Perajin Rajut Binongjati
Asep Dadang Terpincut Jadi Pengusaha Rajut Binong dan Keluar Bekerja, Omzet Ratusan Juta Per Bulan
YANG kembali menggerakkan industri rajutan rumahan di Binongjati adalah anak-anak pengusaha rajutan di sana yang sukses. Sebut saja Asep Dadang. Ia me
YANG kembali menggerakkan industri rajutan rumahan di Binongjati adalah anak-anak pengusaha rajutan di sana yang sukses. Sebut saja Asep Dadang. Ia mengaku meneruskan usaha ayahnya sejak 2006. Bahkan Asep memutuskan keluar dari pekerjaannya di pabrik.
Asep mengaku pernah kuliah di jurusan pertekstilan Universitas Bandung Raya (Unbar). Ia memilih kuliah karena dulu ayahnya menginginkan dia bekerja.
"Pokoknya anak keluar kuliah harus kerja. Saya kuliah yang tiga tahun. Saya sebelum kuliah di Unbar nganggur dua tahun. Ikutan UMPTN, nggak masuk-masuk," kata Asep terkekeh.
Ayahnya Uju (almarhum), dulunya, termasuk pionir pengusaha rajutan di kawasan tempat kejanya. Sebelumnya, Uju bekerja di orang Tionghoa. Setelah itu bisa buka sendiri.
"Waktu itu tahun 1971. Ada sekitar lima, enam orang yang menjadi perajin rajut," katanya.
Asep pernah mengirim produk rajutannya ke Pasar Tanah Abang, Jakarta. Dulu, katanya, bisa mengirim seratus lusin per hari.
"Sekarang, pun masih jualan ke Tanah Abang tapi nggak banyak. Kalau ke Tanah Abang habis ongkos dan waktu. Saya lebih memilih pasar online. Kalau di online, kan, lebih simple," katanya.
Untuk pasar offline, rajutan buatan Asep 80 persen dikirim di Pulau Jawa. Adapun yang 20 persennya ada yang dikirim ke Bukittinggi, Lombok, dan tempat lainnya.
"Saya memproduksi baju anak-anak, baju dewasa, kupluk, dan syal. Dulu mah membuat tas, tapi sekarang sudah tidak lagi," katanya. (januar ph)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/rajutan-pesanan.jpg)