Konser Musik
Sebarkan Energi Kedamaian dan Keragaman Budaya Lewat Konser Harpa Nusantara
Alunan musik tarawangsa membuka Konser Harpa Nusantara dari Sisca Guzheng yang diadakan di Gedung Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang, Kota Bandung
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Alunan musik tarawangsa membuka Konser Harpa Nusantara dari Sisca Guzheng yang diadakan di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang, Kota Bandung, Senin malam (30/9/2019).
Malam itu Sisca Guzheng tampak begitu cantik dengan balutan gaun batik berwarna hitam. Ia duduk begitu anggun di belakang harpa Dewi Sri yang ukurannya cukup besar, berwarna keemasan.
Setelah alunan tarawangsa selesai, jari lentiknya perlahan memetik senar harpa mengikuti irama musik yang dibawakan.
Adanya Sisca Guzheng dibalik harpa membawa memori masa kecil dimana, alunan musik indah itu biasanya dimainkan oleh peri di negeri dongeng.
"Ketika Indonesia sedang banyak gonjang-ganjing tentang perbedaan budaya, agama, dan masalah lainnya saya tidak menemukan relevansinya ketika bermain musik. Ini sangat jarang ketika saya bertemu dengan teman-teman tradisi dan membawakan lagu apapun saya melihat mereka sedang menari," ujar Sisca.
• Hadirkan Konser Harpa Nusantara, Permainan dan Penampilan Sisca Guzheng Akan Berbeda
Konser harpa pertama di Indonesia ini menjadi sebuah pembuka kesadaran jika Indonesia begitu kaya akan budaya bagi penontonnya.
Dibuka dengan lagu Hariring Kuring, penonton dibuat bergidik merinding dengan suara sinden yang dipadukan dengan mini orkestra dan harpa.
Sebuah tampilan yang begitu megah dan mahal untuk didengarkan, padahal harga tiket konsernya hanya dibanderol Rp 75.000 saja.
"Saya ingin menampilkan lagu yang berbeda, bukan lagu pop tetapi lagu nusantara. Setiap saya bermain harpa, saya berdoa. Saya bisa memainkan musik tanpa mempertanyakan agamanya apa," ujar Sisca.
Desain panggung yang sederhana dengan kertas daur ulang dipercantik dengan tata lampu berwarna-warni membuat sentuhan panggung terlihat elegan dan mewah.
Aroma melati yang lembut dan menenangkan tercium harum di ruangan, membuat penonton terasa rileks, duduk santai sambil menikmati konser harpa nusantara.
Setiap lagu yang dibawakan membawa penontonnya untuk kembali menyadarkan akan lagu-lagu daerah yang belum tentu para milenial hapal betul bagaimana liriknya.
Lagu yang dibawakan begitu beragam, misalnya saja ada Marande Marampa (Toraja), Warung Pojok ( Cirebon), Kidung Wahyu Kolosebo (salawat Sunan Kalijaga), Hariring Kuring (Sunda), Nasonang Do Hita Nadua (Tapanuli), Selayang Pandang (Melayu), Yamko Rambe Yamko (Papua), dan Tanduk Majeng (Madura).
"Di konser ini saya memainkan empat harpa nusantara buatan dalam negeri dengan desain ornamen lokal. Ada motif Toraja, Mega Mendung (Cirebon), Kawung (Mataram), dan Dewi Sri (Dewi kesuburan di Jawa & Bali) yang dilukis motif tumpal oleh Anton Susanto dari Galeri Seni Popo Iskandar," ujar Sisca.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/sisca-guzheng-memainkan-harpa-di-konser-harpa-nusantara.jpg)