PHK Massal di Jabar

Eksklusif Tribun Jabar: Order Sepi, Pabrik Tekstil di Jabar Mulai PHK Massal dan Merumahkan Pegawai

Pabrik di kawasan Bandung Selatan sudah merumahkan sebagian besar karyawannya. Dua di antaranya adalah pabrik tekstil ternama

Eksklusif Tribun Jabar: Order Sepi, Pabrik Tekstil di Jabar Mulai PHK Massal dan Merumahkan Pegawai
TRIBUNJABAR.CO.ID/HILMAN KAMALUDIN
ILUSTRASI --- Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap buruh di beberapa pabrik di Jabar tahun ini bukan hanya isapan jempol. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap buruh di beberapa pabrik di Jabar tahun ini bukan hanya isapan jempol.

Bahkan beberapa pabrik di kawasan Bandung Selatan sudah merumahkan sebagian besar karyawannya. Dua di antaranya adalah pabrik tekstil ternama di Kabupaten Bandung, yakni PT BJT dan PT UTI.

Saat Tribun mendalami informasi tersebut ke lokasi pabrik PT BJT di Dayeuhkolot, Senin (30/9), karyawan pabrik baru saja keluar untuk beristirahat.

188 Pabrik Garmen Gulung Tikar dan 68 Ribu Buruh Di-PHK di Jabar, Gara-gara Impor Tekstil Cina

Seorang manajer pabrik yang ditemui Tribun mengakui, perusahaan yang sudah berdiri sejak 30 tahun lalu itu telah merumahkan sebagian pegawainya. Sayangnya, ia enggan menyebut berapa jumlah pasti karyawan yang dirumahkan.

"Yang dirumahkan memang ada beberapa, mencapai ratusan. Tapi perusahaan tetap beroperasi," ujar pria yang enggan menyebutkan namanya itu.

Ia mengatakan, opsi merumahkan karyawan diambil untuk mengantisipasi sepinya order dari buyer. "Karena ordernya lagi menurun, jadi perusahaan melakukan efisiensi dengan merumahkan pegawai," ujar dia.

Seorang karyawan yang dirumahkan, Yaya (40), mengatakan, ia sudah dirumahkan sejak sebulan lalu. "Dirumahkannya selama dua bulan, sekarang baru sebulan. Tapi katanya mau dipekerjakan lagi bulan depan karena orderan pabrik sudah kembali normal," ujar Yaya.

Bayi Malang Dibuang di Depan Rumah Kontrakan di KBB, Polisi Masih Buru Pelaku, Diduga Orang Tuanya

Selama sebulan dirumahkan, ia masih mendapat upah pokok. Namun, upah pokoknya itu terbilang kecil untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. "Untuk mengisi waktu luang, saya jadi sopir ojek online (ojol). Dari siang sampai malam hari. Penghasilannya lumayan," ujar dia.

Jika PT BJT hanya merumahkan karyawannya, beda halnya dengan PT UTI yang berlokasi di Baleendah. Tribun sempat menyambangi lokasi pabrik pada Senin (30/9). Sejumlah spanduk berisi pengumuman terpampang di gerbang masuk, salah satunya memuat tulisan "Dijual/Disewakan".

Subhan (38), yang pernah bekerja di pabrik tersebut di bagian produksi pemintalan sejak 2012 hingga 2018, membenarkan bahwa pabrik tempatnya bekerja sudah tutup. Ia dan beberapa rekan kerjanya ikut terdampak dari tidak berproduksinya lagi pabrik tersebut.

Halaman
12
Penulis: Mega Nugraha
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved