Daftar Daerah di Jawa Barat yang Berstatus Awas Kekeringan, Terancam Dilanda Kekeringan Ekstrem

Daftar daerah di Jawa Barat yang berstatus awas kekeringan. Terancam dilanda kekeringan ekstrem.

Daftar Daerah di Jawa Barat yang Berstatus Awas Kekeringan, Terancam Dilanda Kekeringan Ekstrem
Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Sejumlah warga melintasi persawahan yang mengalami kekeringan di Desa Cibiuk Kaler, Kecamatan Cibiuk, Rabu (11/9/2019). Kemarau panjang di Garut menyebabkan 2760 hektare lahan pertanian kekeringan. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Jawa Barat diprakirakan secara merata mengalami curah hujan terendah pada Dasarian II (11-20) September 2019, yakni 0-10 mm/das.

Padahal pada Dasarian I (1-10) September 2019, walaupun sebagian besar Jawa Barat memiliki curah hujan 0-10 mm/das, curah hujan 10-50 mm/das masih terjadi di Bogor tengah, Cianjur utara, dan Bandung Barat bagian barat.

Melalui update terbaru tersebut, Kecamatan Haurgeulis dan Kecamatan Kroya di Indramayu tercatat sebagai daerah dengan hari tanpa hujan (HTH) terpanjang di Jabar, yakni 146 hari, dan Kecamatan Cilamayakulon di Karawang dengan 136 hari tanpa hujan.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung pada BMKG, Tony Agus Wijaya, mengatakan berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Provinsi Jawa Barat pada 11 September 2019, sebagian besar wilayah Jawa Barat memiliki status HTH di tingkat awas, yakni kekeringan ekstrem karena tidak hujan lebih dari 61 hari.

Bahaya kekeringan ini, katanya, biasa terjadi di kawasan yang sudah tidak turun hujan selama lebih dari 61 hari. Hal ini bisa menimbulkan penipisan persediaan air sungai, danau, dan waduk, yang akhirnya berakibat krisis air bersih dan gagal panen.

"Prakiraan peluang curah hujan dasarian II September 2019 Provinsi Jawa Barat, umumnya di Provinsi Jawa Barat diprakirakan masuk dalam kategori curah hujan rendah lebih kecil dari 10 mm/das," kata Tony Agus Wijaya melalui ponsel, Rabu (11/9/2019).

Peringatan dini kekeringan melalui status awas kepada daerah yang tidak hujan berturut-turut lebih dari 60 hari dan berpotensi kekeringan ekstrem, katanya, diberlalukan kepada sejumlah daerah.

Status ini, katanya, berlaku di hampir seluruh kecamatan di Indramayu, Majalengka, Cirebon, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Sumedang, Sukabumi, Cianjur (Cidaun, Tanggeung, Kadupadak, Sindang Barang, Sukanegara, Takokak, Cikalongkulon, Pagelaran), Garut (Tarogong Kaler, Banyuresmi, Balubur Limbangan, Cilawu), Tasikmalaya (Indihiang), Bandung (Cicalengka, Ciparay), Pangandaran (Pangandaran, Cimerak), dan Bogor (Cileungsi).

Tony mengatakan BMKG hanya meninjau kekeringan dari faktor curah hujan, yang dampaknya disebut kekeringan meteorologis.

Kekeringan sendiri, katanya, memiliki dua faktor selain curah hujan, yaitu faktor sumber air di bawah permukaan tanah atau mata air dan sumber air di permukaan seperti sungai, danau, dan kolam.

"Kalau dua sumber air tadi masih ada. Maka hujan yang tidak terjadi berturut-turut, belum menjadi kendala. Jadi ada faktor lokal yang perlu dilihat di tiap daerah," kata Tony.

Hal inilah, katanya, yang membuat kondisi kekeringan di setiap daerah berbeda. Kalau danaunya punya mata air yang baik dan terus mengeluarkan air dari dalam tanah, belum tentu akan mengalami kekeringan walau terus-menerus tidak hujan.

Menurut Tony, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan semua instansi, termasuk PDAM, untuk menghadapi potensi kekeringan tersebut.

Informasi BMKG sendiri, katanya, disebarluaskan ke berbagai instansi pemerintah dan seluruh masyarakat melalui berbagai sarana.

Kekeringan Melanda Kota Dodol, PDAM Tirta Intan Garut Gilir Pasokan Air Bersih ke Pelanggan

Warga Diminta Waspada ! Kekeringan sampai Oktober, Penyebabnya Bukan Hanya Kurang Hujan

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved