Opini

Generasi Millenial dan Peran Dakwah Ormas Islam

Hasil penelitian, ada 5 pendakwah yang banyak menjadi rujukan keislaman kaum milenial. Abdul Somad menjadi ustad paling banyak diikuti.

Editor: Kisdiantoro
tribunjabar/isep heri
ILUSTRASI ---Sejumlah remaja tengah melakukan kajian keislaman di Taman Dadaha Kota Tasikmalaya, untuk mengisi waktu di hari pertama Ramadan, Kamis (17/5/2018) Siang. 

Generasi Millenial dan Peran Dakwah Ormas Islam

Oleh Dr Lusi Andriyani

Ketua Program Studi Ilmu Politik dan Anggota Tim Peneliti FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta

Perkembangan kajian keislaman akhir-akhir ini semakin semarak, tidak hanya materi kajian yang berkembang, namun juga model dan pola penyajiannya yang semakin beraneka ragam.

Kemasan penyajian, materi kajian serta alat atau media yang digunakan memberi pengaruh pada akses generasi millenial yang mempunyai pola lebih pragmatis, cepat dan instan melalui narasumber yang mereka peroleh melalui media internet.

Robert Alberts Soal Performa Beckham Putra Saat Persib Bandung vs Perseru Badak Lampung

Hal ini memunculkan pertanyaan, bagaimana pandangan generasi millenial terhadap peran dakwah ormas islam?

Sehingga generasi millenial lebih memilih media internet sebagai acuan dan sumber kajian mereka dibandingkan dengan ustad yang berasal dari ormas islam seperti NU dan Muhammadiyah?

Generasi Millenial dan Minat Kajian Keislaman;

Generasi millenial disematkan bagi anak-anak yang lahir di era tahun 2000 dengan pola dan sikap yang lebih ekspresif, kreatif dan lebih menekankan sisi pragmatis atau simple dalam melihat permasalahan. Generasi ini lebih suka tantangan dan cepat menemukan hal baru yang mereka senangi alias cepat bosan.

Dengan karakter seperti diatas, maka sajian atau tontonan yang berupa informasi, hiburan maupun kajian keilmuan yang bersifat umum dan agama harus dinamis.

Tidak hanya materi saja melainkan juga metode pembelajaran serta media yang digunakan. Dengan dukungan teknologi yang semakin canggih, informasi ada di genggaman mereka. Semua informasi bisa diakses dengan mudah dimanapun dan kapanpun mereka mau.

Dari bulan Desember 2018 hingga Maret 2019, Tim Peneliti Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) melakukan penelitian di Perguruan Tinggi Negeri(PTN), Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), dan Perguruan Tinggi Kedinasan di tiga Provinsi, yaitu Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. 

ITB Empat Kali Kampus Terbaik Nomor 1 Versi Kemenristekdikti, UPI, IPB, dan Unpad Peringkat Berapa?

Penelitian yang mengusung tema ketahanan kampus terhadap aktivitas yang mengarah pada intoleransi dan ekslusivisme ini mengambil lokasi penelitian di ITB, IPB, STAN, STPDN, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Tangerang, dan Univesitas Muhamadiyah Tasikmalaya.

Penelitian tersebut menggunakan metode survei terhadap 450 mahasiswa semester awal dan akhir (80% Muslim dan 20% Non Muslim), wawancara mendalam dengan dosen dan pimpinan organisasi mahasiswa, serta Focus Group Discussion (FGD) dengan otoritas perguruan tinggi serta pimpinan organisasi mahasiswa dari delapan perguruan tinggi yang diteliti.

Hasil penelitian menunjukkan pandangan generasi millennial di kalangan Muslim tentang Islam pertama kali berasal dari keluarga.

Bagi generasi millenial yang lahir dari keluarga yang memeluk agama Islam secara otomatis menjalankan perintah agama Islam.  

Selain faktor keluarga, keinginan untuk melakukan kajian keislaman bagi generasi millenial juga didorong oleh kemauan sendiri untuk mempelajari islam.

Dari hasil riset tim FISIP UMJ terdapat 57,14% responden sangat tertarik untuk mempelajari Islam, 40,23% tertarik, 2,04% tidak tertarik (Riset FISIP UMJ, 2019). Sehingga, lebih dari 90% generasi millenial tertarik untuk mengkaji Islam.

Media kajian keislaman Generasi Millenial

Media apa yang mereka gunakan untuk mempelajari Islam? Pertanyaan ini menjadi penting apabila dikaitkan dengan figur yang dikenal oleh generasi millenial.

Berdasarkan hasil riset FiSIP UMJ 2019, Ustad Abdul Somad merupakan penceramah yang disukai (sebanyak 53,14%),  disusul oleh Hannan Attaki 6,28%, Adi Hidayat 4,97%, Emha Ainun Najib 4,45%, serta AA Gym 3,93% yang dijadikan rujukan pengetahuan Islam oleh generasi millenial.

Kelima ustadz tersebut tidak satupun yang secara tegas berafiliasi pada ormas Islam, seperti NU, Muhammadiyah, Persis dan seterusnya yang merupakan ormas-ormas keagamaan di Indonesia.

Media yang mudah diakses oleh generasi millenial seperti internet menjadi sumber rujukan kajian keislaman bagi generasi millenial. Sebanyak 31,94% responden mengakses website www.youtube.com sedangkan 6,81% lainnya mengakses www.nu.or.id (Riset FISIP UMJ, 2019).

Sikap mengambil yang mereka mau dan menolak yang mereka tidak sukai menjadi ciri dari generasi millennial tersebut. Hal tersebut disampaikan oleh Jaka (bukan nama sebenarnya) saat diwawancarai tim riset FISIP UMJ terkait dengan tema sumber kajian keislaman yang dia peroleh.

Jaka menyampaikan bahwa semua kajian keislaman itu baik sehingga dia akan mengambil yang baik dari kajian satu dan yang baik dari kajian lainnya. Tidak ada satu kajian khusus yang diikuti secara rutin dan runtut dengan guru yang tetap.

Jaka berpandangan yang sama dengan ormas Islam.

Saat ditanya terkait keikutsertaannya dengan ormas Islam tertentu, Jaka justru menjawab bahwa dia tidak berafiliasi kepada ormas Islam tertentu. Hal senada juga disampaikan oleh informan lainnya.

Temuan ini menjadi kunci penting bahwa pola kajian generasi millenial memang tidak terpaku pada satu guru atau ustadz tertentu yang mereka ikuti secara rutin sehingga membangun pemahaman yang utuh. Namun, kajian yang mereka ikuti justru bersifat parsial berdasar pada “asal suka” dan “sesuai kebutuhan mereka” dengan mengesampingkan keruntutan materi maupun kedalaman materi.

15 Universitas Terbaik di Jawa Barat Versi Kemenristekdikti, Kampus Negeri Hingga Swasta

Peran Dakwah Ormas Islam di era Generasi Millenial

Berdasarkan temuan terhadap sikap generasi millennial tersebut, Ormas Islam perlu memberikan perhatian khusus, terutama terkait dengan proses mendapatkan sumber kajian keislaman sehingga generasi millenial dapat memperoleh informasi secara utuh dan komprehensif.

Hal ini menjadi penting sebagai salah satu strategi untuk menangkal pemahaman keislaman yang sepotong-sepotong sehingga memunculkan bibit-bibit pemahaman eksklusivisme dan merasa benar sendiri di kalangan generasi millenial. Mengapa harus Ormas Islam?

Indonesia mempunyai banyak ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis dan seterusnya yang diharapkan dapat ikut andil mengawal generasi millenial untuk mendapatkan informasi kajian keislaman dengan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan.

Tidak munculnya nama-nama orang nomor satu di jajaran kepengurusan NU, Muhammadiyah, Persis dan sebagainya dalam pilihan generasi millenial sebagai sumber kajian keislaman membuktikan bahwa ormas-ormas Islam di Indonesia belum hadir bagi generasi millenial.

Ormas Islam merupakan bagian dari civil society berakar pada suatu bangunan pemikiran yang nantinya menjadi model manusia dan masyarakat (Hendro Prasetyo; 2002).

Sosok Viral, Ini Jibril Abdul Aziz Mahasiswa Aktivis Kampus Pengirim Video Mesum ke Orangtua Pacar

Civil society diharapkan mampu mensintesiskan kepentingan individual dan negara dalam ruang publik yang menjamin kepentingan individu dan tertibnya kehidupan umum.

Dalam hal sumber kajian keislaman bagi generasi millenial yang bisa dipertanggungjawabkan, maka ormas-ormas Islam hendaknya mengubah gaya dakwah serta metode dan alat yang digunakan mengikuti selera generasi millenial.

Dengan strategi tersebut diharapkan mampu menangkal paham eksklusivisme dan takfiri di kalangan generasi millenial.

Ormas-ormas Islam mempunyai potensi untuk berperan aktif menangkal eksklusivisme dan takfiri, dengan menyajikan sumber kajian keislaman bagi generasi millineal yang lebih  mudah diakses dan akuntabel.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved