Warga Diminta Waspada ! Kekeringan sampai Oktober, Penyebabnya Bukan Hanya Kurang Hujan

Bahaya kekeringan ini, kata Kepala BMKG Bandung Tony Agus Wijaya, biasa terjadi di kawasan yang sudah tidak turun hujan selama lebih dari 61 hari.

Warga Diminta Waspada ! Kekeringan sampai Oktober, Penyebabnya Bukan Hanya Kurang Hujan
Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Sejumlah warga melintasi persawahan yang mengalami kekeringan di Desa Cibiuk Kaler, Kecamatan Cibiuk, Rabu (11/9/2019). Kemarau panjang di Garut menyebabkan 2760 hektare lahan pertanian kekeringan. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung pada BMKG, Tony Agus Wijaya, mengatakan berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) Provinsi Jawa Barat pada 31 Agustus 2019, sebagian besar wilayah Jawa Barat memiliki status HTH di tingkat awas, yakni kekeringan ekstrem karena tidak hujan lebih dari 61 hari.

Sampai penghitungan akhir Agustus 2019, katanya, kecamatan dengan HTH tertinggi adalah Cilamayakulon di Kabupaten Karawang dengan 126 HTH, Rengasdengklok di Kabupaten Karawang dengan 124 HTH, dan Kecamatan Pebayuran di Kabupaten Bekasi dengan 124 HTH.

Bahaya kekeringan ini, katanya, biasa terjadi di kawasan yang sudah tidak turun hujan selama lebih dari 61 hari.

Musim Hujan di Jabar Diperkirakan Terjadi Mulai Akhir Oktober

2700 Hektare Lahan Pertanian di Kabupaten Garut Kekeringan, 5600 Hektare Terancam

Kisah Warga Pasirhalang Mandikan Jenazah saat Dilanda Kekeringan, Bingung Mau Bagaimana

Hal ini bisa menimbulkan penipisan persediaan air sungai, danau, dan waduk, yang akhirnya berakibat krisis air bersih dan gagal panen.

Tony mengatakan BMKG hanya meninjau kekeringan dari faktor curah hujan, yang dampaknya disebut kekeringan meteorologis.

Kekeringan sendiri, katanya, memiliki dua faktor selain curah hujan, yaitu faktor sumber air di bawah permukaan tanah atau mata air dan sumber air di permukaan seperti sungai, danau, dan kolam.

"Kalau dua sumber air tadi masih ada. Maka hujan yang tidak terjadi berturut-turut, belum menjadi kendala. Jadi ada faktor lokal yang perlu dilihat di tiap daerah," kata Tony saat dihubungi melalui ponsel, Rabu (11/9/2019).

Hal inilah, katanya, yang membuat kondisi kekeringan di setiap daerah berbeda.

Kalau danaunya punya mata air yang baik dan terus mengeluarkan air dari dalam tanah, belum tentu akan mengalami kekeringan walau terus-menerus tidak hujan.

Menurut Tony, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan semua instansi, termasuk PDAM, untuk menghadapi potensi kekeringan tersebut.

Informasi BMKG sendiri, katanya, disebarluaskan ke berbagai instansi pemerintah dan seluruh masyarakat melalui berbagai sarana.

Dalam kesempatan yang sama, Tony mengatakan dalam 10 hari pertama September 2019, curah hujan rendah (10-20 mm/das) diperkirakan terjadi di sebagian Bogor bagian barat, Cianjur utara bagian timur, sebagian kecil Purwakarta selatan, Bandung bagian barat dan timur, dan Garut bagian tengah.

Tony mengatakan pihaknya pun memberikan peringatan dini kekeringan dengan status Awas di daerah tidak hujan berturut-turut lebih dari hari yang berpotensi kekeringan ekstrim.

Hal ini terjadi di hampir seluruh kecamatan di Bekasi, Indramayu, Majalengka, Cirebon, Sumedang, Purwakarta, Karawang, Bogor, (Cileungsi, Cariu, Tanjung Sari, Jonggol), Sukabumi (Jampangkulon, Baros, Cikaso, Sumberjaya, Ciemas, Surade, Jampang tengah, Cikakak, Cisolok, Pelabuhan Ratu, Ciracap), Cianjur (Cidaun, Sukanegara, Tanggeung, Cibeber, Takokak, Kadupadak), Bandung (Cicalengka,Ciparay), Garut (Banyuresmi,Cibalong, Balubur Limbangan, Ibun), dan Tasikmalaya (Cikatomas). (Sam)

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved