Sepanjang 2018, 40 Persen Serangan Siber masuk Indonesia dari Malware, BSSN Lakukan Ini
BSSN melalui Indonesia Honeynet Project (IHP) menggelar seminar dan workshop meningkatkan kemampuan deteksi dini dan koordinasi di Kampus Telkom Unive
Penulis: Mumu Mujahidin | Editor: Theofilus Richard
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mumu Mujahidin
TRIBUNJABAR.ID, SOREANG - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggandeng perguruan tinggi, komunitas, dan lembaga untuk meningkatkan kewaspadaan situasi dunia maya (Cyber Situational Awarness) di masyarakat dengan meningkatkan kemampuan deteksi dini dan koordinasi.
BSSN melalui Indonesia Honeynet Project (IHP) menggelar seminar dan workshop meningkatkan kemampuan deteksi dini dan koordinasi di Kampus Telkom University (Tel-U) Bojongsoang, Selasa (12/11/2019).
Hadir dalam acara tersebut Deputi Bidang Identifikasi dan Deteksi BSSN Aries Wahyu Sutikno.
Aries menuturkan, ada dua jenis ancaman siber yakni ancaman fisik dan ancaman nonfisik.
Ancaman fisik merupakan serangan terhadap jaringan, sementara ancaman nonfisik berhubungan dengan manusia.
Dia menyontohkan, semisal paham radikal yang dapat dipelajari melalui internet.
Dengan membaca paham radikal di internet, seseorang akan mudah terpengaruh.
"Tanpa harus belajar di Suriah mereka langsung bisa mengoperasionalkan paham tersebut dengan melakukan berbagai cara semisal membuat bom, menyerang seseorang, mengancam orang per orang. Seperti yang dilakukan kepada Pak Wiranto itu pengaruh negatif," katanya.
• Makam Cut Nyak Dien di Sumedang Ramai di Hari Pahlawan, Sepi di Hari Biasa
Diakuinya, meski belum memiliki undang-undang khusus terkait hal itu, BSSN masih memiliki Perppu sebagai langkah antisipasi. Selain itu BSSN juga menjalin koordinasi dengan instansi terkait.
"Dan yang pasti kami juga menghimbau masyarakat agar sadar dalam penggunaan internet. Jadi jangan sembarangan, begitu dapat informasi diserap mentah-mentah. Nanti ada wadah yang menghimpun keluhan- keluhan masyarakat tentang apakah ini berita hoax atau bukan," tuturnya.
Aries menambahkan, tidak hanya radikalisme, ancaman atau serangan melalui siber ini juga terkait isu-isu ekonomi, politik, SARA, agama, dan lain sebagainya. Hal itu beredar di wilayah-wilayah kelompok radikal.
"Seperti di Poso, banyak isu-isu yang berkembang di Jawa Timur juga banyak. Jawa Barat juga banyak seperti mantan DI/TII juga, ada yang sudah sadar, ada juga yang belum dan sudah bergabung dengan kelompok baru. Jakarta juga banyak, NTB juga ada," tuturnya.
Oleh karena itu Aries berharap acara ini dapat menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan dan kapabilitas dalam bidang keamanan siber dengan terjadinya tukar pikiran, pengalaman, dan saling berbagi informasi antara akademisi, BSSN, IHP, dan peserta.
Direktur Deteksi Ancaman BSSN, Sulistyo, menuturkan kolaborasi ini untuk membangun kewaspadaan bersama.