Breaking News:

Kenaikkan Tarif Cukai Rokok akan Pengaruhi Produksi dan Akhirnya PHK

Rencana pemerintah menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen pada 2020 mendapat beragam reaksi dari berbagai kalangan

Tribun Jabar/M Syarif Abdussalam
Hasim Adnan yang juga anggota DPRD Provinsi Jawa Barat. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Rencana pemerintah menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen pada 2020 mendapat beragam reaksi dari berbagai kalangan, termasuk dari Hasim Adnan yang juga anggota DPRD Provinsi Jawa Barat.

Sebagaimana diberitakan, pemerintah memutuskan menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) alias cukai rokok sebesar 23 persen yang berlaku mulai 1 Januari 2020. Dengan begitu, harga jual eceran rokok pun naik menjadi 35 persen.

Menurut pria yang juga Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) DPRD Jabar ini, rencana kenaikan cukai rokok perlu ditinjau ulang. Mengingat ada bahaya lain yang mungkin tidak diperhitungkan oleh pemerintah.

Siap-siap, Cukai Rokok Naik, Ini Pertimbangan Menteri Keuangan Naikkan Cukai Rokok

Cukai Tembakau Akan Naik, DBHCT Pun Naik, Tapi Petani Tidak Akan Ada Keuntungan Berarti

"Saya perlu mengingatkan, meskipun pemerintah berdalih bahwa dengan menaikkan harga cukai rokok itu untuk mengurangi konsumsi, mengatur industrinya dan penerimaan negara, maka sesungguhnya pemerintah tengah mendatangkan bahaya lain," kata Hasim di Bandung, Selasa (17/9/2019).

Lebih lanjut Hasim menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh abai terhadap bahaya-bahaya yang akan ditimbulkan akibat kebijakan menaikkan tarif cukai hasil tembakau. Terlebih, menurutnya, sejauh ini terbukti bahwa dengan kebijakan tersebut tidak berhasil mencapai tujuan yang diinginkan pemerintah.

"Dari data yang saya telusuri, setiap kali tarif cukai rokok naik tidak lantas mengurangi jumlah perokok. Malah yang ada, jumlah perokok juga nambah," tambah Hasim.

Hasim menunjukkan data yang dirilis Badan Litbangkes Kemenkes RI tahun 2018 yang memperlihatkan peningkatan terus terjadi dari jumlah perokok di Indonesia. Dari jumlah perokok di atas 15 tahun sebanyak 33,8 persen terdapat 62,9 persen perokok laki-laki dan 4,8 persen perokok perempuan.

Sementara bila kenaikan tarif cukai tembakau ditujukan untuk mengatur industri rokok, yang terjadi malah banyak yang gulung tikar.

Hasim mengatakan bahwa sejak 10 tahun terakhir, data dari Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPS-I) melaporkan bahwa jumlah pabrik rokok yang masih bertahan tinggal menyisakan 754 pabrik. Padahal pada tahun 2006 jumlahnya mencapai 4.669 pabrik.

"Nah, dengan gulung tikarnya ribuan pabrik rokok, berdampak pada tingginya angka PHK. Terbukti berdasarkan data dari Federasi Serikat Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman (FSP RTMM) yang jumlah anggotanya berkurang sebanyak 32.729 orang selama enam tahun terakhir akibat PHK," tambah Hasim.

Kabupaten Bandung Terancam Kehilangan Rp 37 Miliar dari Bagi Hasil Cukai Tembakau, Gara-gara Ini

Bahkan pengumuman rencana pemerintah menaikan cukai rokok yang disampaikan Sri Mulyani, selaku Kementerian Keuangan pada Jumat (13/9/2019), dinilai sangat mengejutkan pasar. Hal ini berdampak negatif bagi pasar karena cukai rokok per batang tidak pernah meningkat di atas 20 persen dalam 10 tahun terakhir.

Data dari Bloomberg pada Senin (16/9/2019) pukul 09.39, katanya, saham PT HMSP dan GGRM masuk dalam deretan top losers. Sementara saham GGRM turun 18,10 persen ke level Rp 56.350, sedangkan saham HMSP turun 16,79 persen ke level Rp 2.330.

"Berpijak pada beberapa rasionalisasi yang tadi saya sampaikan, maka tidak boleh pemerintah menggunakan cara berbahaya ketika hendak mengurangi bahaya rokok. Sebagaimana berlaku kaidah ushul fiqh, addororu laa yuzaalu biddorori, yang berarti bahaya tidak dapat dihilangkan dengan bahaya lainnya," kata Hasim.

Selama ini pun diketahui, katanya, Jabar adalah salah satu produsen tembakau. Biasanya tembakau ditanam saat musim kering, dan secara berkelanjutan di sejumlah daerah di Priangan Timur. Hal ini pun tentunya akan memengaruhi para petani. (Sam/Adv)

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved