Gunung Ciremai Kebakaran, Ini Beberapa Dampak yang Dikhawatirkan Warga
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Gunung Ciremai baru-baru ini menjadi sebuah kekhawatiran sendiri dari sebagian besar warga.
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNJABAR.ID, MAJALENGKA - Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Gunung Ciremai baru-baru ini menjadi sebuah kekhawatiran sendiri dari sebagian besar warga.
Gunung Ciremai kebakaran ini setiap saat membuat warga cemas dan khawatir.
Apalagi, warga yang rumahnya berada langsung di kaki Gunung Ciremai.
Seperti beberapa warga dari Desa Argamukti, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.
Mereka mengkhawatirkan dampak yang terjadi kedepannya yang diakibatkan kebakaran di Ciremai.
Apalagi, Desa Argamukti merupakan desa yang berada langsung di kaki Gunung Ciremai yang dapat akses langsung menuju jalur pendakian via Apuy.
• Gunung Ciremai Terbakar, Hewan Liar Borpotensi Turun Gunung, Macan Kumbang Masuk Wilayah Majalengka
Seorang warga yang berada di Blok Babakan Kulon, Desa Argamukti, Ojo (56) mengatakan ia beserta keluarga khawatir dengan dampak kebakaran yang terjadi.
Ia menuturkan, kekhawatiran itu yakni kebakaran yang sedang terjadi di Gunung Ciremai merambah luas menuju kawah atau Welirang.
Apalagi, menurutnya kebakaran ini merupakan kebakaran terbesar dan terluas yang terjadi di Gunung Ciremai sepanjang sejarah.
"Jelas saya khawatir, takutnya kebakaran itu sampai ke welirang. Welirang itu kawah yang berada di dasar dari puncak Gunung. Jika itu sampai terjadi, dipastikan Majalengka beserta wilayah lain yang berada di sekitarnya akan hancur," ujar Ini saat ditemui Tribuncirebon.com, Selasa (13/8/2019).
Hal senada juga dikhawatirkan oleh warga lainnya, Uba (48).
Uba mengatakan, kejadian Karhutla di Gunung Ciremai dikhawatirkan akan mengganggu perkebunan miliknya.
Dikatakan Uba, kebakaran yang sudah masuk di hari ke-6 itu mengakibatkan pasokan air untuk kebun miliknya berkurang bahkan nyaris tak ada.
Meski sebelum kebakaran memang pasokan air sudah berkurang, menurutnya selama kebakaran pasokan air menuju perkebunan milik dirinya beserta warga makin parah.
"Mayoritas warga sini memiliki kebun, kalau kebun kami tak ada pasokan air, jelas mengganggu ekonomi warga. Saya sedikit sudah terkena dampak, pasokan air dari Gunung Ciremai sudah berkurang. Oleh karena itu, takut kedepannya perkebunan saya terganggu karena kejadian ini," ucap Uba.
Satu Titik Api Belum Teratasi
KEPALA Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Majalengka, Agus Permana mengatakan tidak ada pemadaman dengan helikopter, Senin (12/8/2019) hari ini.
Hal ini terkait cuaca yang kembali memburuk di sekitar Gunung Ciremai.
Agus menjelaskan, penyebab tidak adanya aktivitas pemadaman dengan helikopter dikarenakan di sekitar Gunung Ciremai kondisi angin cukup kenyang.
Selain itu, menurutnya awan juga cukup tebal dan gelap.
"Hari ini tidak seperti 2 hari kemarin yang memadamkan api dengan helikopter," ujar Agus saat ditemui Tribuncirebon.com, Senin (12/8/2019).
Disampaikan dia, oleh sebab itu untuk terus berupaya memadamkan api, pihaknya dibantu dengan aparat TNI dan Polri melakukan pemadaman secara manual.
"Terpaksa ya kami melakukan itu (pemadaman manual) karena dengan helikopter tidak dapat dilaksanakan," ucap dia.
Sementara itu, Agus mengungkapkan, pihaknya bersama Dandim 0617/Majalengka sudah mengusulkan agar kedepannya proses pemadaman dengan helikopter menggunakan kantong air yang kapasitasnya lebih besar.
Hal itu, menurutnya untuk lebih efektif dalam proses pemadaman yang semakin meluas tersebut.
"Saya rasa menggunakan kantong yang kapasitasnya 1000 liter belum efektif dalam pemadaman, makanya kami mengusulkan kepada atasan untuk mengganti kantong air dengan ukuran 4000 sampai 5000 liter," kata Agus.
Diketahui, hingga hari ini, Senin (12/8/2019) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) masih terjadi dengan luas wilayah yang terkena dampak di Kabupaten Majalengka sekitar 379 hektare.
Perluasan itu merembet ke Jalur Sadarehe yang berada di Desa Payung, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka.
Satu Titik Api Belum Padam
Berdasarkan pantauan Tim Apuy, satu titik api di hutan Gunung Ciremai belum padam hingga sore tadi (12/8), pukul 17.00 WIB.
Titik api teridentifikasi berlokasi di sebelah atas Blok Sanghiyang Rangka, jalur pendakian Apuy.
Tim Apuy yang berjumlah 20 orang merupakan bagian dari tim gabungan yang dibentuk untuk pemadaman api di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Sementara itu, tim pos taktis Sanghiyang Ropoh memulai kegiatan pemadaman pukul 06.00 WIB secara manual di 2 titik api yang berada di sebelah atas Blok Sanghiyang Ropoh dan api berhasil di padamkan pada pukul 15.00 WIB.
Memastikan operasi pemadaman berlangsung, Pos Komando (Posko) Palutungan melakukan pengiriman logistik secara estafet untuk tim pos taktis lapangan di Blok Sanghiyang Ropoh dan tambahan personel lapangan.
Sedangkan dukungan udara, helikopter yang mampu membawa 4.000 liter air dalam bucket ini belum secara optimal membantu pemadaman.
Helikopter jenis Bell 412 yang terbang pukul 17.00 WIB hari ini (12/8) tidak memungkinkan pengeboman atau water-bombing.
Kondisi cuaca memaksa helikopter mendarat dan siaga di helipad Palutungan.
Namun demikian, helikopter dioperasikan pada esok hari, Selasa (13/8). Pemadaman akan dilakukan pada pukul 08.00 - 11.00 WIB dengan memperhatikan faktor cuaca.
Selain terkendala angin yang berubah setiap saat, beberapa tantangan di hadapi personel pemadaman. Faktor kawasan terbakar yang berada di atas ketinggian menyulitkan untuk pemadaman secara manual.
Angin kencang memicu loncatan bara api ke tempat lain. Hal tersebut ditambah lagi sumber daya manusia dan sarana-prasarana terbatas.
Personel yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan TNGC sebanyak 125 orang (70 orang di lapangan dan 45 orang di Posko Palutungan) berasal dari unsur BPBD Kuningan, TNI, TNGC, Polri, BNPB, BPBD Provinsi Jawa Barat, MPGC Palutungan, Tim Apuy, masyarakat dan sukarelawan yang tersebar di pos lapangan, pos taktis lapangan, pos pantauan dan pos pengamanan logistik. BNPB dan BPBD Provinsi Jawa Barat terus melakukan pendampingan penanganan kebakaran tersebut.
Luasan kawasan terbakar mencapai 371 ha; kawasan yang terpapar berada pada ketinggian 2.600 - 3.078 m dpl.
Kebakaran yang terlihat pada awal mula terjadi di blok Gua Walet, puncak Gunung Ciremai, Kelurahan Argamukti, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Asap termonitor pada Rabu (7/8), pukul 15.10 WIB dari wilayah Argalingga, Kabupaten Majalengka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/warga-desa-argamukti-kaki-gunung-ciremai.jpg)