Untuk Pastikan Candi atau Bukan, Tim Unigal Ciamis akan Turun ke Lokasi Batu Susun Rompe Butut

Universitas Galuh (Unigal) Ciamis minggu ini akan menurunkan tim ke lokasi batu susun di Blok Rompe, Desa

Untuk Pastikan Candi atau Bukan, Tim Unigal Ciamis akan Turun ke Lokasi Batu Susun Rompe Butut
tribunjabar/andri m dani
Batu Susun di Kawali Ciamis Diduga Candi, Ketua Dewan Minta Arkeolog Turun Tangan 1 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS - Universitas Galuh  (Unigal) Ciamis minggu ini  akan menurunkan tim ke lokasi  batu susun di Blok Rompe, Desa Sukaraharja, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis.

Tim yang terdiri akademisi (dosen dan mahasiswa) itu akan melakukan kajian  tentang batu susun yang oleh warga disebut Batu Susun Rompe Butut tersebut. Keberadaan batu susun Blok Rompe ini kini viral setelah ada warganet yang mengunggahnya di medsos.

“Dalam minggu ini juga tim akan turun ke lokasi batu susun di Blok Rompe tersebut,” ujar Rektor Unigal, Dr H  Yat Rospia Brata MSi kepada Tribun, Selasa (22/1/2020).

Yat yang juga pakar dan dosen sejarah di Unigal tersebut meyakini kalau batu susun di Blok Rompe di Desa Sukaraharja yang berbatasan langsung dengan Desa Cikupa Lumbung dan Desa Selasari Kawali tersebut terbentuk dari peradaban manusia tidak sekadar batu alam.

“Ada sentuhan peradaban.  Ada keterlibatan manusia. Tapi dari masa apa, itu yang harus dikaji,” katanya.

Tim Unigal tidak hanya mendata dan mengkaji keberadaan batu susun di Blok Rompe secara fisik tetapi juga menghimpun cerita rakyat, legenda, foklor yang diketahui warga sekitar maupun nyanyian yang berkaitan dengan keberadaan batu susun tersebut.

Dicari KPK, Lokasi Harun Masiku Masih Misteri Bahkan Istri Tak Tahu, Terakhir Kontak 7 Januari 2020

Batu Susun di Kawali Ciamis Diduga Candi, Ketua Dewan Minta Arkeolog Turun Tangan 2
Batu Susun di Kawali Ciamis Diduga Candi, Ketua Dewan Minta Arkeolog Turun Tangan 2 (tribunjabar/andri m dani)

“ Berbagai tradisi lisan yang berkaitan dengan keberadaan batu susun itu akan kami data. Biasanya keberadaan situs, selalu berkaitan dengan cerita turun temurun atau tradisi lisan yang berkembang di warga sekitar. Itu yang akan kami data, ada atau tidak,” ujar Yat yang juga Ketua Dewan Kebudayaan Ciamis tersebut.

Adannya anggapan atau cerita yang berkembang di masyarakat bahwa tempat itu angker mungkin saja itu sebagai upaya turun temurun dari karuhun agar keberadaan batu susun tersebut tidak diganggu, tidak dirusak, tidak diambil dan tetap lestari.

Selain itu juga mendata kemungkinan adanya bagian batu susun yang sudah diambil warga dibawa ke rumah masing-masing, mungkin digunakan untuk tungku, pondasi (tatapakan) rumah terutama rumah panggung.

Seperti waktu ditemukannya candi Brobudur, ternyata bagian batu sudah banyak diambil penduduk setempat dijadikan tungku, tatapakan rumah dan sebagainya yang kemudian dikumpulkan kembali.

Bila batu susun tersebut berupa candi atau situs, diyakini juga ada peninggalan lainnya di daerah sekitar sebagai suatu rangkaian kaitan sejarah.

Dalami Kasus Sunda Empire, Polisi Libatkan Budayawan dan Sejarawan

Apa yang dilakukan tim Unigal tersebut kata Yat anggaplah sebagai kajian awal secara akademis tentang keberadaan batu susun di Blok Rompe tersebut. “Tentunya terlebih dahulu kami akan berkoordinasi dengan Disbudpora Ciamis dan pemerintahan setempat baik itu tingkat desa maupun kecamatan,” katanya.

Sementara untuk memastikan apakah batu susun tersebut merupakan candi atau bukan, situs atau bukan menurut Yat haruslah berdasarkan kajian dari arkeologi misalnya dari Balai Arkeologi (Balar).

Kalau toh nanti dari kajian arkeologi memastikan bahwa batu susun di Blok Rompe tersebut bukan peninggalan sejarah, bukan situs atau bukan candi masyarakat  tidak perlu kecewa.

“Keunikan susunan lempengan batu susun tersebut bisa menjadi destinasi wisata. Apalagi keberadannya yang berlokasi di lembah tebing dengan latar depan hamparan sawah jelas menjadi view yang indah dan menakjubkan. Tinggal pemerintah mempersiapkan infrastruktur, misalnya jalan setapak yang nyaman untuk menuju lokasi batu susun,” saran Yat.

Prostitusi Anak di Bawah Umur di Penjaringan Jakut, Dipaksa Layani 10 Pria Sehari, Upah Kecil

Penulis: Andri M Dani
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved