6 Kasus Digigit Ular Weling yang Menyita Perhatian, 5 Orang Tewas 1 Selamat tapi Lumpuh
Sebelumnya akhir Januri 2020 lalu Adi Ramdani bocah 11 tahun asal Bandung juga meninggal setelah digigit ular weling yang ditemukannya.
TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Adila Oktavia balita berusia 4 tahun meninggal setelah dirawat lima hari karena digigit ular weling saat tidur di rumahnya.
Sebelumnya akhir Januri 2020 lalu Adi Ramdani bocah 11 tahun asal Bandung juga meninggal setelah digigit ular weling yang ditemukannya.
Berikut lima kasus digigit ular weling dalam dua bulan terakhir.
1. Meninggal digigit ular weling saat nonton televisi Desember 2009 lalu
Ansori (35) warga Dusun Sumberejo, Desa Jabung, Kecamatan Talun, Blitar meninggal setelah digigit ular weling saat nonton televisi di rumahnya.
Ular weling sempat sembunyi di bawah karpet.
Lalu Ansori mengusir ular itu dengan sapu.
Sayangnya, Ansori berdiri begitu dekat sehingga ular weling menggigit kaki kirinya,
Merasa terancam, Ansori berupaya menghabisi ular tersebut dengan cara memukulkan tangkai sapu ke tubuh ular hingga kepalanya hancur.
Tanpa disadari, tubuh korban mulai merasa sakit.
Ia menghembuskan napas terakhirnya di samping ular yang juga sudah mati tersebut.
Anshori meninggal dunia sebelum sempat mendapat perawatan medis.
2. Gigitan bikin siswa lumpuh
Siswa kelas 2 lumpuh setelah digigit ular Ananda Yue Riastanto (8) bocah kelas 1 SD di Kulonprogo digigit ular weling pada 5 Januari 2017 sekitar pukul 03.00 WIB.
Ananda digigir ular weling di telunjuk kaki kirinya saat tidur lalu dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito.
Sugiyanto sang ayah bercerita setelah digigit ular, anaknya mual dan tubuh Ananda menjadi kaku karena pengaruh bisa ular weling.
Selama 32 hari, Ananda dirawat intensif di RSUP Sardjito.
Awal Mret 2017, Ananda diperbolehkan pulang namun kondisinya lumpuh.
Selain itu penglihatan Ananda tidak berfungsi secara baik.
"Secara fisik sehat, tapi Ananda ini badannya masih lemas. Sudah bisa mendengar, tapi belum bisa melihat dan bicara. Kalau dikagetkan dia juga terkejut," kata Sugiyanto.
3. Satpam tewas digigit ular weling
Iskandar (45), sekuriti perumahan Cluster Michelia, Gading Serpong, Tangerang tewas setelah digigit ular weling pada Agustus 2019 lalu.
Sebelumnya ia menangkap ular weling di sebuah perumahan Cluster Michelia di Jalan Micelia, Curug Sangereng, Kelapa Dua, Tangerang, Selasa (21/8/2019) sekitar pukul 19.00 WIB.
Iskandar menangkap ular dengan sapu dan digigit di telunjuk kiri saat akan memegang kepala ular.
Saat itu korban yang merasa gigitan tersebut tak berdampak panjang. ia hanya menghisap-hisap jarinya yang terus mengeluarkan darah.
30 menit kemudian Isakandar lemas dan dibawa ke Rumah Sakit Bathsaida dan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Kota Tangerang.
Ia meningal pada Rabu pagi sekitar pukul 04.30 WIB sebelum sempat ditangani tim medis Rumah Sakit Umum Kota Tangerang.
4. Bocah 11 tahun digigit ular yang ditangkap dekat rumah
Adi Ramdani (11), seorang bocah yang tinggal di RT 04 RW 09, Kelurahan Pasirjati, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung ditemukan tewas di rumahnya pada Rabu (22/1/2020).
Ia tewas karena digigit ular weling yang ditangkapnya di dekat rumahnya.
Plt Camat Ujung Berung Didin Dikayuana menjelaskan ular yang ditangkap Adi sempat ingin diperlihatkan kepada teman-teman di sekolahnya namun tetangga Adi melarangnya karena tahu ular weling tersebut berbisa.
"Korban bersikukuh bahwa ular tersebut sudah dibuang bisanya dan rencananya korban akan menjual ular tersebut," jelas Didin.
Pada saat memperlihatkan ke teman-temannya, Adi tidak sengaja digigit ular weling tersebut.
"Korban langsung pulang dan menyimpan lagi ular tersebut di akuarium rumahnya," ucapnya.
Sesampainya di rumah, Adi hanya sendirian karena ayahnya bekerja dan ibunya menghadiri rapat.
"Ketika ibunya pulang sudah lihat anaknya menggaruk-garuk lantai dengan mulut berbusa," kata Didin.
"Korban sempat dibawa ke RSUD Ujungberung tapi nyawanya tidak tertolong," katanya.
5. Balita tewas usai digigit bagian betis
Adila Oktavia balita empat tahun koma selama lima hari setelah digigit ular weling saat tidur di rumahnya di Desa Pamengkang Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Kosasih Kepala Desa Pamengkang bercerita setelah digigit ular welin Jumat malam, Adila segera dibawa ke rumah sakit pada Sabtu dini.
Sang ibu mengetahui anaknya digigit ular weling saat Adila terbangun dan menangis.
Saar diperiksa, orangtuanya menemukan ular weling di betis anaknya.
Adila kesakitan dan muntah berulang kali.
Kondisi kesehatan Adila dinyatakan sudah kritis. Sabtu pukul 06.00 WIB, tim RSD Gunung Jati menyatakan kondisi Adila koma.
Adila meninggal dunia pada Rabu (12/2/2020) malam sekitar pukul 20.30 WIB
Secara spesifik, Indonesia belum memiliki anti-bisa khusus racun yang dikeluarkan oleh ular weling atau Bungarus candidus.
Namun menurut Pakar Herpetofauna dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Nia Kurniawan, mengatakan korban gigitan ular weling juga bisa dikasih serum anti bisa ular (SABU).
Anti serum itu dibuat secara polivalen untuk ular kobra, ular welng, dan ular tanah.
Meskipun demikian, Nia mengatakan hasilnya tidak maksimal karena setiap ular memiliki karakteristik bisa sendiri.
Ia mengatakan jika bertemu ular weling sebaiknya menghindar karena ular weling dapat mengeluarkan racun neuroksi yang dapat meyerang saraf.
Efek gigitan ular weling berupa paralisis yakni kelumpuhan seperti capek, lemas, dan mengantuk hingga akhirnya meninggal.
Pria yang akrab dipanggil Wawan mengatakan jika tegigit ular weling harus dilakukan imobilisasi agar racun tidak menyebar ke seluruh tubuh.
Cara melakukan imobilisasi bisa dilakukan dengan alat bantu layaknya orang yang sedang patah tulang.
Hal itu dilakukan agar bagian yang tergigit tidak bergerak.
Menurutnya racun akan menyebar jika tubuh banyak bergerak karena racun ular menyebar melalui getah bening.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "5 Kasus Digigit Ular Weling, Bocah 11 Tahun Tewas hingga Siswa Kelas 1 SD Lumpuh"
Beda Ular Weling, Ular Welang dan Ular Cincin Emas
Antara ular weling, ular welang, dan ular cincin emas ternyata berbeda, meskipun bagi orang awam bisa jadi terlihat sama jika dilihat sekilas dari permukaannya.
Ketiganya memang terlihat mirip, yaitu memiliki warna belang yang khas, baik hitam kuning, atau hitam putih. Nah, sebagai pengetahuan untuk Anda, di sini akan dijelaskan perbedaan mencolok terkait ketiga ular ini.
Mengapa perlu diketahui? Hal ini disebabkan ular weling (Bungarus candidus), ular welang (Bungarus fasciatus), dan ular cincin emas (Boiga dendrophila) sama-sama memiliki bisa yang mematikan.
Oleh karena itu, Anda perlu waspada jika menemukan ketiga ular liar jenis ini di alam.
Menurut pecinta reptil terkenal, Panji Petualang, pada dasarnya ular tak akan menyerang jika tidak merasa terancam. Sebaliknya, jika ular tersebut merasa terusik, maka akan melakukan serangan balik.
Hal ini disampaikan dalam tayangan Teman Panji Net TV.
• Ular Weling Tewaskan Bocah di Bandung, Panji Petualang Pernah Beberkan Bagaimana Ganasnya Ular Itu
"Sifat ular liar ketika mereka diganggu mereka akan melakukan serangan balik. Ular pada dasarnya tidak menyerang jika tidak diganggu," katanya.
Pada tayangan itu, Panji juga menunjukkan jenis ular belang, bewarna hitam dan kuning yang ditemukan melingkar di atas pohon.
Ternyata ular yang ditemukannya itu ular cincin emas. Sang ular termasuk ular arboreal atau ular pohon. Berbeda dengan ular welang dan ular weling, keduanya tak hidup di pohon.
"Ular welang dan weling tidak di atas pohon, mereka cenderung tidak bisa memanjat pohon, sedangkan cincin emas merupakan jenis ular yang hidup di atas pohon atau alboreal. Jika hitam kuning di atas pohon itu bisa dipastikan adalah cincin emas," kata Panji Petualang.
Kemudian, Panji juga menjelaskan, ciri ular pohon seperti cincin emas memiliki ekor yang panjang untuk mengait atau di dahan pohon.
"Ciri-ciri ular arboreal atau ular pohon, mereka memiliki ekor yang panjang untuk mengait, jadi fungsi ekor ini untuk berpegangan, walaupun mereka tak memiliki tangan dan kaki tapi mereka memiliki kemampuan luar biasa, termasuk menyerangnya," ujarnya.
Untuk ular cincin emas, termasuk ular berbahaya karena memiliki bisa. Namun, disebutkan Panji Petualang, bisa ular ini hanya berdampak pada orang-orang yang memiliki golongan darah O.
Oleh karena itu, harus waspada bagi yang golongan darah O jika menemukan ular ini.
"Mereka berbisa, tapi bisanya berpengeruh ke beberapa orang saja yang memiliki golongan darah O, yang bukan O aman," katanya.
Disebutkan juga bahwa bisa ular cincin emas tidak terlalu mematikan seperti ular kobra. Namun, tetap gigitannya sangat menyakitkan.
• Hati-hati, Ular Welang Ternyata Menularkan Virus Corona ke Manusia, Riset Terbaru Menunjukkan
"Walaupun berbisa tidak mematikan seperti kobra, namun harus hati-hati dengan ular ini karena gigitannya sangat menyakitkan," katanya.
Jika, terkena gigitannya, Panji menyebut tak ada obatnya karena di Indonesia tidak ada antibisanya. Hal itu bergantung pada daya tahan tubuh orang yang kena gigitannya.
"Jika digigit ular cincin emas itu tidak ada obat kecuali daya tahan tubuh kita sendiri, berarti kita harus fit kalau sampai terkena gigitan ular ini, biasanya bisa sembuh sendiri, ini anti biasanya enggak ada," katanya.
Lalu, apa perbedaan lainnya dengan ular welang dan ular weling? Panji Petualang juga menjelaskan, dari karakter fisiknya.
Menurutnya, ular weling memiliki ekor lancip atau runcing dan biasa ditemukan di bawah atau bukan di atas pohon.
"Jika melihatnya warnanya kekuningan, kemudian, hitam, kekuningan, hitam dan ada di bawah itu bisa dipastikan adalah ular welang. Kalau misalkan hitam putih hitam putih dengan ekor lancip seperti cincin emas ini itu bisa dipastikan ular weling," katanya.
Pada vlog pribadinya yang diunggah pada 4 April 2018 berjudul 'Ini Dia Ular Berbisa yang Lebih Mematikan dari Cobra', Panji Petualang juga menjelaskan terkait perbedaan ular welang dan weling.
Menurutnya, ular welang itu memiliki ekor tumpul. Kemudian warna belang hitamnya menyambung sampai perut ular.
Sementara itu, ular weling warna belang hitamnya tak sampai perut. Perutnya justru bewarna polos.
"Bedanya ular welang dan weling dari ekornya. Ekor welang tumpul, ekor weling lancip, warna hitam putihnya, bagian perutnya polos, kalau welang hitamnya melingkar sampai bawah," katanya.
Penjelasan Panji Petualang terkait ciri fisik ini juga sesuai dengan yang disampaikan peneliti reptil dan amfibi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy, seperti yang dimuat Kompas.com
Pertama, ia menyebut pola belangnya memang berbeda. Ular welang, warna hitam putih atau hitam kuning sampai ke bagian perut, sedangkan ular weling warna hitam putihnya hanya sampai punggung, dan perutnya putih.
Kedua, sesuai juga dengan kata Panji, bahwa bentuk ujung ekor ular welang tumpul, sedangkan ular weling justru lancip.
Ketiga, ciri lain yang disebutkan Amir adalah welang memiliki tanda V terbalik pada kepalanya, sedang ular weling tak memiliki tanda tersebut.
Peneliti LIPI itu juga menyebut, ular welang jarang ditemukan manusia karena kebanyakan hidup di area hutan. Berbeda dengan ular weling yang justru lebih banyak ditemukan di permukiman dan persawahan.
Ia juga menyebut, kedua ular itu sangat berbahaya karena memiliki bisa yang tinggi.
"Kalau didekati orang pun, mereka (weling dan welang) tidak lari karena punya bisa yang tinggi sehingga tidak takut dengan manusia," katanya.
Oleh karena itu, jangan sampai mendekati dan mengganggu ular tersebut agar tak terkena gigitan mematikannya.
Hal ini juga sempat disampaikan Panji Petualang dalam vlog yang dilansir sebelumnya. Ia menyebut, kedua ular itu sangat berbahaya.
"Racunnya sama aja karena satu kerabat, satu family," katanya.
Pada video itu, Panji juga menjelaskan soal ular weling yang ditemukannya. Ia menyebut, bisa ular yang ditemukannya itu enam kali lebih mematikan dari ular kobra.
"Bisanya enam kali lebih mematikan daripada kobra," ujarnya.
Menurutnya, karakternya tak seagresif ular kobra, tapi gigitannya bisa menyebabkan kematian.
"Walaupun tergolong ular yang tidak agresif seperti kobra, lebih santai lebih kalem, tapi satu gigitannya bisa membunuh manusia dalam hitungan hari," kata Panji Petualang.
Ia juga menjelaskan, jika terkena gigitannya tak akan merasakan sakit dan perih, tapi bisa mengantuk hingga meninggal dunia.
"Efek gigitannya seperti obat bius, enggak merasa sakit enggak perih enggak pegel, tiba-tiba korban mersa ngantuk dan bobo selamanya," katanya.
Lebih Jauh tentang Ular Weling
Pada vlog-nya yang diunggah pada 22 Agustus 2019 berjudul 'Ular Weling Tewaskan Satpam di Tangerang/Yuk Kenali Ular!', Panji Petualang menjelaskan lebih jauh tentang ular weling.
Perlu diketahui, ular weling atau bungarus candidus termasuk dalam suku atau golongan Elapidae.
Menurut Panji Petualang, ular berbisa itu masuk ke dalam keluarga besar ular kobra.
"Ular weling jenis Bungarus spesies, Bungarus adalah keluarga ular golongan Elapidae yang masuk dalam keluarga besarnya kobra, hanya mereka berbeda spesies," ujarnya.
Di antara ular Elapidae, ular weling termasuk pasif dan cenderung jinak. Berbeda dengan ular king kobra yang sangat agresif.
"Di antara jenis elapidae, mmang jenis bungarus termasuk ular yang pasif, tidak seperti king kobra yang sangat agresif, bugnarus cenderung jinak," kata Panji Petualang.
Namun, tetap saja ancaman gigitan ular berbisa itu tak bisa dielakkan.
Apalagi jika ular weling merasa terusik atau terancam.
Saat sang ular berada dalam kondisi terancam, maka akan lansgung melakukan gigitan.
"Namun ketika mereka merasa terusik dan terancam, mereka tak akan segan menggigit," katanya.
Panji Petualang menyebut, ular weling memang sulit ditebak. Ular tersebut disebut nyaris mirip dengan ular paling mematikan di dunia, yakni ular laut.
"Ular weling, berbisa namun pasif, aktif di malam hari, hampir mirip ular paling mematikan di dunia yaitu ular laut, namun merek asulit ditebak," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/doa-bersama-hadi.jpg)