Sempat Ingin Bunuh Diri, Tukang Tambal Ban Ini Bangkit Meski Harus Terus Menggendong Anaknya

Pria tukang tambal ban ini mengalami depresi dan stres karena harus bekerja dan mengurus anaknya Kasih Br Sitohang (2).

Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Ravianto
ferri amiril/tribun jabar
Krisman Sitohang (50) harus tetap menggendong anaknya yang masih balita setiap kali mendapat orderan 

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Krisman Sitohang (50) sebelumnya disebut Risman, sempat akan bunuh diri setelah ditinggal istrinya yang meninggal karena sakit.

Pria tukang tambal ban ini mengalami depresi dan stres karena harus bekerja dan mengurus anaknya Kasih Br Sitohang (2).

Krisman sempat pulang dari Cianjur ke Medan untuk mengurus jenasah sang istri.

"Saat istri meninggal, saya sempat ingin bunuh diri," kata Krisman Sitohang ditemui di bengkel tambal bannya, Selasa (26/11/2019). 

Krisman mengubur rasa depresi tersebut dan kini ia bangkit meski harus bekerja sambil terus menggendong anaknya.

"Saya harus bangkit, biarlah istri saya sudah tenang di sana, sekarang saya harus mengurus anak saya ini," kata Krisman.

Ia mengatakan, anaknya sehat namun penyakit yang sering menghinggapi anaknya adalah mencret karena bengkel cukup kotor dan berdebu.

"Kemarin baru sembuh dari mencret, mungkin karena ia sering main di bengkel," katanya.

Perjuangan Krisman Sitohang

Krisman Sitohang (50) harus tetap menggendong anaknya yang masih balita setiap kali mendapat orderan, menambal ban sepeda motor.

Putri semata wayangnya, Kasih Br Sitohang yang masih berusia 2 tahun 

Risman Sitohang harus menggendong Kasih karena dia khawatir keselamatan anaknya.

Bengkel tambal ban yang dikelola Risman ini memang ada di pinggir jalan raya.

Sejak ditinggal mati sang istri, Meldawati (38), Risman harus bekerja sembari merawat bayinya.

Alhasil ia terpaksa menggendong sendiri bayinya sambil bekerja menambal ban di Jalan KH Abdulah Bin Nuh tak jauh dari simpang tiga Rancagoong.

Risman mengatakan, istrinya meninggal pada akhir Maret lalu karena sakit.

Sudah lama ia tinggal di sebuah bengkel tambal ban di Kampung Rancagoong RT 02/06, Desa Rancagoong, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur.

"Saya ke Cianjur tahun 2014, tinggal menyewa gubuk ini Rp 300 ribu per bulan," ujar Risman ditemui di tempat tambal bannya, Selasa (26/11/2019) pagi ini.

Ia mengatakan datang merantau ke Cianjur karena terdesak karena situasi dan keadaan.

"Tadinya mau ke Kalimantan, ada adik di Cianjur ia menyuruh ke sini, " kata pria asal Tebing Tinggi Sedang Bedagai Medan Sumatera Utara.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved