Tonic Immobility, Kondisi yang Menyebabkan Korban Perkosaan Tak Dapat Berteriak dan Melawan

Kritik yang paling sering terdengar adalah: Jika memang tidak mau menerima tindakan seksual, kenapa tidak melawan, meronta, atau berteriak?

Tonic Immobility, Kondisi yang Menyebabkan Korban Perkosaan Tak Dapat Berteriak dan Melawan
ISTIMEWA via tribun jambi
Ilustrasi pemerkosaan 

TRIBUNJABAR.ID - Saat ada informasi ataupun berita mengenai kasus pemerkosaan atau pelecehan, ada kritik yang sering ditujukan justru kepada korban kekerasan seksual.

Kritik yang paling sering terdengar adalah: Jika memang tidak mau menerima tindakan seksual, kenapa tidak melawan, meronta, atau berteriak?

Yang harus dipahami masyarakat, tidak melawan atau berteriak tidak sama dengan menerima perlakuan tersebut.

Mari mengenal "Tonic Immobility".

Dilansir dari Kompas.com, sejak lama pakar kekerasan seksual menyebutkan bahwa korban percobaan tindak pemerkosaan bisa mengalami keadaan syok.

Keadaan syok inilah yang membuat mereka sulit melawan pelaku penyerangan.

Ingat Keluarga Azhari? Kakak Beradik Itu Kembali Jadi Sorotan Setelah Ibra dan Medina Zein Ditangkap

Penelitian dari Swedia mengemukakan bahwa korban kekerasan seksual bisa mengalami kelumpuhan sementara yang disebut dengan "tonic immobility".

Dalam kondisi "tonic immobility", korban bahkan tidak bisa berteriak, apalagi melawan.

Dalam penelitiannya, tim ahli berbicara engan sekitar 300 wanita yang datang ke unit gawat darurat di Stockholm sekitar sebulan menjadi korban pemerkosaan ataupun percobaan pemerkosaan.

Dugaan Kekerasaan Seksual pada Mahasiswi Telkom University, Netizen Diminta Jangan Caci Korban

Hampir 70 persen korban mengaku mengalami kelumpuhan sementara dan 48 persen menjawab mengalami kelumpuhan yang lebih "parah" atau tidak bisa bergerak atau berbicara sama sekali selama kejadian.

Tim peneliti juga menemukan bahwa wanita yang mengalami kelumpuhan pada saat kekerasan seksual lebih beresiko menderita gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dan juga depresi.

"Tonic immobility selama perkosaan adalah reaksi yang sering dialami oleh korban yang menderita PTSD dan depresi parah," tulis peneliti.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu tim pengacara yang mendampingi korban perkosaan.

Jika pengacara pemerkosa berkilah korban hanya diam saja dan tidak bisa dianggap perkosaan, kini sudah ada bukti ilmiah yang bisa dijadikan alasan.

Mahasiswi Telkom University Tersiksa Jadi Korban Pelecehan, Sempat Tak Bisa Kabur dari Kosan Pelaku

Ini Kisah Pilu Mahasiswi Telkom University yang Mengaku Jadi Korban Pelecehan Seksual Seniornya

Editor: Seli Andina Miranti
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved