wartawan Hingga Konsultan

Ary Zulfikar yang akrab disapa Azoo, moncer di akademis dan profesi, kini dipercaya maju jadi calon Ketua IKA Unpad.
Ary Zulfikar yang akrab disapa Azoo, moncer di akademis dan profesi, kini dipercaya maju jadi calon Ketua IKA Unpad. (Istimewa)

Ary Zulfikar tidak membayangkan sama sekali jika akhirnya dia akan menjadi seperti saat ini. Azoo dulu sempat bercita‑cita ingin menjadi wartawan. Alasannya, Azoo sangat tertarik mengikuti jejak sang ayah yang adalah seorang wartawan.

"Saya menganggap wartawan itu suatu profesi di mana bisa tahu segala hal sehingga bisa menjadi sumber informasi bagi semua orang. Makanya sejak SD, saya sudah terlibat dalam penerbitan majalah sekolah. Sampai kemudian saya juga terlibat dalam penerbitan majalah Fakultas Hukum Unpad, yaitu Majalah Vonis sebagai pemimpin redaksi," ujarnya.

Azoo kemudian mengenang sebuah cerita menarik dalam perjalanan penerbitan Majalah Vonis tahun 1990-an.

Waktu itu dia mengambil topik tentang "Golput" karena saat itu terjadi fenomena golput dalam setiap pemilu yang dilakukan rezim pemerintahan saat itu.

Niatnya baik, hanya menguraikan fakta yang terjadi di kalangan mahasiswa muda, mengapa fenomena itu terjadi.

"Gara-gara tulisan itu, kantor Majalah Vonis sempat didatangi Ditsospol dan mereka "mengambil" saya pada saat saya sedang mengikuti kuliah di ruang kelas untuk diwawancara. Saya dimintai keterangan alasan dan tujuan dari penerbitan dengan topik itu," katanya.

Namun, dalam perjalanannya, Azoo kemudian mulai tertarik juga dengan dunia hukum.

Pada tahun 1980‑an, profesi pengacara tidak terlalu diminati kebanyakan orang. Semua orang, ucap dia, selalu berminat ingin jadi bankir atau paling tidak bekerja di instansi pemerintah yang dianggap paling terjamin kehidupannya.

Mungkin karena dulu suka membaca buku‑buku detektif pada masa itu, membuat Azoo membulatkan tekad untuk mengambil jurusan Hukum.

"Karena orang tua saya wartawan dan hidup tidak berlelebihan, berpesan agar anak‑anaknya dapat masuk sekolah dan perguruan tinggi negeri," katanya.

Azoo adalah anak terakhir dari lima bersaudara yang dulu berdomisili di Jakarta. Namun, hatinya mendorong dia untuk sekolah di Bandung.

Bagi Azoo, Kota Bandung merupakan pilihan yang ideal untuk dia berkuliah. Selain itu, Azoo juga mau belajar lebih mandiri dengan kuliah merantau ke Bandung dari Jakarta.

"Pilihan saya waktu itu adalah Jurusan Fakultas Hukum dan yang kedua Perpustakaan. Keduanya di Unpad. Pertimbangan saya mengambil kedua jurusan itu, saya menganggap kedua jurusan itu yang mendekatkan saya pada buku‑buku literatur. Saya tidak mengambil pilihan ke universitas swasta apabila saya gagal di UMPTN. Alhamdulillah, saya dapat diterima di FH Unpad tahun 1989," ujarnya.

Selepas lulus dari FH Unpad, Azoo diterima bekerja di Kantor Hukum Kartini Muljadi & Rekan (KMR).

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved