188 Pabrik Garmen Gulung Tikar dan 68 Ribu Buruh Di-PHK di Jabar, Gara-gara Impor Tekstil Cina

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat mencatat sejak Januari 2018 hingga September 2019,

188 Pabrik Garmen Gulung Tikar dan 68 Ribu Buruh Di-PHK di Jabar, Gara-gara Impor Tekstil Cina
TRIBUN JABAR/FIRMAN WIJAKSANA
Eks karyawan PT Wintai Garmen, Kecamatan Solokanjeruk yang tergabung dalam PPB Kasbi melakukan unjuk rasa di depan Kantor Disnakertrans Kabupaten Bandung, Selasa (13/1). Para buruh menuntut pembayaran pesangon yang tak sesuai oleh pihak perusahaan. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID - BANDUNG - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat mencatat sejak Januari 2018 hingga September 2019, terdapat 188 perusahaan tekstil dan produk tekstil (TPT) di Jawa Barat yang gulung tikar dan merelokasi diri ke Provinsi Jawa Tengah.

"Hambatan kita adalah menghadapi kolapsnya industri manufaktur khususnya tekstil dan garmen yang tengah menghadapi ujian berat. Tercatat ada 188 pabrik garmen tutup, PHK 68 ribu pekerja lebih," kata Tim Akselerasi Jabar Juara untuk Bidang Ketenakerjaan di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat, Hemasari Dharmabumi, seusai acara Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate Bandung, Jumat (4/10/2019).

Hema mengatakan mayoritas perusahaan TPT di Provinsi Jawa Barat yang bangkrut dan relokasi ke wilayah lain karena dibukanya keran impor tekstil dari Cina.

"Dan mayoritas perusahaan garmen di Jabar yang gulung tikar itu berasal di wilayah Majalaya, Kabupaten Bandung. Sekarang sisa 340 pabrik dari awalnya di atas 400 yang ada," kata dia.

Selain karena dibukanya keran impor tekstil dari Cina, kata dia, faktor lain yang menyebabkan pabrik garmen di Jabar bangkrut karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi tekstil.

Laporan dari Bangkalan, Persib Bandung Siap Taklukkan Madura United, Ini Prediksi Susunan Pemainnya

"Jadi khususnya di Majalaya itu industrinya sudah tua dan bahkan di tahun 2019 ternyata masih ada yang pakai alat tenun yang dipakai oleh pabrik garmen di sana yang bukan mesin," katanya.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jabar telah melakukan berbagai upaya agar keberadaan pabrik tekstil yang ada saat ini tidak gulung tikar seperti kebijakan pengupahan.

"Kebijakan pengupahan sedang kita upayakan dengan menggalang seluruh stakeholder di bidang garmen, yakni perusahaan ada perkumpulan baru yaitu Perkumpulan Perusahaan Tekstil Jabar yang anggotanya sudah 340 pabrik garmen sudah masuk ke perkumpulan ini," kata dia.

Saat ini, lanjut Hema, pihaknya juga mendorong agar serikat pekerja perusahaan garmen memiliki keanggotaan yang cukup agar membuat Rembug Jabar untuk menyelamatkan industri tekstil dan garmen.

Dia menjelaskan Rembung Jabar untuk menyelematkan industri tekstil dan garmen tersebut bentuknya LKS Tripartit Sektoral.

Pemeran Video Mesum Pelajar SMK di Tuban Mengaku Dipaksa Berhubungan Badan Sambil Direkam

"Kemudian Pak Kadisnakertrans Jabar juga sudah melakukan upaya untuk membangun hubungan langsung dengan buyer yang selama ini tidak pernah tersentuh. Dan ini adalah hubungan pertama antara buyer dengan pemerintah tingkat provinsi di Indonesia, ya dari Jawa Barat," katanya.

Untuk mengawali hubungan langsung dengan buyer, katanya, pihaknya akan kedatangan 160 buyer internasional dari Amerika dari Eropa dan akan berkumpul akhir Oktober di Jakarta.

"Gubernur akan memberikan presentasi mengenai kebijakan ketenagakerjaan Jawa Barat pada buyer dan Pak kadis sudah melakukan lobi kepada buyer untuk tidak mudah mencabut atau memindahkan order karena bagaimanapun juga antara kita dengan provinsi lain, kita masih punya apa komparatif advantage, yaitu tenaga kerja yang skillful di bidang garmen kita tuh banyak," katanya.

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved