Kamis, 16 April 2026

Perjuangan Guru dan Murid SD yang Sekolahnya Kerap Kebanjiran di Dayeuhkolot

Para murid SDN Bojongasih 1 dan 2 terlihat masih ceria dan semangat untuk belajar, meski harus mengikuti

Penulis: Lutfi Ahmad Mauludin | Editor: Ichsan
tribunjabar/lutfi ahmad mauludin
Para murid SDN Bojongasih 1 dan 2 belajar di Aula Desa Dayeuhkolot 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Lutfi Ahmad Mauludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Para murid SDN Bojongasih 1 dan 2 terlihat masih ceria dan semangat untuk belajar, meski harus mengikuti pelajaran di Aula Desa Dayeuhkolot, Senin (17/2/2020). Mereka terpaksa belajar di aula desa karena sekolahnya kebanjiran.

Para murid menggelar kegiatan belajar tanpa menggunakan bangku dan meja. Mereka belajar secara lesehan, hanya dialasi tikar.

Para guru duduk di depan menggunakan meja, sambil menjelaskan materi yang disampaikannya. Setelah itu para murid terlihat serius mengisi soal-soal yang diberikan oleh para gurunya.

Menurut seorang guru SD Bojongasih, Wilasmayawati, kegiatan belajar mengajar di  SDN Bojongasih 1 dan 2, sudah dua hari digelar di aula desa.

"Meski banjir, sekolah tidak diliburkan. Hari sebelumnya banyak yang sekolah tapi sekarang sedikit karena banjirnya cukup tinggi," ujar Maya, setelah mengajar, Senin (17/2/2020).

Manchester City Dihukum UEFA, Del Piero: Pep Guardiola Ditakdirkan Latih Juventus

Maya mengatakan, proses belajar dalam satu ruangan yakni aula desa, tapi berbeda pelajaran dan kurikulum karena berbeda kelas.

"Jadwal belajarnya meski di balai desa tapi tetap sesuai dengan jadwal kurikulum," kata Maya.

Tentu kata Maya, adanya banjir yang menggenang rumah dan sekolah para siswa berpengaruh terhadap prestasi para muridnya.

"Seperti rumah yang paling dalam, paling tinggi tergenang banjirnya, otomatis terjebak sulit untuk berangkat sekolah. Otomatis berpengaruh ke perkembangan belajar anak," ujar dia.

Maya mengatakan, kalau banjirnya hanya  50 cm, anak-anak bisa berangkat sekolah, tapi kalau sudah satu meter lebih, sulit untuk melewatinya.

"Kadang anak ada yang dibawa mengungsi ke rumah saudaranya, jauh dari wilayah sini. Tapi ada juga meski banjir satu meter anak diantar orang tuanya naik perahu atau ban," kata dia.

Selain itu kendalanya, kadang buku tema atau buku pelajar yang dibawa anak ke rumahnya, hanyut atau basah terendam banjir.

"Bahkan adakalanya seragam anak juga ada yang terendam, itu kendala di daerah banjir," tuturnya.

Selain itu kesulitannya, kata Maya, kadang banjir sudah surut, sekolah sudah dibersihkan, besoknya mau digunakan.

Ini Penyebab Banjir yang Merendam Empat Kecamatan di Kabupaten Cirebon

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved