Senjata Pusaka Andalan RA Wiralodra & Tokoh Lain Disebut Tersimpan di Tempat Seperti Gudang Sampah

Benda-Benda Pusaka Indramayu Ternyata Disimpan Ditempat Sempit dan Tidak layak, Jupel: Seperti Gudang Sampah

Senjata Pusaka Andalan RA Wiralodra & Tokoh Lain Disebut Tersimpan di Tempat Seperti Gudang Sampah
tribunjabar/Handhika Rahman
Prosesi pencucian benda pusaka Cakra Udaksana Kiai Tambu yang merupakan senjata andalan Raden Bagus Arya Wiralodra oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Indramayu, Carsim di kediaman Dasuki di Desa Pekandangan, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Jumat (27/9/2019). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU - Museum Pancaniti Indramayu yang saat ini digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka lebih layak disebut sebagai gudang sampah.

Hal tersebut diungkapkan Juru Pelihara Benda Pusaka Indramayu, Dasuki saat ditemui Tribuncirebon.com di kediamannya di Desa Pekandangan, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Minggu (29/9/2019).

Dirinya menilai, tempat tersebut sangatlah tidak layak untuk digunakan sebagai wadah dari benda-benda pusaka yang memiliki nilai histori panjang sejarah Kabupaten Indramayu.

Disebutkan Dasuki, Museum Pancaniti memiliki ukuran bangunan yang sangat sempit, letaknya pun menyatu dengan pos pengawalan Satpol PP di Pendopo Indramayu.

"Ini sangat tidak layak, makanya saya bilang itu sebagai gudang tempat sampah," ujar dia.

Dirinya mencontohkan, benda-benda pusaka itu adalah milik orang-orang terhormat pada zamannya dahulu, di antaranya adalah benda pusaka yang menjadi andalan Raden Bagus Arya Wiralodra.

Ada lima benda pusaka andalan dari pendiri sekaligus pemimpin pertama Kabupaten Indramayu, yakni Cakra Udaksana Kiai Tambu, Gagak Pernala, Galak Handaka, Oyod Mingmang Latamosandi, dan Jubah Tamba Sewu.

"Coba saya tanya, ada tidak duanya benda-benda itu?" ujar Dasuki.

Benda Pusaka Indramayu Hari Ini Dibersihkan, Ada Senjata Andalan Raden Bagus Arya Wiralodra

"Kalau di tempatkan di tempat seperti itu sama sekali tidak menghargai sejarah, tidak sopan," lanjut dia.

Halaman
12
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved