Senin, 4 Mei 2026

Mahasiswa Baru Utama Dibekali Pendidikan Karakter, Nasionalisme, Proteksi Radikalisme & Terorisme

Sekitar 1600-an mahasiswa baru Universitas Widyatama (UTama) Bandung tahun akademik 2019/2020 mendapatkan pembekalan pendidikan . . .

Tayang:
Penulis: Cipta Permana | Editor: Dedy Herdiana
Tribun Jabar/Cipta Permana
Rektor UTama, Prof. Obsatar Sinaga memberikan materi terkait public speaking kepada ribuan mahasiswa baru tahun akademik 2019/2020 dalam kegiatan PPU 2019 di Aula Kampus Universitas Widyatama Bandung, Jalan PHH Mustopa, Kota Bandung, Selasa (3/9/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sekitar 1600-an mahasiswa baru Universitas Widyatama (UTama) Bandung tahun akademik 2019/2020 mendapatkan pembekalan pendidikan karakter, pemahaman nasionalisme serta proteksi terhadap paham radikalisme dan intoleransi dalam Program Pengenalan Universitas (PPU) 2019.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil sebagai salah seorang pemateri dalam kegiatan tersebut mengatakan, generasi Z atau yang berusia di bawah 24 tahun, memiliki kesempatan berperan besar dalam hal mewujudkan prediksi Indonesia sebagai negara adidaya pada tahun 2045 mendatang atau seratus tahun pasca kemerdekaan.

Dimana di tahun tersebut, Indonesia akan mampu menempati posisi keempat negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, meski saat ini, masih berada di peringkat 13.

"Indonesia sebagai satu-satunya negara yang 70 persen penduduknya usia produktif. Penduduknya bekerja, berkarya, dan berkreasi. Tidak ada lainnya di dunia. Maka sebagai bagian dari generasi Z menjadi generasi yang beruntung sehingga harus produktif dan kompetitif," ujarnya di Aula Universitas Widyatama, Jalan PHH Mustopa, Kota Bandung. Selasa (3/9/2019).

3.067 Mahasiswa Baru Unisba Jalani Prosesi Taaruf, Pengenalan Kampus dan Bentuk Soft Skill Mahasiswa

Ketua RT Sebut Mahasiswa S2 ITB yang Bunuh Diri Rajin Beribadah dan Jarang Bicara

Sudah 4 Mahasiswa di Bandung Bunuh Diri, Penyebabnya Diduga Depresi, Berikut Kenali Gejalanya

Gubernur yang biasa disapa Kang  Emil itu menuturkan, prediksi itu bisa terwujud jika Indonesia memenuhi beberapa kondisi, di antaranya menjaga kestabilan pertumbuhan ekonomi, peningkatan pembangunan infrastuktur, dan stabilitas keamanan nasional.

"Indonesia akan jadi negara adidaya kalau rakyatnya tidak suka bertengkar. Hari ini, persoalan kita mudah bertengkar karena hal-hal sepele, perbedaan pendapat kerap menempatkan kelompok saling berhadap-hadapan. Tak hanya urusan politik, urusan dukung-mendukung tim sepak bola pun bisa berujung hilangnya nyawa. Maka kalau mau jadi generasi peminpin, jadilah generasi yang tidak suka mencari perbedaan dalam persamaan tapi mencari persamaan dalam perbedaan," ucapnya.

Ia menjelaskan, karena adanya perbedaan pandangan, berpotensi akan memunculkan kebencian, hasutan, yang berujung pada  menimbulkan kerusuhan, bahkan peperangan.

Maka dari itu, sebagai digital native, generasi muda harus bisa menangkal sisi negatif internet. Sehingga era digital harus dimanfaatkan untuk hal produktif.

Di lain sisi, internet membuat banyak anak muda meghabiskan waktu dengan layar ponselnya. Di sana pula berseliweran hoaks dan disinformasi.

"Survei menunjukkan 40 persen warga Indonesia tidak bisa membedakan hoaks, disinformasi, dan misinformasi. Jangan sampai anak muda terpengaruh sisi gelap digital ini yang bisa sangat memengaruhi mental dan perilaku generasi muda. Saya berpesan agar saring dulu sebelum sharing, setiap informasi yang didapat," ujar dia

Pada kesempatan ini, Emil berpesan bahwa menjadi anak mahasiswa Jawa Barat harus memiliki empat dasar nilai yaitu, memiliki IQ (Intelegent Quotient) atau cerdas.

Kedua, berakhlak, someah hade ka semah, santun, sopan pada orang tua, itu namanya akhlak atau EQ (Emotional Quotient). Ketiga, SQ (Spiritual Quotient), dibuktikan dengan rajin beribadah, sebab menurutnya baik saja tidak cukup, maka harus baik dunia dan akhirat, dan keempat, PQ (Physical Quotient), memiliki kesehatan secara jasmani.

"Satu lagi, hati-hati juga dalam pergaulan. Ingat, Anda adalah siapa teman Anda, bergaul dengan orang saleh pasti kebawa saleh, bergaullah dengan orang pintar pasti kebawa pintar, kalau mau optimis bergaullah dengan Pak Ridwan Kamil, Insyaallah pasti optimis,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UTama, Prof. Obsatar Sinaga menambahkan, bahwa selain pemberian materi pendidikan karekter, para mahasiswa baru juga mendapat pembekalan terkait proteksi masuknya paham radikal bebas.

"Melalui program ini, kami ingin menanamkan budi luhur dan karakter building kepada mahasiswa baru. Supaya ketika mereka berinteraksi di kelas tetap memegang sendi-sendi sosial yang baik dan tidak berperilaku yang melanggar aturan," ujarnya.

Menurutnya UTama harus bebas dari paham radikalisme, dan tidak akan mentolerir bagi siapapun yang punya niat menyebarkan faham tersebut. Terlebih pihaknya menilai, bahwa radikalisme sangat bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila serta menjadi ancaman bagi keutuhan berbangsa dan bernegara.

"Tentu ini harus dihindari, apalagi jika ada yang mencoba menyusup datang ke sini dengan menyebarkan selebaran yang sifatnya provokatif, kami segera bertindak cepat dengan mengusir dan mengantisipasinya," ucapnya.

Oleh karena itu, salah satu upaya dalam melawan paham berbahaya tersebut, pihaknya memberikan pembekalan secara akademik dan nonakademik, mulai dari ideologi Pancasila, hingga hal-hal yang sifatnya ancaman bagi negara, seperti tentang radikalisme dan terorisme.

"Di kampus ini Insya Allah bebas dari faham radikal karena kami telah turut mengundang langsung Kepala BNPT Komjend Suhardi Alius sebagai salah seorang narasumber dalam PPU kali ini. Dan juga pihak BNPT sudah melakukan pemeriksaan dan memastikan mahasiswa kami bebas dari potensi dan berbagai bentuk paham radikalisme," katanya. (Cipta Permana).

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved