Gotong Royong Warga Pegunungan, Sekolah Gratis, Semula Saung Kini Jadi Bangunan Permanen
Lebih dari lima tahun lalu, SMP Djuantika di Kampung Rancabelut, Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka
Penulis: Mega Nugraha | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna
TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG - Lebih dari lima tahun lalu, SMP Djuantika di Kampung Rancabelut, Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, menggratiskan segala keperluan sekolah para siswanya.
Djuantika, singkatan dari Ir H Djuanda dan Dewi Sartika. Dua pahlawan nasional asal Jabar. SMP itu satu-satunya yang ada di lembah pegunungan Masigit Kareumbi, Kerenceng hingga Serewen itu.
"Sekolah ini asalnya hanya saung di tanah seluas 7 tumbak. Atapnya pakai injuk, dindingnya pakai terpal. Yang belajar di sini awalnya 10 orang," ujar Kepala SMP DJuantika, Agus Akmaludin saat ditemui di sekolah itu, Jumat (23/8/2019).
Adalah Agus dan sembilan rekannya yang blusukan ke desa itu kemudian mendapati fakta bahwa banyak lulusan SD yang tidak melanjutkan sekolah ke SMP.Kebanyakan dari anak-anak itu berasal dari keluarga tidak mampu.
"AKhirnya pada 2011 kami membangun sekolah rakyat dengan fasilitas seadanya tapi mengacu pada kurikulum pendidikan nasional," ujar Agus. Jarak desa itu ke SMP sejauh 10 km di kota Kecamatan Cicalengka.
• Viral, Spot Foto Instagramable di Bantaragung Majalengka, Hamparan Sawah Bak Permadani
"Untuk menempuhnya biayanya sekitar 10 ribu lebih pakai angkota dan RP 30 ribulebih pakai ojeg," katanya.
Tahun lalu, SMP Djuantika sudah mendapat izin operasional dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung. Kini, sekolahnya tidak beralas dan berdinding terpal serta beratap injuk.

SMP DJuantika saat ini sudah berdiri dengan bangunan permanen sebanyak dua ruangan kelas.Siswa kelas 3 sekolah pagi di ruangan berukuran sekitara 7 meter persegi. Kelas 1 dan 2 masuk siang.
Bangunan permanen SMP DJuantika dibangun atas donasi yang diberikan warga desa itu beserta para guru.
"Pada 2015 kami membuka donasi untuk membangun ruang kelas. Pak Wagub Jabar Deddy Mizwar saat itu turut membantu iuran. Warga juga turut iuran dana hingga akhirnya bangunan ini berdiri," ujar Agus.
Dana yang terkumpul untuk memnbangun sekolah permanen ini mencapai RP 50 juta di lahan selua 7 tumbak. Lahan 7 tumbak itu dibeli oleh Agus dan rekan-rekannya dengan harga per tumbak Rp 1 juta.
"Sekarang siswanya sebanyak 113 orang terdiri dari kelas 1 hingga kelas 3. Biaya sekolahnya masih gratis, mulai dari SPP, seragam, batik, rompi hingga buku," ujarnya. Dananya berasal dari donatur perorangan, iuran warga dan bantuan operasional sekolah (BOS) swasta.
• Terkini Korban Miras Oplosan di Tasikmalaya, Sudah 2 Tewas, Begini Kondisi 6 Korban Lainnya
"Kami hanya ingin memastikan anak-anak disini mengenyam pendidikan," ujar Agus.
Roni (50), tokoh warga di desa itu membenarkan apa yang dikatakan Agus. Pentingnya pendidikan dasar bagi anak-anak, membuat warga turut bergotong royong membangun sekolah itu.