EKSKLUSIF- Disperindag Garut: Aneh Gula Rafinasi Langka Tiap Awal Tahun, Industri Dodol Terancam
Bidang Perdagangan Disperindag Kabupaten Garut, Erwin Rianto Nugraha, mengakui stok gula rafinasi sebagai bahan baku dodol, menipis
Penulis: Firman Wijaksana | Editor: Tarsisius Sutomonaio
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana
TRIBUNJABAR.ID, GARUT- Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Garut, Erwin Rianto Nugraha, mengakui stok gula kristal rafinasi di semua distributor gula rafinasi di Kabupaten Garut sudah sangat tipis.
Akibat kelanggaan gula rafinasi, ribuan perajin dodol di Kabupaten Garut terancam kehilangan pekerjaan. Gula rafinasi adalah bahan baku makanan khas yang manis dan legit itu.
Tanpa adanya pasokan baru gula rafinasi, diperkirakan industri dodol yang merupakan ini makanan khas ini hanya akan bertahan satu atau dua minggu lagi.
Sebagian distributor gula rafinasi, kata Erwin, bahkan sudah tak lagi memiliki stok. Namun, ia mengaku tak bisa berbuat banyak untuk mengatasi hal ini.
"Kewenangan masalah ini (stok gula rafinasi) ada di pemerintah pusat. Kami juga sudah konfirmasi ke Kemendag dan Pemprov Jabar. Ternyata betul stok gula ini menipis, bahkan hampir hilang," kata Erwin saat ditemui di kantornya, Rabu (5/2/2020).
Erwin bahkan menyebut stok gula rafinasi di Surabaya sudah mulai hilang. Stok yang ada di Garut dan Kuningan berdasarkan konfirmasi ke Pemprov Jabar hanya tersisa untuk tujuh hari ke depan.
• EKSKLUSIF: Ratusan Pabrik Dodol Terancam Tutup, Stok Gula Rafinasi Hanya Cukup untuk Seminggu
• Inilah Sosok Abah Cijeungjing, Pria yang Diantar Istri untuk Nikah Lagi, Pernah Temui Habib Rizieq
"Kedua daerah ini (Garut dan Kuningan) notabene punya banyak IKM di bidang makanan dan minuman. Gula jadi salah satu bahan baku utama," ujarnya.
Pihaknya juga tengah mencari solusi agar para IKM masih bisa melakukan produksi. Namun gula rafinasi, kata dia, baru bisa tersedia sekitar tiga hingga empat pekan ke depan.
"Sekitar Maret prediksi saya baru bisa didistribusikan. Solusinya apakah pakai gula lokal dulu atau seperti apa masih kami cari. Jangan sampai mereka setop produksi," katanya.
Jika para IKM menggunakan gula putih biasa, kata Erwin, akan memberatkan. Harganya lebih mahal Rp 2.000 per kilogram daripada gula rafinasi.
Erwin menambahkan, dalam Permendag Nomor 1 tahun 2019 tentang perdagangan gula rafinasi, distribusi gula rafinasi memang semi tertutup.
Penyalurannya harus melalui koperasi atau distributor yang berbadan hukum dan beranggotakan para IKM. Penjualannya tidak bisa sebebas gula lokal.
"Jadi, tak bisa sembarangan dijual. Koperasi dan distributor hanya bisa menyalurkan gula rafinasi ini ke IKM yang jadi anggotanya. Tapi aturan dari pusat itu kurang sosialisasinya," ucapnya.
• Heboh Pengobatan Ningsih Tinampi, Mengaku Didatangi Malaikat dan Nabi, Akhirnya Didatangi Pemprov
• Persib vs Barito Putera, Robert Alberts Sebut Uji Duet Wander Luiz-Castillion Lawan Bek Asing
Langkanya gula rafinasi, kata dia, terjadi karena kuota impor tengah dibatasi. Jika keran impor dibuka, kemungkinan akan merusak harga pasaran gula lokal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/pembuatan-dodol.jpg)